Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Ketidakhadiran Bu Melati


__ADS_3

Mobil hitam merek Alphard milik Angkasa terhenti di sebuah sekolah SMA kebangsaan yang menjulang tinggi.


Mereka pun lantas turun, mendekati semua orang yang lagi berkumpul, khususnya Rev, Steven, Aldo dan Clara.


Nafas mereka tersengal-sengal, mereka sedari tadi kebut-kebutan di jalan agar tidak telat.


"Ini belum pada berangkat?" Tanya Aryan, mengatur nafas yang habis.


"Nunggu para guru, mereka belum datang, mereka lagi ada di perjalanan sebentar lagi juga mereka akan datang" sahut Rev dapat informasi lebih cepat di bandingkan yang lain.


Mereka pun menunggu di sana sebentar, benar saja jika para guru akan tiba dalam waktu yang tak lama, hanya memakan waktu sekitar 10 menit saja.


Pak Sudirman turun dari mobil, lalu mendekati Rev, salaku ketua OSIS."Giman Rev semua orang sudah berkumpul?"


Kepala Rev mengangguk."Sudah pak, semua murid sudah berkumpul di sekolah sejak tadi"


"Bagus" ucap pak Sudirman tak harus menunggu lagi.


Murid-murid sudah siap, di antara mereka bahkan ada yang berangkat paling pagi biar tidak ketinggalan bus.


Semua murid antusias dengan adanya camping, selama beberapa waktu lalu yang mereka dengar hanya berita kematian misterius yang perlahan-lahan menyingkirkan satu persatu teman-teman mereka.


Aktivitas sekolah terganggu, inisiatif sekolah untuk menggelar camping di sebuah hutan pun dapat di terima dengan baik oleh semua orang.


"Perhatian pada semua murid, kita akan segera melakukan perjalanan ke hutan, kalian sekarang masuk ke dalam bus masing-masing, rute perjalanan kita memakan waktu 7 sampai 8 jam" Pak Sudirman mengumumkan dengan lantang agar semua orang dapat mendengarnya.


Serempak kepala semua murid mengangguk, ini yang mereka tunggu-tunggu.


"Cepat sekarang kalian masuk ke dalam bus" suruh Pak Irwan, sang Wakasek.


Semua orang pun langsung masuk ke dalam bus sebelum ketinggalan, di luar hanya tersisa Rev dan para anggota OSIS.


"Pak apa kita akan berangkat sekarang?" Bu Suzan mengajukan pertanyaan.


"Iya, biar tidak terlalu lama di jalan, kita harus berangkat sekarang" jawab pak Sudirman.

__ADS_1


"Tapi pak Bu Melati belum sampai di lokasi, apa iya kita akan tinggalkan dia" Bu Sherly memikirkan nasib Bu melati yang belum tiba di lokasi padahal bus akan segera berangkat.


"Bu Melati bilang kalau dia gak bisa ikut karena jatuh sakit, tadi malam dia menghubungi saya. Kalian tidak perlu memikirkan Bu Melati, kita berangkat saja sekarang, Rev dan kalian semua masuk ke dalam bus sekarang, bus akan segera berangkat" perintah pak Sudirman.


Rev dan yang lain mengangguk patuh, mereka menuruti perintah pak Sudirman dan masuk ke dalam bus.


Rev mendekati bus yang tadi di masuki oleh circle-circlenya, ia mengambil duduk di sebelah Clara yang kebetulan kosong. Clara memang tak membiarkan orang lain duduk di sampingnya sebab kursi itu khusus ia siapkan untuk Rev.


Bus yang di tumpangi pun langsung menuju ke lokasi hutan yang akan mereka jadikan piknik dalam jangka waktu 1 bulan.


Waktu selama itu akan mereka habiskan di hutan.


"Clar Bu Melati gak ikut rombongan hari ini" bisik Rev di telinga Clara.


Bola mata Clara melotot sempurna."Kok Bu Melati gak ikut?"


Clara terkesiap, pengumuman kemarin menyatakan kalau semua guru di wajibkan ikut untuk membimbing mereka selama berada di dalam hutan.


Informasi ketidak sertaan Bu Melati membuat mereka bertanda tanya, apa yang membuat Bu Melati tak dapat ikut ke dalam acara yang sudah di siapkan oleh pihak sekolah, walau mendadak.


Clara terdiam, alasan Bu Melati tak bisa ikut karena sakit, tapi ada janggal di hati Clara.


"Bu Melati sakit dan gak bisa ikut piknik bareng kita. Tapi kenapa Bu Melati sakit bersamaan dengan namanya yang akan di jadikan target, dia sebenernya murni sakit atau..." Batin Clara bertanda tanya.


"Gak mungkin, gak mungkin penjahat itu bunuh Bu melati, masa sama yang lebih tua dia melakukan itu, aku yakin Bu Melati pasti baik-baik aja, dia gak akan kenapa-napa" batin Clara menentang keras pikirannya sendiri.


Clara terdiam, mikir keras alasan pasti Bu Melati tak dapat ikut ke dalam piknik yang akan mereka lakukan di sebuah hutan yang letaknya lumayan jauh.


Informasi terakhir yang ia ketahui kalau Bu Melati tak dapat ikut karena jatuh sakit, tapi kemungkinan ada hal lain yang membuatnya tak bisa ikut, namun dugaan itu masih belum valid.


Bus terus melaju, jarak antara sekolah dengan hutan yang menjadi tujuan mereka begitu jauh.


Waktu terus berputar, sudah 4 jam mereka berada di dalam bus tapi mereka belum sampai juga di tempat yang mereka tuju.


Drrt

__ADS_1


Drtt


Drtt


Suara handphone Rev berbunyi di saat suasana sedang sunyi.


Rev merongoh saku, mengambil hp lalu mengangkat panggilan tersebut.


"Halo ada apa pak?" Rev bertanya pada seseorang yang telah menghubunginya.


"Rev, Bu Melati di temukan meninggal dunia di rumahnya" sebut pak Sudirman di balik telpon dengan sangat panik.


Mata Rev terbelalak, mata yang tadinya ngantuk langsung terbuka dengan sempurna.


"K-kok bisa pak, kok bisa Bu Melati meninggal!" Terkejut Rev mendapat kabar buruk prihal Bu Melati.


Seketika semua mata tertuju pada Rev, ucapan Rev keras dan semua orang mendengarnya kini ia menjadi pusat perhatian.


"Bu Melati di temukan oleh saudaranya di rumah dalam keadaan yang sudah meregang nyawa, kini jenazahnya lagi di bawa ke rumah sakit untuk otopsi dan melakukan penyelidikan yang lebih lanjut" jawab pak Sudirman.


"Terus ini gimana pak, apa kita masih mau lanjut perjalanan atau balik lagi?" Rev meminta keputusan pak Sudirman, selaku kepala sekolah di tempat ia menuntut ilmu.


"Kita tetap lanjut perjalanan, kita sudah mau hampir sampai di tempat tujuan, gak memungkinkan bagi kita untuk pulang dan balik lagi, masalah Bu Melati kita hanya tinggal tunggu informasi selanjutnya aja" sahut pak Sudirman.


Rev hanya dapat mengangguk, keputusan ada di tangan pak Sudirman, ia hanya bisa menerima tak dapat menentang maupun menolak.


"Gimana di dalam bus, semuanya aman kan?" Memastikan pak Sudirman.


Rev mengangguk."Aman, semuanya aman pak, gak ada yang terjadi, semuanya lancar-lancar aja"


Lega hati pak Sudirman mendengarnya."Bagus, kalau begitu bapak tutup dulu, kalau ada masalah kamu hubungi bapak"


"Baik pak" sahut Rev.


Sambungan telpon pun terputus, percakapan selesai, namun panik dan tegang tetap terlihat di wajah tampan Rev.

__ADS_1


__ADS_2