Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Hampir terbongkar


__ADS_3

Angkasa dan Clara masuk ke dalam kelas, mereka mengikuti perjalanan pertama dengan baik, tak ada masalah apapun yang terjadi, semuanya berjalan dengan semestinya.


Setelah jam pertama usai anak-anak tampak gembira karena jam kedua tidak ada gurunya, guru yang mengajar di kabarkan jatuh sakit.


Kelas yang tadinya aman dan damai kini berubah seperti pasar, keriuhan terjadi di mana-mana.


"Eh kalian sadar gak kalau anak baru itu mirip sama Angkasa vokalis band Amanda" ujar Laras menatap intens wajah Angkasa.


Hati Angkasa langsung berdegup kencang, gelagatnya menjadi aneh ketika telinganya mendengar perbincangan mereka.


"Apa-apaan ini, kenapa di antara mereka ada yang sadar, padahal kemarin semuanya baik-baik saja, apa penyamaran ku akan terbongkar secepatnya ini, ini masih belum dapat 1 Minggu, masa udah ketahuan aja" batin Angkasa yang tremor di tempat.


April menatap Angkasa yang tengah menunduk dengan seksama.


"Mana ada, dia gak mirip sama sekali dengan Angkasa vokalis band itu, namanya aja yang sama, orangnya jelas berbeda" bantah April, perubahan Angkasa yang terbilang draktis membuatnya tak percaya bahwa itu adalah Angkasa idolanya.


"Iya juga sih, Laras kamu lihat baik-baik anak baru itu, dia culun bego, kenapa kamu samain dia kayak Angkasa kita!" Shena menatap jijik Angkasa yang tidak ada keren-kerennya di matanya.


"Tapi dia mirip sama Angkasa, masa kalian gak sadar" Laras berusaha menyakinkan kedua temannya bahwa yang berada di kelas ini adalah Angkasa idola mereka.


"Kamu buta apa, lihat baik-baik siapa dia dan siapa Angkasa, mereka berdua jelas berbeda!" April tak habis pikir dengan jalan pikiran Laras yang malah membandingkan dua orang yang menurutnya beda level, bahkan mustahil mereka sama.


"Kamu kok ngegas sih, aku kan cuman bilang mirip bukan sama, mirip gak harus sama bukan!" celetuk Laras yang tak mau di salahkan.


"Enggak, mereka gak mirip sama sekali, kamu jangan sama-samain mereka lagi, mereka itu beda kasta!" pertegas April yang membuat mulut Laras bungkam.


"Iya, aku gak akan bandingin mereka lagi, puas kau!" Angkasa yang mendengar itu semua sangat-sangat lega, hampir saja dia ketahuan oleh teman sekelasnya sendiri.

__ADS_1


"Huft untung mereka gak percaya, kalau enggak aku akan kena masalah besar, aku harus lebih hati-hati lagi, penampilan ku yang seperti ini sudah mulai gak aman, aku harus ganti style agar tidak ada kecurigaan lagi" batin Angkasa yang bisa bernafas lega untuk sesaat.


Angkasa menyamar menjadi pria culun, ia menggunakan kaca mata dengan harapan gak bakal ada orang yang tau siapa dirinya, namun ia salah kalau ternyata masih ada orang yang menyadarinya tapi untung saja dia belum ketahuan total.


Selain mengenakan kaca mata saat di sekolahan, Angkasa juga mengganti warna rambutnya menjadi hitam, dulu ia jarang atau bahkan tidak pernah mengganti warna rambutnya menjadi hitam, tiap bulan warna rambutnya sering di ganti-ganti, apalagi ketika akan perform, ia rutin mengganti warna rambutnya biar terlihat lebih keren, rata-rata semua foto baik di ig, Twitter, tiktok dan aplikasi dunia maya lainnya banyak foto-foto dirinya dengan style warna rambut yang berbeda-beda.


Ketika warna rambut Angkasa menjadi hitam seperti waktu kecil, ia terlihat berbeda, bukan Angkasa vokalis band Amanda yang terkenal.


Teeet


Teeet


Suara bel yang berbunyi dua kali berhasil melegakan perasaan Angkasa.


"Akhirnya bel juga, aku sudah tidak betah berada di sini, aku pengen cepat-cepat pulang" batin Angkasa yang merasa terancam.


"Sa ayo kita ke perpustakaan lagi, aku mau baca lanjutan buku itu" ajak Clara semangat.


"Clara" panggil seseorang yang menghentikan langkah Clara.


Clara berbalik badan menatap seseorang yang telah memanggilnya.


"Kamu mau kemana, kok sama dia?" Steven menatap asing ke arah Angkasa, ketika Angkasa pertama kali masuk ke sini ia tidak masuk sekolah di karenakan sedang sakit.


"Oh ini teman aku namanya Angkasa" Clara memperkenalkan Angkasa pada Steven, selain berteman dengan Jia, Clara juga berteman dengan Steven, mereka bertiga biasanya sering bersama.


Tatapan mata Steven masih sinis meskipun Clara telah menjelaskan tentang Angkasa padanya.

__ADS_1


"Kok aku gak tau ada anak baru di kelas, sejak kapan dia masuk ke sini?" sinis Steven yang terlihat tidak suka pada kedatangan Angkasa.


"2 hari yang lalu, kamu waktu itu kan sakit, gak bisa masuk sekolah bukan, sekarang ketinggalan berita kan jadinya" timpal Clara.


"Oh iya aku dengar-dengar Jia meninggal dunia, apa itu benar Clara?" Steven memastikan berita yang terdengar di telinganya sejak menginjakkan kaki di sekolahan ini.


"Iya stev, Jia meninggal dunia kemarin, dia di temukan tewas di lapangan" jelas Clara dengan wajah sedihnya.


"Kenapa Jia bisa meninggal, perasaan sebelum aku gak masuk Jia baik-baik aja, apa yang sudah terjadi sama dia?" terkejut Steven mendengar berita tentang temannya.


"Aku gak tau apa-apa, Jia gak pernah cerita apapun sama aku, tapi aku yakin Jia meninggal karena di bunuh, aku sudah tanya langsung sama Jia dan benar ada orang tega yang sudah bunuh dia" Steven semakin terkejut, tidak masuk selama 2 hari membuatnya ketinggalan berita penting yang menyangkut sahabatnya sendiri.


"Siapa sekiranya orang jahat yang sudah bunuh Jia, perasaan selama ini gak ada orang yang jahatin Jia, kenapa tiba-tiba Jia meninggal dunia!" shock Steven, menurutnya sangat tidak mungkin ada orang setega itu pada sahabatnya sendiri padahal selama ini Jia sangat tertutup dengan dunia luar.


"Aku gak tau stev, aku sama Angkasa lagi mau cari tau siapa tersangkanya, Jia bilang kalau kita mau tau siapa pelakunya, kita harus cari tau dulu alasan kenapa dia menjadi anak introvert" Steven tampak berpikir keras, teka-teki yang di berikan Jia amat sulit untuk di pecahkan.


"Apa alasannya, aku kenal Jia saat dia udah jadi anak introvert" Steven masuk ke SMA kebangsaan juga baru-baru ini, Clara mengenal Steven masih belum begitu lama.


"Aku juga gitu stev, kita mau nanya sama siapa lagi, Jia gak mau ngasih tau, aku gak tau harus apa" bingung Clara.


"Apa kamu gak punya informasi lain gitu?" Clara menggeleng cepat.


"Gak ada informasi apapun yang aku temukan, tapi aku di kasih buku harian Jia sama neneknya, buku itu berisi semua tentang keluh kesah Jia selama ini" jawab Clara.


"Kalau seperti itu mana buku itu, aku pengen lihat juga" tak sabaran Steven, ia punya harapan besar dari buku itu.


"Bukunya ada di perpustakaan, aku simpan buku itu di sana" sahut Clara.

__ADS_1


"Ayo kita ke sana, aku mau lihat buku itu" sudah tak sabaran Steven.


Clara dan Angkasa mengangguk, mereka bertiga berlari menuju perpustakaan.


__ADS_2