
Angkasa dan kawan-kawannya masih sesekali mengobrol, banyak anak-anak yang duduk di dahan pohon yang telah tumbang bersamanya, mereka pada asik sendiri.
Rasa kantuk belum menyerang meski jarum jam terus berputar.
"Geis gimana dengan buku misterius itu, menurut buku misterius korban selanjutnya yang akan di jadikan sasaran adalah Bu Sulis" Angkasa membuka topik yang mengarah pada misi rahasia yang telah ia dan kawan-kawannya kerjakan dalam diam.
"Kita harus gimana ini, apa kita tolongin Bu Sulis atau enggak, secara nyawanya lagi terancam, kalau kita gak bertindak dia akan meninggal sama kayak yang lain" imbuh Angkasa meminta pendapat dari mereka.
"Kalau menurut aku Bu Sulis itu baik, dia sopan dan penyayang, tapi heran mengapa penjahat berseragam sekolah itu menjadikan Bu Sulis sebagai sasaran selanjutnya" tak habis pikir Aldo.
Banyak orang menilai sosok Bu Sulis sangat baik dan penyayang, jauh dari kata jahat. Tapi tetap aja ada orang jahat yang mengintai nyawanya.
Tak ada tanggapan lain selain dari Aldo, tatapan mereka kini semua terarah pada seorang guru cantik berusia 26 tahun yang tengah memarahi seorang murid habis-habisan.
Jarak antara mereka dan guru tersebut tak seberapa, teriakan, amukan dan kata-kata menyakitkan meluncur keluar dari bibir guru tersebut.
"Kamu ini gimana sih, kalau jalan itu pake mata, liat baju ibu basah kan jadinya, benar-benar gak becus, di suruh buat kopi aja gak tau, mau jadi apa kamu kalau terus kayak gini!" Murka Bu Sulis.
Wajah Bu Sulis menghitam, amarah ia lampiaskan pada seorang siswi yang tak sengaja menabraknya dan membuat kopi hitam jatuh mengenai baju putih yang Bu Sulis kenakan.
Murid yang di marahin hanya diam menunduk takut, membela tak bisa sebab ia merasa salah dalam hal ini, dia membiarkan dirinya di permalukan, di caci maki dan di hina-hina di depan semua orang yang menyaksikan percekcokan itu berlangsung.
"Kalau di pikir-pikir jangan deh, biarkan penjahat itu melakukan apa yang dia mau" ujar Rev.
__ADS_1
Rev melihat dengan mata kepalanya sendiri watak asli dari Bu Sulis yang selama ini terlihat manis dan anggunly, tapi sekalinya marah semua kata-kata busuk dan menyakitkan keluar tak peduli orang yang ia maki-maki akan sakit hati atau tidak.
"Setuju, dari awal kita memutuskan untuk diam saat penjahat itu menjadikan para guru sebagai sasarannya" setuju Rafael.
Kebencian mereka masih bersarang, mereka tak akan lupa dengan sikap buruk para guru ketika membahas mengenai kasus kematian misterius di sekolah.
"Guru-guru di sekolah itu songong banget, gak mau di kasih tau, mereka mau menang sendiri. Kita udah berupaya minta mereka bawa kasus kejahatan di sekolah ke jalur hukum tapi gak mereka dengarkan, alhasil banyak para murid yang menjadi sasaran penjahat berseragam sekolah. Kini penjahat itu berbalik arah dan menyerang para guru, mungkin aja setelah ada beberapa guru yang menjadi korban, hati pak Sudirman selaku kepala sekolah dapat lunak dan membawa kasus itu ke jalur hukum" harapan besar Reyhan.
"Semoga aja begitu, tapi kasihan sih kalau guru-guru di sekolah bakal menjadi korban dari kekejian penjahat berseragam sekolah" iba Steven.
"Halah gak perlu merasa kasihan, biarkan mereka yang kejam, jahat gak mau dengerin apa yang kita bilang jadi korbannya, biar mereka tau bagaimana rasanya hidup dalam ketakutan" bantah Aldo tak ada rasa iba sedikit.
Ketidak mauan pihak sekolah atas usulan yang mereka berikan membuat mereka kini gelap mata dan malah membiarkan apa yang terjadi.
Di hati mereka tidak ada niatan untuk menolong, amarah dan sakit hati yang ada di diri mereka membuat rasa iba menyingkir.
Anggukan serempak mengiringi obrolan.
Tatapan mata menatap lekat persetujuan antara guru dan murid yang masih berkepanjangan meski sang murid telah mengakui kesalahan, tak segan-segan sang murid meminta maaf berulang-ulang, herannya kata maaf itu tak di terima malahan di tolak mentah-mentah.
"Ini udah malam, waktunya kita istirahat, biar besok kita bisa mengikuti kegiatan yang di langsungkan di tempat ini" ujar Rev.
Mereka semua bangkit dari duduk, bergegas masuk ke tenda masing-masing untuk beristirahat.
__ADS_1
...•••...
Angkasa berjalan di sebuah tempat yang benar-benar asing, namun ia pernah mengunjungi tempat tersebut sebelumnya.
"Di mana ini, kenapa aku kembali ke sini, tolong aku, siapapun tolong aku" teriak Angkasa menjerit-jerit di tengah keramaian yang banyak sekali murid-murid berlalu lalang di kanan dan kiri.
Kepanikan menyerang pria kota vokalis band terkenal saat pertama kali menginjakkan kaki di tempat yang asing.
"Kenapa aku bisa masuk ke sini lagi, bagaimana caranya aku keluar, aku ingin keluar, aku tidak mau berada di sini, aku mohon siapapun tolong aku, tolong bawa aku keluar"
Teriakan keras Angkasa keluarkan, namun tetap tak ada yang mendekat dan menolongnya. Semua orang sibuk dengan apa yang mereka lakukan, tak peduli sedikitpun pada Angkasa.
Angkasa mencoba cari cara agar bisa pergi dari sana, ia tidak mau terjebak di tempat itu lebih lama lagi.
Saat hendak mencari jalan keluar tiba-tiba sesuatu menarik perhatian.
Angkasa membulatkan mata, menatap intens seorang gadis dengan rambut hitam terurai, mengenakan rok kotak-kotak selutut, baju putih yang di lapisi jas dongker, berjalan dengan wajah tanpa semangat.
"Dia, dia bukannya gadis misterius itu" Angkasa mengenali gadis yang berjalan lurus ke depan itu.
"Gak salah lagi, itu memang dia, jadi benar kalau sekolah ini miliknya dan aku bisa ada di sini gara-gara dia"
"Benar-benar sekate-kate dia memang, udah cakar wajah aku dia malah bawa aku ke tempat kayak gini, liat aja nanti apa yang akan aku lakukan, aku gak akan tinggal diam, aku akan beri dia pelajaran"
__ADS_1
"Enak aja dia mempermainkan aku, sampai aku kepikiran terus kenapa aku jadi aneh dan gak waras saat berada di sini, ternyata ini semua terjadi gara-gara dia!"
Rasa geram, gedeg dan tidak terima menyelimuti tubuh Angkasa. Gadis misterius yang aneh dan mengerikan itu tak habis-habisnya mengganggunya, padahal tadi dia telah membuat Angkasa jatuh pingsan dengan tubuh yang penuh luka, tapi sekarang dia malah mengajak Angkasa ke tempat yang aneh lagi.