
"Oh ya Rev, tadi April, Shena sama Laras nyamperin kita, mereka sudah tau rahasia kita yang tengah berusaha untuk mengungkap siapa yang ada di balik misteri ini" ujar Clara memberitahukan sepupunya terakit masalah yang mereka hadapi saat ini.
"Terus-terus" suruh Rev.
"Mereka gak berbuat apa-apa, mereka cuman ma gabung sama kita, kita terpaksa izinin, karena kalau kita gak izinin mereka, mereka ngacem akan beberkan semuanya pada guru dan semua orang" sambung Clara.
"Haduh kenapa biang kerok itu pake tau segala, makin runyam kan jadinya" tutur Rev tampak gelisah.
"Ini semua kesalahan kami, kami gak sengaja ngomong sama mereka kalau tujuan kita berkumpul seperti sekarang ini untuk mencari tau siapa orang yang berada di balik banyaknya misteri kematian yang terus terjadi di sekolahan. Habisnya mereka itu terus maksa kami dan lebih parahnya lagi mereka malah fitnah kami yang bukan-bukan" timpal Reyhan merasa bersalah.
"Ya sudah lah mau gimana lagi, nasi sudah jadi bubur, mau di ulang kembali juga gak akan bisa, ya udah bawa aja mereka ke dalam rencana kita, kalau mereka nanti berkhianat, sikat aja biar gak keterlaluan" sahut Angkasa.
"Ya udah ah gak usah mikirin mereka, ayo kita ke lapangan, ada pengumuman di sana, kita harus berkumpul di sana, karena pak Sudirman ingin ngumumin sesuatu tentang masalah camping" ajak Rev.
Mereka semua pun setuju dan bergegas mendatangi lapangan yang sudah penuh dengan anak-anak.
"Ada apa nih"
"Kok di kumpulin di sini"
"Apa ada yang mati lagi"
Ragam pertanyaan di ajukan oleh anak-anak yang berada di lapangan namun tak ada seorangpun yang bisa mereka minta jawabaan.
"Harap tenang semuanya, jangan berisik. Kami mengumpulkan kalian semua di sini tak laik dan tak bukan hanya karena ingin mengumumkan bahwa besok pihak sekolahan akan mengadakan camping di hutan" ujar pak Sudirman dengan lantang.
Sorak gembira murid-murid terjadi, camping membuat mereka gembira, mereka sudah bosan dengan metode pembelajaran yang gitu-gitu aja. Jika ada camping mereka bisa menikmati keindahan alam serta akan membuat pikiran mereka lebih jernih.
"Kalian semua harap siap-siap karena besok kita akan berangkat ke lokasi, lokasinya cukup jauh, jarak tempuh ke sana mungkin sekitar 5-7 jam. Kami harap jam 5 pagi kalian sudah harus tiba di lokasi, jika ada yang telat maka siap-siap akan ketinggalan bus" perintah pak Sudirman.
__ADS_1
Semua murid yang mendengarnya senang dan gembira tapi berbeda halnya dengan sembilan orang yang tetap diam di tempat, raut wajah mereka begitu datar, tak ada rasa bahagia sama sekali yang mereka tunjukkan.
"Sekarang kalian semua boleh pulang, besok persiapkan diri kalian untuk menyambut camping yang akan pihak sekolahan adakan. Kami akan berupaya kalau camping yang akan kita laksanakan selama kurun waktu 2-4 Minggu itu berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan sama sekali" jeda pak Sudirman.
Sorak gembira murid-murid masih tampak terlihat, senyuman yang merekah di bibir mereka begitu indah.
Setidaknya untuk 1 bulan ke depan mereka semua akan merasakan kehidupan yang jauh berbeda bukan hanya terus menerus mendengar berita kematian-kematian misterius yang hanya bisanya membuat mereka takut berlebihan.
"Kurang lebih mohon maaf, kami undur diri dulu. Kami mohon kerjasamanya" sambung pak Sudirman.
Murid-murid yang mendengar mereka di pulangkan satu persatu murid membubarkan diri, mereka beranjak pergi meninggalkan sekolahan setelah mengetahui pengumuman itu.
Di tengah-tengah keramaian tiga wanita centil dan sukanya mengurusi hidup orang itu menatap aneh dan merasa ada yang janggal.
"Aneh, kok tiba-tiba camping sih, tahun kemaren gak gini, kenapa sekarang ada camping segala, di pertengahan taun lagi" heran April.
"Kalau kamu ingin tau ayo kita samperin mereka, mereka pasti tau karena di antara mereka ada Rev si ketua OSIS" tunjuk Laras pada mereka semua yang masih diam di tempat.
"Hai semuanya, apakah kalian masih ingat betul dengan perjanjian kita di taman tadi" sapa April.
Ekspresi wajah mereka kembali tertekan, kedatangan tiga nenek lampir itu telah membuat suasana hati mereka menjadi panas.
"Kita masih ingat betul kok, gak usah kalian ingetin lagi, mumet lama-lama inget kalian mulu" jawab Bryan sedikit sensi.
"Oh ya aku ke sini mau nanya, kok tiba-tiba ada camping sih, ada apa nih, kalian pasti tau dong?" tanya April.
"Gak tau, kami juga sama-sama gak tau" jawab Clara gedeg melihat mereka bertiga.
"Kalian semua emang bisa bilang gak tau, tapi tidak dengan mu" pandangan April jauh pada Rev.
__ADS_1
Rev menghela nafas."Aku emang ketua OSIS, tapi aku bukan tuhan yang maha tau, jadi jangan nanya sama aku, karena aku juga sama-sama gak tau kayak mereka"
Muka April cemberut."Iiih kenapa kalian kelihatan gak suka gitu sama kita, apa salah kita, kita kan gak ngelakuin apapun"
"Loh siapa yang gak suka, apakah di antara kita semua bilang sama kalian kalau kita gak suka dengan kehadiran kalian" ujar Aldo mengernyitkan dahi.
"Ya emang kalian gak ngomong secara langsung tapi kami tau kalau kalian ngerasa tertekan saat ada kami" jawab Laras.
"Ya kalau kamu tau, seharusnya kalian itu SD lah" timpal Aldo senyum-senyum menahan tawa.
"SD, apa itu SD?" tanya mereka sambil mengerutkan alis.
"SADAR DIRI" sorak mereka kompak.
"Itu aja gak tau" tutur Rafael.
"Norak banget" tambah Steven.
"Udah ah kita tinggalin aja mereka, gak guna juga berada di dekat mereka" ajak Aldo tak nyaman berada di dekat mereka.
Mereka semua pun mengikuti Aldo yang pergi meninggalkan Laras, April dan Shena.
"Iiih kenapa mereka ninggalin kita sih, sebel sebel sebel" gerutu April geram dengan kelakuan mereka.
"Udah ah pril gak usah kejar mereka, besok aja kita gabung sama mereka, mereka pasti gak akan nolak karena kita punya senjata untuk membuat mereka bungkam" ucap Laras menenangkan April.
April pun pasrah dan membiarkan mereka semua pergi meninggalkannya.
"Ya udah ayo kita pergi juga, ngapain lagi kita ada di mari, udah gak ada orang, semua orang udah pada pulang ke rumah masing-masing. Kita juga harus pulang dan siap-siap kalian gak lupa bukan kalau besok kita akan camping" ujar Shena.
__ADS_1
"Iya, ayo kita cabut" jawab April.
Mereka bertiga berlalu meninggalkan sekolahan yang perlahan-lahan mulai sepi.