Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Hampir keceplosan


__ADS_3

Aryan dan Angkasa tercekat hebat, benda yang mereka kira ikat rambut ternyata adalah ular berwarna pink atau kerap di kenal dengan sebutan pink venom, salah satu ular mematikan di dunia.


"K-kok bisa berubah jadi ular" terbata-bata Angkasa.


Tak ada yang menjawab pertanyaan Angkasa, Steven dengan sigap langsung menghabisi ular berbisa walau tubuhnya kecil, tapi bisanya dapat membuat manusia mati dalam waktu tak sampai 1 jam.


"Ada apa ini, kenapa ribut-ribut!" Rev datang dengan bertanda tanya.


Keributan yang terjadi memancing kedatangan Rev.


"Liat, mereka mau pegang ini" Steven melempar ular berwarna pink dalam keadaan tak bernyawa ke arah Aryan dan Angkasa.


Angkasa dan Aryan langsung menyingkir, begidik ngeri terhadap ular sekecil itu tapi jelas dia berbisa.


"Yang bener aja, untung gak sampai kalian pegang!" Rev ikut panik campur khawatir.


Ular yang tergeletak lemas di tanah tergolong dalam ular mematikan di dunia, tubuhnya yang berwarna pink membuatnya terlihat cantik.


Secara ilmiah semakin terang warna ular maka semakin berbisa dia, walau ukurannya kecil tapi di tubuhnya memiliki bisa yang dapat merenggut nyawa manusia.


"Gak tau, sumpah kita gak tau kalau itu ular, kita ngiranya itu ikat rambut, orang tadi dia melingkar dan gak kepalanya, jadi gak kelihatan kalau dia hewan bukan benda" jelas Angkasa.


"Benar-benar kalian ini, habis piknik kalian semua ke zoo, aku yang akan bayar tiketnya" ucap Rev tak habis pikir lagi bertapa sulitnya mereka mengenali ragam hewan yang berbisa dan dapat membuat nyawa melayang.


Mereka terkekeh meratapi kebodohan yang hampir membuat nyawa mereka terenggut.


Untung ada Steven yang datang dan menyadarkan mereka sebelum ular itu mengigit mereka hingga tewas.


"Kenapa Rev, ada apa ini kok pada ngumpul di sini?" Clara yang baru datang tak tau apa-apa, ia merasa ada sesuatu yang barusan terjadi dan itu cukup menegangkan.


"Ini loh mereka hampir mau pegang ular, untung Steven liat, kalau enggak mereka akan mati, aku yang akan repot" jawab Rev dengan emosi yang belum juga reda.


Clara geleng-geleng kepala."Kalian ini, benar-benar gak bisa di biarkan berkeliaran sendiri"


Mereka hanya terkekeh kecil, lagi-lagi mereka masih bisa selamat dari hewan-hewan buas dan berbisa yang hendak membuat mereka terluka.


"Eh kalian, kenapa pada diam di situ, semua orang lagi pada ngumpulin tugas noh di sana" teriak April dari kejauhan.


Mata mereka serempak menyorot April.


"Kenapa pada bengong, ayo ke sana, jangan bengong di situ nanti kesambet gimana, gak ada yang bisa nolong kalian tau" teriak Shena.

__ADS_1


Mereka pun bangun dari lamunan, mereka kalang kabut memastikan tugas yang masing-masing sebelum di setor pada pak Sudirman.


"Semuanya udah beres, hanya ini flora dan fauna yang aku temui di hutan ini" ucap Angkasa sambil menatap nama-nama hewan dan tumbuhan yang di tulis rapih di sebuah buku catatan.


"Coba liat sa, kamu nemuin apa aja" titah Rafael.


Angkasa menyodorkan buku catatan miliknya, Rafael membaca satu demi satu hewan dan tumbuhan yang ada di kertas putih tersebut.


"Wiiih banyak juga yang kamu temui, ada banyak yang langka juga" kagum Rafael.


"Aku gitu loh, hewan-hewan langka dapat aku temui dengan mudah, gak perlu susah-susah nyari" Angkasa bangga akan dirinya sendiri.


"Saking hebatnya kalajengking aja sampai di sebut kepiting tanah" sahut Clara enek saat pria bernama elang meninggikan diri.


Sontak semua orang tertawa terbahak-bahak, Angkasa yang di tertawakan cengar-cengir sambil menggaruk kepala yang tak gatal.


"Haduh pantesan aja ular berbisa kalian kira ikat rambut, ternyata kalian ini memang gak bisa ngenalin macem-macem hewan" tutur Aldo.


"Kami kan hidup di kota, kami mana tau hewan-hewan langka yang hidup di hutan, lagi pula kami sibuk sama ban-


Bryan membekap mulut Aryan sebelum pemuda itu meneruskan ucapannya.


"Ban? Ban apa?" Serempak mereka mengajukan pertanyaan, bingung dengan kata yang belum sempat Aryan katakan dengan penuh.


"Oh itu maksudnya, anu" Reyhan terjebak dalam ucapannya sendiri.


Sulit bagi Reyhan mencari alasan yang pas demi mereka tidak mencurigainya berserta teman-temannya.


"Anu apa?" Tanya mereka lagi.


"Anu, kita itu saking sibuknya belajar sampai gak ngenalin hewan-hewanan dan juga kita itu gak pernah ke zoo, jadi gak tau hewan mana aja yang ada di Indonesia, yang kita tau cuma ayam, sapi, bebek dan kawan-kawannya" timpal Bryan.


"Nah betul itu, kita itu sibuk belajar biar bisa jadi orang sukses di masa depan" sahut Aryan.


Mereka memberikan tatapan setengah tak percaya namun mereka tak punya argumentasi yang dapat di jadikan bahan bantahan.


"Oalah kirain apaan" jawab Steven.


"Di suruh ngumpulin tugas malah bengong di sini, kalian dengar gak sih!" Hardik April gedeg sebab mereka mengabaikan perintah.


April turun tangan menghampiri mereka demi mengajak mereka pergi dari sana.

__ADS_1


"Dengar, gak perlu kamu teriak-teriak, aku gak budeg" timpal Aldo menepis telinga yang terasa pengang lantaran April berteriak tepat di telinganya.


"Udah ayo pergi, jangan ada di sini" ajak Shena.


Mereka pun mengikuti April dari belakang, personil band Amanda itu bernafas lega, hampir saja Aryan keceplosan dan mengakibatkan mereka dalam masalah besar.


"Huft untung aja kamu gak sampai keceplosan!" Ucap Bryan mengeluarkan mata maut seakan ingin menerkam Aryan.


Aryan tersenyum kikuk."Maaf, aku lupa, untung ada kalian, kalau enggak mereka pasti udah tau siapa kita"


Aryan menyesali perbuatan yang hampir membongkar habis penyamaran mereka.


"Awas jangan sampai kamu ngulangin kesalahan yang sama" perintah Rafael.


Aryan mengangguk patuh, tak mungkin Aryan melakukan kesalahan fatal, teman-temannya pasti akan memakannya dalam satu kedipan mata jika sampai dia melakukan kesalahan lagi.


Dengan dada yang mulai plong personil band Amanda terus mengikuti yang lain, Angkasa berada di paling belakang, mengikuti teman-temannya menemui para siswa dan siswi yang berkumpul di satu tempat.


Tiba-tiba langkah Angkasa terhenti, tatapan elang jatuh pada seorang gadis pucat berdiri di dekat pohon menatapnya dengan tatapan tajam pula.


"Gadis misterius itu, kenapa dia ada di sini!"


"Dia pasti ingin nagih janji ku yang mau jelasin semuanya sama Ester apa yang telah terjadi padanya sesaat setelah Ester ninggalin dia di perpustakaan"


Angkasa melirik ke depan di mana teman-teman berjalan tanpa henti.


"Gimana caranya aku nemuin dia, gimana pula cara ku buat pergi, mereka pasti akan langsung tau kalau aku gak ada"


Segala kebingungan di hempaskan pada Angkasa semua.


Angkasa menatap gadis misterius itu kembali yang malah menunjukkan wajah seram tanda marah akibat Angkasa tak segera menepati janji.


"Aku ingin bantu dia segera mungkin, tapi aku gak bisa pergi"


Mata Angkasa tolah toleh ke arah gadis misterius dan juga ke arah teman-temannya yang terus berjalan meninggalkannya.


"Sa ayo jalan, ngapain berhenti" teriak Reyhan sadar jika Angkasa berhenti.


"Iyaa" jawab Angkasa.


Angkasa pun berlari mengejar mereka yang makin jauh, prihal gadis misterius itu akan ia selesaikan setelah kembali ke tenda.

__ADS_1


__ADS_2