Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Penampakan sosok-sosok makhluk halus di hutan Pinus


__ADS_3

Mata Angkasa mengamati sekeliling yang banyak sekali flora dan fauna yang Angkasa temui.


Semakin masuk ke dalam hutan, hawa tak nyaman pun di rasakan Angkasa, hembusan angin yang tadinya menyegarkan mengapa sekarang malah membuat bulu kuduk berdiri dengan sendirinya.


Angkasa menelan ludah pahit saat ada perubahan yang mencolok dari hutan Pinus ini. Sebelumnya sepanjang ia jalan hanya ada tumbuh-tumbuhan dan para hewan yang Angkasa liat, kini spesies yang ada di hutan Pinus bertambah.


Dia bukan hewan bukan pula tumbuhan, dia tak lain adalah sosok-sosok makhluk penunggu hutan yang berkeliaran bebas.


Ada banyak pula sosok-sosok makhluk aneh dan mengerikan yang Angkasa temui di sepanjang jalan, rata-rata mereka memberikan tatapan tajam seperti tak suka dengan kehadirannya.


Angkasa yang merasa di tatap sebegitu tajam oleh sosok wanita berbisik pada Clara."Clara kenapa mereka pada liatin kita begitu, letak salah kita di mana?"


Rasa risih mulai menyerang Angkasa, di perhatian tanpa kedip sedikitpun oleh para makhluk halus penunggu hutan mampu menciptakan rasa tak nyaman di hati Angkasa.


"Udah kamu jangan pikirin mereka, biarkan mereka natap kita sampai matanya copot, yang terpenting itu mereka gak ngapa-ngapain kita. Kalau cuman merhatiin saja gak masalah" sahut Clara nada pelan secara di kanan dan kiri ada banyak anak-anak, dan Clara harus merahasiakan apa yang ia lihat dari mereka semua.


Angkasa pun diam, walau ia merasa tak nyaman ia tak bisa berontak dan tetap melanjutkan perjalanan, sambil mencatat apa yang Angkasa temui di sepanjang jalan.


Makhluk-makhluk aneh berkeliaran bebas, mereka terdiri dari beberapa jenis, bentuk tubuh mereka begitu aneh, ada yang memiliki kaki tiga, ada yang tidak punya tangan, ada pula yang wajahnya rata tak ada hidung, tak ada mulut dan lain sebagainya.


Angkasa begidik ngeri, para makhluk halus terus menatapnya tanpa henti, mereka memang diam di tempat tapi tatapan tajam mereka seakan ingin menerkamnya hidup-hidup.


Dalam hati Angkasa berkata."Serem banget"


Ludah pahit terpaksa di telan, jiwa terus di serang jutaan rasa takut, tapi kaki tetap di haruskan untuk melangkah.


Dapat Angkasa rasakan kalau semakin berjalan suasana hutan makin bertambah gelap, tak seterang tadi. Suasana hutan makin terasa angker tapi walaupun begitu Angkasa harus tetap diam.


"Semoga mereka gak ngapa-ngapain aku, cukup gadis misterius itu yang terus teror aku, jangan mereka" batin Angkasa memiliki harapan besar.


"Oh ya aku baru ingat kalau gadis misterius itu nyuruh aku buat nyari mantan pacarnya yang juga ada di hutan ini, tapi kok malah gak ada ya. Tadi malam kan dia bilang sendiri kalau tenda pacarnya terletak di sebelah barat, anehnya gak apapun loh di sini" batin Angkasa teringat pada keinginan gadis misterius yang harus ia laksanakan.

__ADS_1


Manik coklat Angkasa memperhatikan sekeliling yang tak ada tanda-tanda akan ada tenda yang di dirikan. Kanan kiri full dengan pohon Pinus.


"Nanti habis ini aku akan cari di mana Ester berada, aku harus laksanain perintahnya kalau enggak dia akan neror aku terus menerus" batin Angkasa.


"Aku ingin cepat-cepat terlepas dari dia" batin Angkasa.


Rombongan SMA kebangsaan makin dalam menyelusuri hutan, kegiatan di pagi hari ini membuat para siswa baik siswi banyak mengenal flora dan fauna yang jarang mereka temui di kota.


Para murid dapat lebih dekat dengan alam, kegiatan *** tak harus di dalam ruang kelas saja, sesekali mereka harus terjun ke lapangan agar lebih paham dan kenal banyak hal yang tidak mereka ketahui.


Satu hewan kembali menyorot mata Angkasa, ia tanpa bilang-bilang langsung mendekati hewan berbisa, bertubuh pipih yang memiliki kaki tak terhingga, warnanya coklat tua, dia berjalan dengan cepat.


Sebelum keburu pergi Angkasa memfotonya.


Setelah dapat senyum kembali terukir di wajah Angkasa sambil menatap foto hewan yang belum pernah ia lihat di seumur hidupnya.


"Hewan apa itu?"


"Iih ngagetin aja, untung aku gak jantungan!" Ujar Angkasa memukul pelan orang tersebut.


Orang yang Angkasa tegor tak sedikitpun peduli, matanya terus menatap hewan berukuran kecil namun berbisa tersebut.


"Hewan apa itu sa, kok aku baru liat?" Tanya Arkan barang kali Angkasa mengetahui nama hewan itu.


"Gak tau, aku juga gak tau apa nama hewan ini, coba tanya Rev, dia pasti tau" balas Angkasa.


"Rev kita ketemu hewan baru" teriak Aryan begitu bersemangat seperti orang yang baru mendapatkan kejutan besar.


Rev mengerutkan alis, sedikit terkejut dengan apa yang Aryan katakan."Hewan baru?"


Dalam hati Rev bertanya-tanya, hewan baru seperti apa yang mereka maksud, ucapan mereka sedikit membuat Rev penasaran.

__ADS_1


"Iya di sini ada hewan baru, dia juga punya kaki seperti hewan kaki seribu" timpal Aryan.


Rev penasaran hewan apa yang di maksud Aryan, ia pun menghampiri mereka yang memperhatikan betul-betul hewan yang mereka sebut baru dan tak pernah mereka lihat.


"Ini namanya kelabang, dia sudah ada sejak dulu, bukan hewan baru, gimana kalian ini!" Tutur Rev sedikit sensi setelah tau hewan apa yang mereka maksud.


Aryan dan Angkasa tertawa kecil meratapi betapa bodohnya mereka hingga tak dapat mengenali ragam hewan yang berada di bumi.


"Mana kita tau, kita gak tau kalau ternyata ini yang namanya kelabang, kita cuman dengar namanya gak pernah tau wujudnya" sebut Aryan.


"Nanti habis dari hutan ini kalian semua ke zoo, di zoo banyak hewan, kalian harus belajar macem-macem hewan biar gak oon kayak anak TK" ujar Rev.


Mereka tak henti-hentinya tertawa kecil, benar-benar ulah mereka kali ini sangat keterlaluan.


Saking sibuknya dengan dunia entertainment mereka sampai tak mengetahui hewan mana saja yang berada di sekeliling mereka.


"Iya, nanti akan ke sana kok" sahut Aryan.


"Ayo jalan, jangan sampai kalian ketinggalan rombongan" ajak Rev dengan kaki terus berjalan mengikuti rombongan.


Mereka bangun dari jongkok, kembali berjalan mengikuti yang lain.


Mata Angkasa beralih menatap ke atas, tiba-tiba ada hewan yang berada di atas pohon, ia melompat dari satu pohon ke pohon lainnya dengan mudah dan gampang.


"Aryan Aryan Aryan liat itu ada kembaran kamu" tunjuk Angkasa pada seekor monyet hutan yang berada di atas pohon.


"Bangsat!" Ucap Aryan.


Angkasa lari denhan tertawa terbahak-bahak, suka sekali ia mengerjai Aryan.


Aryan berlari mengejar Angkasa, tak boleh sampai berjauhan dengan teman-temannya yang lain.

__ADS_1


__ADS_2