
Rev dan Clara tiba di lokasi, mereka langsung berlari menuju ruangan ICU.
"Di mana Gina?" Tanya Rev dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Gina udah di pindahin ke kamar mayat, bentar lagi pihak rumah sakit akan mengantarkan Gina ke rumah duka" jawab Bryan.
Tercengang, mereka berdua tercengang, kabar buruk itu benar-benar terjadi.
"Kita udah berusaha semaksimal mungkin agar Gina bisa selamat, tapi pada akhirnya dia ikutan pergi juga" Clara tertunduk sedih, perjuangannya bersama dengan kawan-kawannya hancur lebur saat mendengar berita buruk ini.
"Setidaknya kita sudah berusaha, jika alam tidak merestui apa lagi yang bisa kita lakukan. Kita memang bisa berencana tapi Allah punya rencana lain yang pastinya lebih baik dari ini semua walaupun menurut kita itu gak baik" timpal Rev.
Mereka tampak galau, bukan karena putus cinta namun karena gagal menyelamatkan orang yang namanya tercantum di buku misterius.
"Ayo kita ikut ngelayat ke rumah Gina, seenggaknya kita nganterin jenazahnya ke tempat pengistirahatan terakhirnya" ajak Bryan.
Mereka setuju, kaki mereka melangkah meninggalkan ruangan ICU. Mereka masuk ke dalam mobil dan mengikuti sebuah mobil ambulance yang melaju di depan.
Di keheningan malam suara sirine ambulance itu memecah keheningan, suka duka menyelimuti keluarga Gina yang baru saja kehilangannya untuk selamanya.
Tak lama kemudian mobil ambulance tiba di sebuah rumah mewah yang terletak di pinggir jalan.
Tangis duka menyelimuti keluarga Gina, saat jenazah Gina di keluarkan dari dalam mobil ambulance ibu Gina lagi-lagi jatuh pingsan, ia tak kuasa mendapatkan kenyataan buruk yang menimpa putrinya.
Orang-orang yang berada di sana membawa Tante Marissa ke dalam.
Clara menghindari kerumunan, ia menjauh dari sana agar pikirannya tidak semakin kacau dan dadanya tidak terus menerus sesak.
Clara duduk di bawah pohon rindang yang berada di samping rumah Gina.
"Clara" sapa seseorang berdiri di depan Clara.
Clara mendongak menatap orang tersebut yang tak asing di matanya. Sontak ia pun langsung berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Gina" terkejut Clara saat Gina yang telah di kabarkan meninggal kini berdiri di depannya dalam bentuk arwah bukan lagi manusia.
"Gina, Gina maafin aku, maaf aku sama yang lain gak bisa lindungin kamu hingga kamu meregang nyawa" Clara merasa bersalah lantaran tak dapat menyelamatkan nyawa Gina dari penjahat misterius yang mengintainya.
Gina menyunggingkan senyuman."Kamu gak perlu merasa bersalah apalagi minta maaf sama aku, aku malahan dengan begini merasa tenang, gak ada rasa sakit lagi yang aku derita, aku juga gak takut sama orang yang memang punya dendam sama aku"
Wajah Gina plong, seperti tak ada beban lagi yang ia sembunyikan, di hari kematiannya ia tak sedih sama sekali malahan dia terus tersenyum seperti orang yang mendapatkan kebahagiaan tiada tanding.
"Tapi Gina sekarang kamu emang bisa bilang kayak gini, tapi enggak dengan orang tua kamu, mereka pasti gak rela kehilangan kamu" timpal Clara.
Walaupun tidak mengalami secara langsung Clara dapat merasakan hancur dan sedihnya keluarga Gina, khususnya kedua orang tua Gina yang merawat dan membesarkannya hingga sebesar ini, namun sayangnya orang jahat telah melenyapkan putri tercinta mereka.
"Aku tau Clara, aku tau mereka sedih dan gak mau kehilangan aku, tapi ketahuilah satu hal kalau dengan begini aku tenang, dia gak akan ganggu aku lagi, dia sudah dapatin nyawa ku. Sekarang kita impas" sahut Gina.
Plong dan lega, itu yang di rasakan Gina saat ini.
"Gin aku gak tau siapa yang udah bunuh kamu dan apa masalah yang terjadi di antara kalian. Tapi yang jelas aku sama teman-teman ku akan cari tau dia sampai dapat, aku gak akan tinggal diam, sudah ada banyak nyawa yang telah melayang hanya gara-gara dia" ujar Clara.
"Silahkan, silahkan kalau kamu mau cari tau tenang dia, tapi aku yakin kamu tidak akan menemukannya" jawab Gina lalu menghilang tanpa aba-aba.
Tempat itu kosong, hanya Clara seorang yang berada di sana. Clara menghembuskan nafas, percuma dia mencari Gina karena ia yakin bahwa dirinya tidak akan pernah menemukannya.
Clara terduduk lemas di bawah mencerna baik-baik ucapan Gina.
"Apa maksud Gina, kenapa dia bilang kalau aku gak akan bisa temuin orang yang udah bunuh dia, apa mungkin orang itu berbeda dengan orang yang udah bunuh Dyera dan yang lain?" Menerka-nerka Clara.
Di bawah pohon rindang itu Clara mencoba memecahkan teka-teki itu.
"Dooor!" Teriak seseorang mengagetkan Clara.
"Iiih kamu ngagetin aku aja, bisa gak sih kalau dateng permisi dulu, kamu mau bikin aku jantungan apa!" Gerutu Clara memegangi dadanya yang shock.
Pemuda itu tertawa puas lantaran berhasil membuat Clara kaget. Usahanya tak sia-sia.
__ADS_1
"Iya maaf, aku kan gak sengaja, lagian ngapain kamu diam di sini sendirian, di sini gak ada orang loh. Jangan-jangan-
"Jangan-jangan apa!" Clara berkacak pinggang sambil mengeluarkan tatapan mautnya.
"Jangan-jangan kamu lagi ketemuan sama pacar gaib mu ya" tebak Aldo dengan serius.
"Gila kamu ya, pacar gaib lagi. Amit-amit aku punya pacar dedemit, lagian gak mungkin aku ketemuan sama orang di saat semua orang lagi berduka kayak gini, kamu kira aku udah gila" geleng-geleng kepala Clara dengan arah pikiran Aldo.
"Ya aku kan cuman nanya doang, gak perlu marah juga kali" jawab Aldo tanpa merasa bersalah sedikitpun yang bersarang di tubuhnya.
"Kamu ke sini sama siapa, sama Steven kan?" Kepala Aldo mengangguk, ia di kabari Steven bahwasanya Gina sudah meninggal, ia langsung bergegas meluncur ke lokasi sebelum jenazah Gina selesai di kebumikan.
"Iya, aku di kabarin sama Steven, tadi aku sama stev udah ke rumah sakit, tapi kata susternya Gina udah di pulangkan ke rumahnya, ya udah aku sama Steven langsung meluncur ke sini, untung aja ada alamat rumah Gina, kalau enggak aku sama Steven akan plonga-plongo di sana" jelas Aldo.
"Oh ya kamu ngapain di sini, sendirian lagi, awas nanti kesambet loh" tambah Aldo.
"Iiih apaan sih, gak mungkin aku kesambet karena setannya itu teman ku, mana mungkin dia tega bikin aku kesurupan" bantah Clara.
Aldo mengerutkan alis, baru kali ini ia mendengar bahwa Clara memiliki teman tak kasat mata.
"Emang setan mana yang jadi teman kamu?" Penasaran Aldo.
"Setannya itu resek banget, dia tinggal di jalan kelinci, sekarang orangnya lagi ada di depan ku" jelas Clara dengan begitu menghayati.
Ekspresi wajah Aldo langsung berubah, ia tau siapa yang Clara sebut setan.
"Tega banget nyebut aku hantu" muka Aldo langsung masam.
"Nah tuh kan ngaku kalau situ hantu" ujar Clara menertawai kebodohan Aldo.
"Sialan" umpat Aldo kesal sebab Clara berhasil menjebaknya.
Clara tertawa terbahak-bahak, hanya Aldo yang bisa membuatnya tertawa meski suasana hatinya tengah tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Udah ah jangan ketawa lagi, ayo kita ke depan, kita bantu mereka, jangan diam di sini nanti kamu ketempelan" ajak Aldo.
"Halah gak akan, paling kamu yang akan ketempelan" sahut Clara sambil berjalan mengikuti Aldo dari belakang.