Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Di kejar mobil hitam yang sangat misterius


__ADS_3

Keesokan harinya.


Angkasa yang sudah selesai bersiap-siap turun dari tangga, ia sangat shock melihat empat orang yang sudah siap dengan pakaian seragamnya dan tengah menunggu Angkasa di tangga.


"Kalian mau kemana?" Angkasa mengernyitkan dahi, tak pernah mereka seperti ini sebelumnya.


Mereka yang biasanya selalu berangkat siang entah mengapa kebiasaan mereka hari ini berubah total.


"Kami mau sekolahlah, ayo kita berangkat bareng, kami juga mau nyelidiki kasus itu sama kamu" jawab Bryan.


Angkasa shock berat, ternyata teman-temannya memang niat banget untuk ikutan berpatisipasi dalam kasus besar ini.


"Kalian serius mau ikutan?" dengan wajah yang terkaget-kaget Angkasa menatap mereka semua.


"Iyalah, kami kan kemarin udah bilang kalau kami mau ikutan, mangkanya pagi-pagi sekali kami udah selesai siap-siap" jawab Rafael.


Angkasa masih tidak menyangka bahwa teman-temannya seniat ini untuk ikut dalam kasus besar ini, ia masih mengira bahwa mereka akan berubah pikiran setelah mendapatkan surat peringatan dari sang dalang, namun ternyata surat peringatan itu tak ada artinya sama sekali di hati mereka.


Mereka tidak akan merubah apa yang sudah mereka tetapkan meski apapun yang terjadi, mereka akan membantu Angkasa sampai kasus itu selesai.


"Ayo kita berangkat, aku udah gak sabar pengen tau seperti apa orang yang tengah jadi buronan itu" ajak Aryan.


Angkasa pun pasrah, ia tidak bisa menghentikan teman-temannya, alhasil ia harus membawa mereka ke jalan yang lebih berbahaya lagi.


Mereka semua berangkat, kali ini mereka berangkat menggunakan satu mobil yang sama, biasanya Angkasa tidak mau 1 mobil yang sama dengan mereka dengan alasan takut identitas mereka terbongkar.


Di dalam mobil Angkasa tidak mengeluarkan sepatah katapun, mulutnya seakan bungkam saat teman-temannya beneran ingin ikut dalam penyelidikan ini, ia khawatir apa yang ia takutkan terjadi.


"Apa-apaan ini, mereka mau ikut semua, mereka udah niat banget, mereka kenapa gak gentar sama sekali dengan surat peringatan itu, seharusnya mereka takut kenapa malah makin semangat, aku heran sama jalan pikiran mereka yang malah mau terjun langsung ke dalam kasus ini" batin Angkasa yang cenat cenut karena kali ini yang berpartisipasi di dalam kasus besar bukan hanya 5 orang melainkan 9 orang.

__ADS_1


ciiiiiiiit...


Bugh!


Tiba-tiba mang Asep mengeram mendadak, kepala mereka terbentur keras.


"Akhh, kenapa ngerem mendadak sih mang, ada apaan coba" pekik Aryan dengan menahan sakit di kepalanya.


"Liat itu den, kayak ada orang yang mantau mobil ini" sebut mang Asep.


"Mana mang?" Reyhan penasaran dengan sosok yang di rasa sedang berusaha memantau pergerakan mereka berlima.


"Liat itu den, di depan ada mobil hitam yang berhenti, kemarin pas mamang anter aden, pulangnya mamang di ikuti sama mobil itu, memang rasa mobil itu memang sengaja nungguin kedatangan kita di sana" jelas mang Asep.


"Kenapa mamang gak bilang, kenapa mamang baru bilang sekarang kalau ada orang yang ngikutin kita dari belakang" tutur Angkasa yang terkesiap.


"Maaf den mamang baru bisa bilang sekarang, mamang awalnya nganggep kalau mobil itu cuman satu arah sama kita, tapi lama kelamaan mamang sadar kalau mobil itu memang ngikutin kita beberapa hari ini" jawab mang Asep.


"Kemarin Miranda meninggal gara-gara ada mobil hitam yang sengaja mepet mobilnya sampai terjadilah kecelakaan, ku rasa itu mobil sama yang sudah menewaskan Miranda" batin Angkasa yang curiga penuh dengan mobil itu.


Mobil itu menunggu kedatangan mereka di depan kompleks, sepertinya dia sengaja menunggu mereka keluar dari kandangnya.


"Gimana ini den?" mang Asep menunggu perintah untuk kembali bergerak.


"Jalan aja mang terus, kalau sekiranya dia bahayain kita, Angkasa akan panggil polisi" suruh Angkasa.


Mang Asep menurut, ia kembali melajukan mobil dengan kecepatan normal, ketika mobil melewati mobil hitam yang menunggu di pertigaan jalan itu, tiba-tiba mobil hitam itu mengejar mobil yang Angkasa tumpangi.


"Fixs ini kalau dia memang nungguin kita, dia sengaja nungguin kita di sana" ujar Bryan yang sudah yakin bahwa mobil itu memang sedang menunggu mereka sejak tadi.

__ADS_1


Mereka semua mulai menegang, mereka khawatir dan itu terlihat jelas di wajah mereka, mereka tidak bisa berbohong, meskipun mulut mereka berkata lain tapi hati tidak bisa di bohongi.


Reyhan menoleh ke belakang yang masih ada mobil hitam yang terus mengikuti."Gimana ini, dia ngejar kita, ku rasa dia ingin berniat jahat sama kita"


Keresahan terus terlihat di wajah Reyhan, ia punya firasat buruk mengenai mobil hitam itu.


"Kalian tenang aja, semuanya akan baik-baik saja, kita berdoa saja semoga gak ada apapun yang terjadi sama kita" dalam situasi seperti ini yang bisa Angkasa lakukan hanya menenangkan kawan-kawannya yang mulai ketakutan.


Mereka tidak bisa tenang, mereka terus menoleh ke belakang yang masih ada mobil hitam itu, rasa resah menghampiri mereka, mereka takut pemilik mobil hitam itu mencelakai mereka.


"Mang lebih cepat lagi mang, kita harus bisa pergi dari dia, jangan biarkan dia terus ngejar kita" suruh Angkasa.


Mang Asep menancap gas, mobil yang Angkasa tumpangi melaju dengan kencang, namun hal itu masih belum membuat hati mereka lega lantaran mobil hitam itu terus mengejar mereka dari belakang.


"Sepertinya dia akan berniat jahat sama kita, gimana ini, apa yang harus kita lakukan" gelisah Rafael yang terus menoleh ke belakang.


"Kalian tenang dulu, dia gak akan ngapa-ngapain kita, percaya sama aku" Bryan tetap tenang, ia tidak khawatir berlebihan seperti teman-temannya yang lain.


"Mang lebih cepat lagi mang, dia terus ngejar kita, kita harus pergi dari dia sebelum dia celakain kita" titah Angkasa yang mulai panik.


Mang Asep semakin menancap gas dan membuat mobil itu melaju dengan kencang, namun mobil hitam itu masih terus membuntuti mereka dari belakang.


"Sa liat dia makin ngejar kita, gimana ini sa" panik Reyhan.


"Cepet panggil polisi, dia memang berusaha buat celakain kita, kita harus gagalkan usahanya" suruh Aryan yang ikutan panik.


Angkasa masih diam tak berkutik, ia bisa saja menghubungi polisi namun habis itu ia tidak akan bisa keluar dengan bebas lantaran orang tuanya pasti akan tau situasi yang berada di kota ini.


"Lebih cepat lagi mang, dia makin ngejar kita" suruh Angkasa.

__ADS_1


Mang Asep tidak menjawab, ia terus menancap gas, ia akan memastikan bahwa penumpangnya semuanya selamat, ia tidak akan membiarkan penjahat itu mencelakai mereka.


Wajah Reyhan penuh dengan guratan kecemasan, melihat mobil hitam itu yang terus menerus membuntuti mobil ini membuatnya khawatir, tadi malam ia sudah di buat cemas prihal surat peringatan itu, kini dirinya kembali menegang gara-gara ulah penjahatnya yang malah mengikutinya dari belakang.


__ADS_2