
Angkasa menuruti perintah gadis itu, ia berjongkok dan menyingkirkan tanaman liar yang akan menjalar ke dalam.
Mata Angkasa melotot dengan sempurna menatap sesuatu yang ia temukan di sana, ia dengan cepat mengambilnya dan beralih menatap ke arah gadis itu.
"Rambut, rambut siapa ini, kenapa banyak sekali di sini" terkaget-kaget Angkasa.
"Simpanlah, kau pasti membutuhkan rambut itu suatu hari nanti" perintah gadis itu dengan wajah tanpa ekspresi.
Angkasa dengan cepat mengambil potongan-potongan rambut yang panjang dan menaruhnya di dalam sebuah plastik dan memasukkannya ke dalam tas untuk ia simpan.
"Katakan pada ku rambut siapa ini, kau pasti tau rambut ini milik siapa bukan?" Angkasa mengintrogasi gadis itu agar dia mau membuka mulut.
"Lihatlah ke sana" tunjuk gadis itu ke sebelah kanan Angkasa yang terdapat tembok.
"Itu tembok, aku bertanya siapa pemilik rambut ini tapi kau malah menyuruh ku melihat tembok, apa kau tidak mengerti bahasa ku" Angkasa merasa aneh dengan jawaban gadis itu yang tidak sesuai dengan pertanyaannya.
"Lihatlah nama yang paling atas" Angkasa melihat nama paling atas yang tertulis di tembok itu, memang di sana banyak sekali nama-nama orang yang di tulis di tembok itu.
"Miranda Carissa, jadi rambut ini milik Miranda" terkesiap Angkasa menatap kembali ke arah gadis itu.
Rambut itu cukup banyak, namun rambut itu sudah lama berada di sana, tidak terlihat masih baru sama sekali.
"Dia yang sudah melakukannya" ujar gadis itu.
Angkasa mengerutkan keningnya, ia semakin bingung dengan jawaban gadis itu.
"Aku tidak bertanya siapa yang sudah memotongnya, aku hanya bertanya siapa pemilik rambut ini, apa kau tidak mengerti pertanyaan ku?" tak habis pikir Angkasa dengan jawaban gadis itu yang cukup ngawur.
Gadis itu tiba-tiba diam, raut wajahnya tanpa ekspresi, bahkan matanya tidak berkedip.
__ADS_1
"Woy katakan sesuatu, jangan diam saja, aku bertanya pada mu" Angkasa berusaha menyadarkan gadis itu yang tiba-tiba diam begitu saja.
Gadis itu masih tetap diam, ia tidak menyahuti perkataan Angkasa meskipun Angkasa berusaha untuk mengajaknya bicara.
"Kamu itu...."
Drrt
Drrt
Drrt
Tiba-tiba ponsel Angkasa bergetar, belum sempat ia selesaikan ucapannya, bunyi telpon itu malah menghancurkan segalanya.
Angkasa mengambil hpnya dan mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa, kenapa kamu manggil aku, aku kan udah bilang aku gak mau ke sana, jangan suruh aku ke sana" ujar Angkasa dengan nada yang sedikit kesal namun ia melampiaskannya pada orang lain.
"Aku gak bisa ke sana, aku ada urusan penting yang sama sekali gak bisa di tinggal, kalian ke sana aja, nanti kalau urusan ku selesai aku akan susul kalian ke sana" tolak Angkasa.
"Tapi sa kita harus kumpul di sana sama om Jun, masa kamu gak bisa datang sih" timpal Rafael yang mencoba membujuk Angkasa agar meninggalkan urusannya dan memilih berkumpul bersama mereka.
"Gak bisa, aku gak bisa ke sana nanti, kalian aja, bilang sama om Jun kalau aku gak bisa datang ke sana, dia pasti ngerti kok" tutur Angkasa.
"Ya udah nanti aku akan coba koordinasi lagi sama om Jun biar latihan kita di undur aja" ujar Aryan.
"Terserah, di undur gak apa-apa yang penting jangan sehabis pulang sekolah, soalnya aku ada urusan yang gak bisa di tinggal" pasrah Angkasa, dia hanya mengikuti apa yang akan om Jun perintahkan.
"Ya udah aku tutup dulu, nanti aku akan kabari kamu lagi" Angkasa membalas dengan dehaman, ia langsung mematikan sambungan telepon.
__ADS_1
Angkasa kembali menatap gadis itu."Loh kemana gadis itu, kenapa dia udah gak ada, pergi kemana dia"
Angkasa sangat terkejut saat kehilangan gadis yang tadi membawanya kemari.
"Kok bisa dia pergi secepat ini, apa jangan-jangan aku gak sadar kalau dia pelan-pelan kabur, tapi masa dia yang jalan gak ada suaranya" Angkasa berpikir keras, kepergian gadis itu masih menjadi misteri.
"Kalau ada orang yang melangkah, aku pasti dengar, tapi ini gak ada sama sekali"
Angkasa masih diam di tempat, ia memperhatikan sekelilingnya, Angkasa langsung terperanjat menatap ke sebelah barat.
"K-kok banyak darah, k-kenapa tembok ini penuh dengan darah" terkaget-kaget Angkasa.
Tembok yang tadinya bersih dan rapih kini banyak sekali coretan darah yang tertempel di sana, darah itu sudah mengering, warna darah yang biasanya merah jreng kini terlihat agak sedikit memudar.
"Tadi di sini gak ada darah, di bawahnya yang ada rambut, tapi kok sekarang bisa ada darah yang nempel di tembok?" Angkasa menatap tembok itu dengan tidak percaya.
"Kayaknya darah ini udah lama, cuman tadi aku gak sadar kalau di sana ada darah, tapi darah siapa ini, terus rambut ini milik siapa, kenapa gadis itu gak mau ngasih tau, aku yakin dia pasti tau siapa pemiliknya"
Angkasa menatap darah itu dengan seksama, ia lalu memfoto darah itu sebagai bukti selanjutnya.
"Rambut ini panjang, kayaknya ini rambut milik cewek, tapi kok gadis itu bilang Miranda yang sudah motong rambut ini" semakin bingung Angkasa.
"Ada hubungan apa Miranda sama darah dan rambut ini, kenapa namanya yang di sebut-sebut, ku rasa dia memang terlibat dalam hal ini, aku masih belum bisa mastiin rambut dan darah siapa yang tertinggal di tempat itu, tapi aku yakin mereka berdua saling berhubungan" Angkasa merasa sangat yakin akan hal itu.
"Tapi yang lebih anehnya lagi siapa sebenarnya gadis itu, kelihatannya dia begitu misterius, dari wajahnya aja udah ke tebak kalau dia memang misterius banget"
"Apa jangan-jangan gadis itu gaib, dia adalah makhluk halus kayak tadi, tapi ini kok beda gak sama kayak tadi, yang tadi aja aku gak tau meninggal kenapa apalagi yang sekarang, tapi aku yakin mereka saling berkaitan" ujar Angkasa penuh keyakinan.
Angkasa melirik ke arah jam yang melingkar di tangannya."Udah mau jam setengah 12, udah mau hampir pulang ini, aku harus segera ke depan, aku harus ikutin Miranda, aku harus bisa ikutin dia sampai ke rumahnya biar enak kalau aku mau cari tau tentang dia lebih dalam lagi"
__ADS_1
Angkasa berlari meninggalkan tempat itu, lorong yang tadi ia lewati bersama gadis itu tampak kosong, tak ada satupun orang yang ia lihat, gadis itu benar-benar pergi tanpa bekas.