Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Misteri sosok misterius pembawa petaka


__ADS_3

Jantung Angkasa berdebar dengan kencang, grogi di tatap tanpa berkedip oleh sosok yang terus menebarkan senyum.


"Kenapa dia natap aku kayak gini, apa ada yang salah dengan ku" batin Angkasa tidak tenang.


Sorot mata tajam milik sosok


misterius itu terus jatuh pada Angkasa, senyum yang terukir di bibirnya tak kunjung pudar.


Detak jantung Angkasa memompa dengan kencang, tangannya basah karena peluh.


"Dia benar-benar gadis yang aneh" batin Angkasa menilai gadis itu dengan apa yang dia lihat.


Sontak senyum yang merekah di bibir gadis itu sirna, mimik wajahnya berubah total. Dari yang tadinya senang berubah menjadi marah, gadis itu juga menunjukkan tatapan tidak suka.


Angkasa gugup, tubuhnya di selimuti ketegangan, perubahan draktis sosok itu membuat dirinya seakan tercekik.


Ludah pahit Angkasa telan, mimik wajah sosok itu begitu terang-terangan menampilkan kebencian, kebencian yang begitu mendalam.


"Ada apa sama dia, kenapa dia natap aku gini amat, apa salah ku. Aku gak ngelakuin apapun kenapa dia tiba-tiba marah" batin Angkasa mulai ketakutan.


"Kau pembunuh!" Tuding gadis itu penuh penekanan.


Tuduhan itu bikin Angkasa tercekat, kalimat pembunuh yang meluncur keluar telah berhasil mengerutkan alis dan melototkan bola matanya.


"P-pembunuh? Apa maksud mu, aku bukan pembunuh!" Bantah Angkasa bergetar takut.


Satu demi satu kaki Angkasa mundur ke belakang, sebab kaki gadis itu pelan-pelan melangkah maju untuk menghampirinya, di sertai mata melotot tanpa kedipan sedikitpun.


Bibir Angkasa bergetar, kecemasan menghampiri kala menatap kuku-kuku panjang di tangan sosok tersebut.


"Dia mau apa, kenapa dia marah pada ku, salah ku di mana, mengapa soalah-oleh aku yang bersalah di sini" batin Angkasa ketakutan parah.


Kuku tangan gadis itu begitu panjang dan tajam, kuku tajam itu pelan-pelan ia dekatkan pada Angkasa yang terus mundur.


"Aku mohon pada mu, berhentilah, jangan dekati aku, aku tidak melakukan apapun, aku baru di sini. Aku bukan pembunuh, ku mohon lepaskan aku" titah Angkasa takut nyawanya melayang.


Jalan satu-satunya bagi Angkasa adalah mengalah dan merendah, apa yang di pikirkan dengan apa yang akan di lakukan oleh gadis itu tak dapat ia tebak, ia hanya bisa berupaya keras untuk berkompromi dengan gadis itu.


"Hentikan, jangan dekati aku, pergi kau!" Teriak Angkasa mengusirnya.


Di lembut kan gadis itu tambah ngelunjak dan makin berani saja, Angkasa kehilangan kesabaran, ia tak bisa melembutkan gadis itu lagi, cara kasar harus ia gunakan.


Di teriakin dengan keras bukannya berhenti gadis itu malah melangkah mendekati Angkasa yang terus mundur.


"Apa kau tuli, berhenti, pergi aku dari sini. Jangan ganggu aku!" Jerit Angkasa yang sudah gedeg.

__ADS_1


Tak ada respon, tanggapan sedikitpun tak ada, sosok misterius itu tetap melangkah seperti ingin menerkam Angkasa.


"Kenapa dia tidak mau dengar, kenapa dia masih tidak mau berhenti" batin Angkasa makin tak tenang.


Kepala Angkasa cenat-cenut, jantungnya berdetak dengan kecepatan di batas normal.


Senyum sinis terukir di wajah gadis misterius, di balik tatapan tajam terdapat sesuatu yang ia sembunyikan.


Angkasa mundur dengan ketakutan, kepalanya menggeleng ketika gadis itu terus mendekat di sertai tangannya.


Bruukkkk


"Aaaaaaaaahhhhh!" Teriakan keras Angkasa.


Tubuh Angkasa jatuh tak sadarkan diri dan tergeletak di tanah, setelah di cakar serta di dorong oleh sosok misterius.


Melihat Angkasa terkapar tak sadarkan diri, dengan luka gores di bawah mata, ujung hidung dan luka lebam di bawah dagu sosok itu tersenyum puas.


Tanpa iba sosok itu pergi meninggalkan Angkasa.


Angkasa membuka mata, menatap sekeliling tempat asing dan belum pernah ia kunjungi sebelumnya.


"Di mana ini, tempat apa ini, aku ada di mana, kenapa aku bisa ada di sini"


"Tadi aku ada di hutan, kenapa sekarang aku bisa ada di sini?"


Di kanan dan kiri depan dan juga belakang penuh dengan para murid, seragamnya berwarna biru dongker, rok selutut kotak-kotak campuran antara warna dongker, biru muda, putih dan juga hitam, di lengkapi pula dengan jas berwarna dongker.


Sekolahan yang Angkasa pijak bukan tempat ia menuntut ilmu, perbedaannya mulai dari seragam sekolah, bangunan sekolah pun ikut berbeda para muridnya juga ikutan berbeda.


"Hei tunggu, katakan pada ku di mana ini, kenapa aku bisa ada di sini?" Tanya Angkasa pada seorang gadis berkaca mata, di tangan kirinya memegang sebuah buku, sementara di tangan kanannya memegang ponsel. Mata gadis berkuncir satu itu menatap layar hp.


Angkasa mengerutkan alis, pertanyaan yang ia lempar tak di respon sama sekali.


"Kenapa dia diam aja, aku nanya loh, apa suara ku kurang keras" batin Angkasa.


"Hei siapapun kamu, tolong katakan pada ku di mana tempat ini, kenapa aku bisa berada di sini, ku mohon tolong jelaskan pada ku, aku butuh penjelasan mu" titah Angkasa.


Sedikitpun tak ada reaksi, mata gadis itu fokus pada layar hp, tak melirik Angkasa yang terus mengoceh.


Angkasa yang terus di kacangin mencoba untuk menggoyangkan tubuh gadis itu biar dia sadar dan bisa menjelaskan apa yang Angkasa tanyakan.


Namun keanehan malah menerpa Angkasa, Angkasa menatap kedua tangannya dengan terkesiap, pasalnya gadis yang berdiri di depannya tak dapat ia sentuh, tubuhnya menebus dan itu membuat Angkasa terdiam membisu.


"Kenapa aku gak bisa megang dia, ada apa dengan ku, kenapa aku bisa begini"

__ADS_1


Angkasa bertanya-tanya, ia tegang dan panik, orang yang ada di depannya tak bisa ia sentuh, ini adalah pertama kali baginya ia tak dapat memegang manusia.


"Jangan bilang...."


"Enggak, enggak enggak. Aku masih hidup, aku gak mungkin mati" ucap Angkasa takut pada dirinya sendiri.


Tak dapat menyentuh manusia lagi membuat Angkasa over thinking.


"Aku gak boleh mikir buruk dulu, aku harus pastikan terlebih dahulu kalau apa yang terjadi saat ini salah"


"Iya aku yakin pasti ada yang salah ini"


Kalimat yakin hanya dapat membuat Angkasa membantah pikiran-pikiran buruk, walau pikiran-pikiran buruk itu tak dapat ia singkirkan dari benak dan juga hatinya.


Angkasa bertanya pada semua orang yang berlalu lalang di sekitarnya, ia mencoba menghentikan mereka, mencoba berkomunikasi dengan mereka. Tapi lagi-lagi hasilnya sama, mereka tetap tak menghiraukan apalagi memberi tanggapan, seakan-akan mereka tidak melihat keberadaan Angkasa.


Angkasa tak menyerah, ia mencoba memegang mereka, tapi yang malah Angkasa dapatkan adalah kepahitan.


Orang-orang yang berlalu di kanan dan kiri tak dapat ia pegang, tubuh mereka layaknya angin.


"Kenapa aku bisa begini, apa iya aku sudah meninggal?"


"Gak mungkin, aku gak mungkin mati" teriak Angkasa kebingungan dan kesal dengan keadaan yang menyulitkan ini.


Angkasa tak terima jika benar ia telah tiada, ia belum siap berpisah dari semua orang yang ia sayangi.


Angkasa terduduk lemas di bawah, membiarkan tubuhnya di lewati oleh orang-orang.


Di tengah keramaian Angkasa di buat berkeringat dingin, ia terlihat layaknya orang yang sudah tak bernyawa, berinteraksi dengan manusia tidak bisa Angkasa lakukan, menyentuhnya juga tidak bisa. Angkasa ketakutan parah, takut jika mimpi buruknya terjadi.


Angkasa kembali bangun, mengumpulkan tekad lalu kembali meminta keterangan pada orang-orang, Angkasa tidak akan menyerah begitu saja.


"Tolong katakan pada ku, di mana aku ini, siapa aku dan kenapa aku bisa begini?"


"Beritahu aku kenapa kau tidak bisa melihat ku dan mengapa aku tidak bisa menyentuh mu?"


"Aku mohon beritahu aku"


"Tolong jelaskan pada ku, jangan pergi dulu, ku mohon jelaskan pada ku" teriak Angkasa mencoba menghentikan seorang gadis yang terus melangkah ke sebelah selatan.


Murid-murid di sekolahan itu menebus dan melewati tubuh Angkasa, Angkasa makin takut pada dirinya sendiri.


Angkasa mengacak rambutnya kasar, ia berubah layaknya orang gila yang tidak memiliki tujuan.


"Jangan bilang kalau aku memang sudah meninggal!"

__ADS_1


Kepala Angkasa menggeleng berkali-kali."Gak mungkin, gak mungkin ini terjadi, gak mungkiiiiinn!"


__ADS_2