Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Teka-teki misteri 3 penari berkebaya merah


__ADS_3

Kaki Angkasa terus melangkah dan menganggap kalau tak ada yang terjadi, serta tak mempedulikan lagi tiga orang penari yang menyeramkan tersebut.


Hati tetap berdebar-debar, tremor makin menjadi-jadi, namun kaki tetap harus melangkah walau pikiran buruk satu persatu datang menghampiri.


Setelah agak menjauh dari sana, Angkasa menghembusakan nafas.


"Huft selamat" ucapnya setelah berhasil selamat dari terkaman maut 3 penari kebaya merah.


Angkasa melihat kembali ke belakang, secepat kilat ia langsung kembali menatap ke depan. 3 orang penari misterius itu masih menatap tajam walau jarak telah menghalanginya.


Angkasa menelan pil pahit."Serem banget" ungkapnya bergidik ngeri.


Aryan yang tak sengaja mendengar mengerutkan alis."Serem? Apanya yang serem!"


Gelagat Angkasa pun langsung berubah, wajah yang tadinya ketakutan langsung berubah biasa aja biar orang-orang di dekatnya tak ada yang curiga.


Tak ada tanggapan dari Angkasa, Aryan pun menghela nafas, ia terus berjalan sambil bertanda tanya sikap Angkasa yang berubah aneh.


Setelah sekian lama mereka berjalan akhirnya mereka tiba juga di tempat di mana tenda mereka akan di dirikan.


"Anak-anak kita sudah sampai, di tempat ini kalian sekarang mulailah pasang tenda, waktu kita gak banyak, sebentar lagi matahari akan tenggelam. Sesegera mungkin kalian pasang tenda itu, kalau bisa matahari terbenam tenda kita sudah terpasang semua" suruh pak Sudirman.


Mereka pun mengangguk, dengan waktu yang tersisa mereka akan memaafkan waktu itu dengan sebaik mungkin.


Rev dan para OSIS mengatur kelompok, di mana setiap kelompok beranggotakan 5-7 orang, di dalam satu tenda akan ada 1 kelompok yang akan menghuninya.


Para OSIS tak ada yang diam, mereka mengatur setiap tata letak dengan sebaik mungkin.


Tenda Clara telah berdiri, kerja kerasnya dan juga teman-temannya telah berhasil.


Clara celingukan, mencari seseorang, senyum mengambang saat orang yang di cari-cari telah ketemu.


Clara dengan semangat berlari mendekati seorang pemuda, berdiri di dekat pohon, agak menjauh dari keramaian. Tatapannya menatap orang-orang yang berlalu lalang di depannya.


"Angkasa" sapa Clara.


Lamunan Angkasa pun buyar."Apa?"


"Kamu pasti mau bahas tentang tiga penari berkebaya merah tadi kan?" Tebak Angkasa.


Clara mengangguk, tebakan Angkasa tepat sasaran."Aku bingung sa kenapa mereka hadang kita, terus apa maksud mereka natap kita dengan..sumpah serem banget"

__ADS_1


"Aku juga heran, kita baru sampai di sini, baru pertama kali juga kita pijakin kaki di sini, tapi kenapa mereka sangat gak suka dengan kehadiran mereka" Angkasa bertanya-tanya, maksud 3 orang penari berkebaya merah masih menjadi enigma.


Clara ikut berpikir keras, maksud dan tujuan 3 orang penari kebaya merah belum di ketahui, ia mencoba untuk mengartikan maksudnya.


"Apa kita melakukan kesalahan ya, sampai-sampai mereka natap kita sebegitu tajam" kepikiran Clara.


"Tapi clar, kita baru sampai di sini, kesalahan apa yang bikin mereka sampai segitunya sama kita" terheran-heran Angkasa.


Kedua sepasang teman itu pun terdiam, memikirkan 3 orang penari yang masih menjadi misteri.


"Dooorrr"


"Allahu Akbar" mereka berdua terkejut.


Tatapan maut mereka jatuh pada seorang pria tengah tergelak lantaran tindakannya.


"Iiih ngagetin aja, kalau datang itu pake salam atau apa gitu, malah datang-datang ngagetin orang" sebel Clara akan tingkah Aldo yang telah membuat jantungnya hampir copot


Mata Aldo menatap mereka bergantian, sorot mata tajam dan serius terpancar di wajahnya.


"Kalian lagi ngomongin apa, kok sembunyi-sembunyi, jauh dari keramaian pula?"


"Udah, bilang aja gak usah sembunyiin segala, cepat atau lambat semua orang akan tau kok" titah Aldo merasa jika mereka tak ingin berterus terang.


"Ada apa ini, kenapa serius banget, ngobrolin apaan sih?" Tanya Rev, datang bersama, Aryan, Rafael, Reyhan, dan Bryan.


Kesembilan orang itu penasaran, sedangkan Angkasa dan Clara masih bungkam.


"Udah bilang aja, kami semua ada di sini, kalian gak perlu boong dari kita" suruh Aldo mendesak mereka agar buka mulut.


Clara mengambil nafas sebanyak-banyaknya, secara perlahan-lahan ia membuangnya.


"Jadi gini, pas tadi kita turun dari bus, kita liat ada 3 orang penari yang lagi nari di depan gapura seperti nyambut kedatangan kita. Tetapi pas kita lewat tepat di hadapan mereka, secara tiba-tiba wajah dan tatapan mereka jadi serem" jeda Clara.


"Terus-terus!" Titah mereka ikut penasaran.


"Kita bingung kenapa tiga orang penari itu natap kita seseram itu, kita juga penasaran siapa mereka dan kenapa mereka ada di hutan yang sama dengan kita" sambung Clara menjelaskan secara singkat permasalahan yang menimpa mereka.


"Penari, kok aku tadi gak liat?" Heran Aryan.


"Ya karena kamu bukan Indigo, bebal" greget Bryan meratapi kebodohan Aryan.

__ADS_1


"Iya juga ya" Aryan pun sadar sekarang dengan kebodohannya sendiri.


"Kalian gak inisiatif buat cari tau gitu?" Pertanyaan itu di ajukan Reyhan.


"Belum, gak berani, soalnya mereka sewreem" jawab Clara.


Kala teringat tatapan maut mereka nyali Clara tiba-tiba langsung ciut.


"Payah, gitu aja takut" Aldo meremehkan mereka.


"Kalau kamu berani, sana kamu balik lagi ke gapura tanya langsung sama tiga penari itu" tantang Clara.


"Udah-udah jangan tengkar, ini bukan waktunya berantem" lerai Steven.


Pertikaian mereka pun tak di perpanjang, mereka tau tempat serta percuma juga untuk bertengkar di moment seperti ini.


"Kalian cari tau tiga penari itu, jika sekiranya mereka berbahaya, kasih tau kita, biar kita bisa imbau pada yang lain" usul Rev.


Tak hanya dari penjahat Rev harus bertanggung jawab untuk keseluruhannya, ia harus memastikan kalau semuanya aman selama mereka tinggal di tempat.


"Iya kita akan cari tau, kita coba tanya sama penghuni di hutan ini siapa mereka" setuju Angkasa.


Rev menyerahkan semuanya pada Angkasa dan Clara.


"Kalian gak perlu khawatir, biar kami yang akan handle" ujar Clara.


Mereka pun lega, tak kepikiran lagi karena semua masalah di tanggung oleh Angkasa dan Clara.


"Halo semuanya, lagi bahas apa nih, kok sembunyi-sembunyi, jangan-jangan kalian lagi bahas kematian Bu Melati kan" tebak April datang bersama teman-temannya.


"BUKAN!" tegas mereka berbarengan.


Senyum yang merekah pun sirna."Iih kenapa kalian pada gak suka gitu jawabnya, emang kita salah apa?"


"Salah mu itu banyaaaak!" tutur Bryan.


"Mending sekarang kalian pergi aja, jangan dekat-dekat sama kita" usir Aldo menatap tak suka para mereka bertiga.


"Tau, jadi beban aja kerjaannya" timpal Rafael.


Mereka bertiga mengerucutkan bibir, wajah mereka masam saat baru tiba di sana mereka malah langsung di sambar kalimat pengusiran.

__ADS_1


__ADS_2