Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Memutar balikkan fakta


__ADS_3

Teeet


Teeet


Suara bel istirahat berbunyi dengan nyaring.


"Udah istirahat, ayo kita langsung datangin gedung IPA, dan kalian berdua pastiin kalau geng centil itu gak ngikutin kita" titah Clara dengan tegas.


"Iya kita akan pastikan mereka gak akan buntutin kalian" jawab Reyhan.


Mereka berlima berjalan keluar dari dalam kelas.


"Geis liat mereka mau pergi, ayo kita buntutin mereka, kita kudu cari tau apa yang lagi mereka lakukan" ujar Shena tampak heboh kala melihat berlima mulai meninggalkan kelas.


"Iya kita harus cari tau hal itu, ayo buruan, kita gak boleh kehilangan jejak mereka" sahut April.


Mereka bertiga dengan perlahan-lahan ikut keluar dari dalam kelas membuntuti mereka.


"Mau kemana?"


Sontak mereka bertiga terkejut saat Reyhan dan Aryan tiba-tiba berdiri di depan pintu seperti menunggu kedatangan mereka.


"Iiih minggir, jangan halangi jalan kami!" titah April.


"Enggak, kita gak akan pergi, kalian pasti mau buntutin Clara, Steven sama Angkasa kan" tebak Aryan.


Mereka bertiga gelagapan, apa yang lagi mereka rencanakan semuanya hancur total dan dengan mudah anggota geng yang ingin mereka selidiki mengetahuinya.


"Enggak, apaan sih, gak ada kerjaan juga ngikutin mereka, emangnya mereka itu siapa, gak guna kita nyari tau tentang mereka" sahut Shena mengelak.


"Lagian mereka itu siapa, bukan artis juga sehingga penting amat buat kita selidiki" timpal April.


"Betul itu, kita gak mau nyelidiki mereka kok, kita cuman mau ke kantin doang" ujar Laras ikut membantu teman-temannya agar terlepas dari mereka berdua.


"Gak! kami gak percaya, kalian pasti punya niatan kan mau ikutin mereka bertiga, dan kami gak akan biarkan hal itu terjadi" pertegas Reyhan tak main-main.


"Iiiih iya kami ngaku, kami mau cari tau apa yang kalian lakukan, kami sedikit curiga dengan gerak-gerik kalian, sekarang katakan pada kami apa yang ingin kalian lakukan" perintah Shena berusaha untuk membuat mereka mengaku.

__ADS_1


Reyhan dan Aryan saling bertatapan untuk mengambil keputusan yang tepat saat ini.


"Udah kalian ngaku aja, gak usah sembunyiin apa-apa lagi dari kami, jujur aja" April mendesak mereka berdua agar mau mengaku.


"Kita gak lagi rencanain apapun, kita cuman ngumpul-ngumpul biasa, gak perlu ada kata pengakuan" jawab Aryan.


"Halah bohong, kalian pasti di suruh untuk tutup mulut kan mangkanya kalian ngeles" ujar Laras.


"Lagian apa yang kami lakukan penting amat buat kalian, sehingga kalian kepo banget sama rencana kami" jawab Reyhan.


"Ya jelas lah penting, kami itu curiga betul sama kalian semua, kami yakin ada apa-apanya di balik geng kalian itu" sahut April.


"Atau jangan-jangan, kalian pelakunya ya, kalian selama ini bergabung menjadi satu buat bunuh orang-orang selama ini" tuduh Shena menatap tajam mereka berdua.


"Wah kalian ini memang gak bener, dasar manusia berhati iblis, masa kalian tidak bisa memiliki rasa empati sama sekali, kalian gak mikir apa, apa yang kalian lakukan itu tindakan kriminal, kalian patut di penjara" sambung Laras mengeluarkan tatapan mautnya.


Mereka berdua panik kala satu geng centil itu membolak-balik fakta sehingga terlihat bahwa mereka yang menjadi tersangkanya.


"Eh apa-apaan ini, bukan kami pelakunya, malahan kami yang lagi nyari pelakunya" bantah Aryan keras dengan tudingan itu.


Aryan langsung panik kala sadar apa yang barusan ia katakan.


"Aduh gawat ini, mereka tau lagi, makin ribet ini urusannya" batin Aryan ketar-ketir dengan keberadaan mereka saat ini.


"Bodoh, kenapa Aryan malah ngasih tau mereka, kita kan di suruh buat rahasiain masalah ini, kenapa dengan mudahnya dia bilang sama musuh, makin runyam aja ini nantinya" batin Reyhan.


"Kalau boleh kami mau ikut juga dong, kami juga penasaran sama siapa yang udah bunuh Dyera dan satu gengnya itu" ujar Shena.


Laras terkejut dengan pemintaan Shena yang begitu membahayakan nyawa tersebut.


"Apa-apaan Shena ini, dia gak mikir apa kalau hal itu bisa ngebahayain nyawa, benar-benar gak habis pikir aku sama jalan pikirannya" batin Laras.


"Boleh ya kita ikut, kita akan bantu kalian juga kok" mohon April.


"Ngebantuin kita? kita itu malah curiga sama kalian, kita punya firasat kalau kalian orang yang udah bunuh mereka selama ini" ujar Aryan.


Mulut mereka ternganga, tudingan yang Aryan layangkan berhasil membuat jantung mereka cenat-cenut.

__ADS_1


"Betul itu, kita malah curiga sama kalian, kita masih belum tau pasti siapa dalangnya, tapi ada kemungkinan kalau kalian lah yang jadi tersangkanya" sahut Reyhan membela Aryan, biar bukan mereka aja yang bisa memutar balikkan fakta.


"Eh apa-apaan ini, kita bukan pelakunya, kita itu anak baik-baik, kita gak mungkin bunuh orang dengan cara yang sesadis itu, gini-gini juga kita masih punya hati nurani" bantah keras April dengan tudingan yang memberatkan geng mereka.


"Lagian kalau emang kita pelakunya, kita gak akan mau gabung dan nyari pelakunya sama kalian" timpal Shena mencoba untuk mencari aman.


"Bisa aja kan dalangnya bergabung sama kita dan dia pelan-pelan tau gerak-gerik kita, sehingga suatu saat nanti kalian bisa nusuk kita dari belakang" jawab Aryan licik.


"Tutup mulut kamu, kita gak kayak gitu, kita bukan penjahat, kamu jangan nuduh kami yang bukan-bukan" bantah Laras.


"Loh apa salahnya kita punya feeling kayak gini, kita kan gak ada yang tau siapa penjahatnya, bisa aja orang yang berada di dekat kami yang menjadi penjahatnya, tepatnya di depan kita sih" ujar Reyhan.


Mereka bertiga ketar-ketir, mereka tak mau di tuduh yang bukan-bukan seperti ini.


"Apaan sih kalian ini, kalian jangan mutar balikkan fakta, kalian pasti yang pelakunya bukan kami" April yang terus di desak kali ini kembali berusaha untuk mengembalikan keadaan.


"Gak mungkin kami pelakunya, kami itu anak baru di sini, kami sebelumnya gak pernah tinggal di sini, baru kali ini kami berada di kota Bandung lautan api ini" jawab Aryan.


"Itu bukan alasan, itu tidak bisa di jadikan sebuah alasan" bantah Laras.


"Loh kenapa gak bisa di jadiin alasan, orang kami aja gak tau seluk beluk tentang kota ini, kami baru masuk loh, gak mungkin kami yang bunuh mereka semua, bahkan kami gak tau siapa saja geng mereka itu, kami cuman tau-taunya mereka udah meninggal aja" jelas Reyhan.


Mereka terdesak, mereka sulit untuk mengembalikan keadaan seperti semula karena akal dua manusia itu begitu lincah dan licik.


"Iiiiihhhh bukan kami, bukan kami pelakunya, kalianlah yang jadi pelakunya, ayo ngaku!" desak April mulai geram dengan mereka berdua.


"Untuk apa kamu mengakui apa yang tidak pernah kami lakukan" jawab Aryan.


"Gak bisa gitu dong, kalian harus ngaku, kalian kan penjahatnya" ujar April tak tinggal diam.


"Bukan kami, kalian penjahatnya" tuduh Reyhan.


"Bukan kami, kalianlah yang penjahatnya" bantah Shena.


"Enggak, orang kalian penjahatnya" tutur Aryan.


"Iiih bukan kami" timpal Laras.

__ADS_1


Mereka berlima terus saja berdebat di depan kelas, di dalam kelas sudah tidak ada orang, semua orang sudah berangkat ke kantin dan tempat-tempat lainnya sehingga kelas kosong dan tidak ada yang mendengar perdebatan mereka.


__ADS_2