
Angkasa merasa was-was, ia melihat ke belakang terus menerus, kekhawatiran terpancar jelas di wajahnya, ia sangat takut kalau ada orang yang akan menangkap basah ia dan teman-temannya di sana.
"Buruan sebelum kita ketahuan" mereka mempercepatnya, mereka sadar bahwa Angkasa takut mereka ketahuan.
"Nah kan kalau kayak gini enak di liatnya, aku jamin gak bakal ada orang yang tau kalau itu kalian" seulas senyum menghiasi wajah Angkasa kala menatap teman-temannya yang jauh dari kata gaul.
"Puas kau, ini semua gara-gara kamu, sebenarnya kita gak mau kayak gini, ini bukan diri kita" Rafael sangat terpaksa harus begini, kalau bukan karena Angkasa mana mau ia melakukan itu.
"Iya, kita gak nyaman kayak gini, culun!" tambah Aryan.
"Tapi ini demi kebaikan kalian, udah kalian diem aja, tinggal nurut aja kalian pasti akan aman" lerai Angkasa biar masalah ini tak bertambah panjang.
Wussshhhh
Kelebat bayangan keluar dari dalam gudang terbengkalai yang sudah lama tidak pernah di tempati.
Angkasa menatap seksama ke arah pintu gudang, ia penasaran siapa yang barusan keluar dari dalam.
"Ada apa sa, apa yang kamu lihat?" Reyhan merasakan ada sesuatu yang telah di tangkap oleh mata Angkasa, terlihat dari wajah Angkasa yang serius.
"Kayak ada yang lewat barusan di sana" tunjuk Angkasa ke arah gudang itu.
Mereka berempat langsung bersembunyi di belakang Angkasa, memiliki teman yang dapat melihat makhluk halus adalah sesuatu yang mengerikan bagi mereka.
"Kenapa kalian pada sembunyi, aku cuman bilang itu aja" risih Angkasa saat teman-temannya pada berlindung di belakangnya.
"Kami takut sa, kamu sih pake bilang itu segala, mending sekarang kita pergi aja dari sini, di sini angker" ajak Rafael.
"Tapi aku penasaran ada apa di dalam gudang itu, aku pengen lihat isinya, aku rasa ada sesuatu di sana" ujar Angkasa yang sudah terlanjur penasaran.
"Sa kamu jangan nyari petaka, di dalam gudang itu pasti ada banyak makhluk halus, kita jangan ke sana, kita gak akan nemuin apapun lagi selain mereka!" larang Aryan.
__ADS_1
"Tapi aku penasaran, aku mau lihat ada apa di dalam gudang itu, kalau kalian gak mau ikut, biar aku sendiri yang ke sana" Angkasa masih tetap dengan pendiriannya, ia sudah di buat penasaran maka untuk menghilangkan rasa penasaran itu ia harus melihatnya secara langsung.
"Sana kalau kamu mau liat, hati-hati sa, jangan sampai mereka bunuh kamu" peringatan Bryan.
Angkasa mengangguk, kakinya melangkah secara pelan-pelan sambil mendekati gudang.
Mereka berempat diam di tempat dengan melihat takut ke arah Angkasa yang akan mengecek keadaan di dalam gudang, mereka tidak ada yang mengikuti Angkasa, mereka tidak seberani itu.
Langkah Angkasa berhenti tepat di ambang pintu gudang, mulutnya ternganga, matanya melotot kala melihat sesuatu yang sangat mengejutkan.
"Ada apa sa, di dalamnya ada banyak hantu kan?" firasat Reyhan, dari mimik wajah Angkasa ia sudah curiga kalau gudang terbengkalai itu banyak penghuninya.
"Bukan, tapi di dalamnya ada mayat" tutur Angkasa dengan sangat-sangat terkejut.
"MAYAT!" terkesiap mereka, ekspektasi mereka tak ada satupun yang benar.
"Iya di sini ada mayat, mayatnya bersimbah darah" jelas Angkasa yang shock berat.
Mereka berempat berlari mendekati Angkasa yang masih diam di tempat, tak berani masuk ke dalam gudang.
"I-itu" tunjuk Angkasa pada mayat seorang siswi yang masih mengenakan seragam sekolah, tubuhnya bersimbah darah, wajahnya tak dapat di lihat karena di tutupi oleh darah dan rambut hitamnya.
Personil band Amanda terkejut, mulut mereka ternganga, penemuan mayat di dalam gudang terbengkalai di hari mereka pertama kali menginjakkan kaki di sekolahan ini merupakan sesuatu yang sangat-sangat menakutkan.
"M-mayat, i-itu beneran mayat" gemetar Rafael, untuk pertama kalinya ia melihat dengan jelas mayat yang bersimbah darah.
Bau anyir menyeruak masuk ke dalam indera penciuman mereka, Aryan tak tahan dengan bau darah yang membuat kepalanya pusing, ia menjauhi tempat itu untuk memuntahkan isi perutnya.
"Sial banget hari ini, belum apa-apa udah gini aja" gerutu Aryan, ia memang salah satu orang yang tidak tahan kalau melihat darah.
Mereka berempat masih diam di tempat, mereka tidak ada yang berani masuk ke dalam.
__ADS_1
"Dia itu meninggal kenapa, kenapa banyak darah, apa jangan-jangan dia meninggal karena di bunuh" dugaan Reyhan.
"Itu jelaslah, lihat aja banyak darah, aku yakin banget dia meninggal karena di bunuh" sahut Bryan.
"Kok aku penasaran siapa yang meninggal itu, Rey coba kamu cek sana" suruh Rafael.
"Enak aja main nyuruh-nyuruh aku, kalau kamu penasaran lihat aja sendiri" tolak Reyhan yang tak mau di perbudak sama Rafael.
"Ya ampun cuma nyikirin rambut cewek itu aja kamu gak mau, itu hal yang mudah buat dia lakuin, gak akan nguras tenaga kok, sana kamu singkirin rambutnya, aku pengen liat kayak apa wajah mayat itu" suruh Rafael.
"Gak, aku gak mau, kamu aja sendiri sana, jangan main nyuruh-nyuruh aku!" Reyhan sama sekali tidak mau mendekati mayat itu, dari sini saja dia sudah gemetar apalagi mendekat dan menyentuh wajahnya.
"Rey kamu itu-
"Udah-udah kalian jangan pada berantem, biar aku yang akan singkirin rambutnya" lerai Bryan.
"Sana cepetan, aku pengen liat" Rafael sudah sangat tak sabar melihat wajah seorang siswi yang tewas itu.
Bryan melangkahkan kakinya mendekati mayat yang bersimbah darah dan tengah terbujur kaku di dalam gudang.
"Jangan!" teriak Angkasa keras.
Langkah Bryan langsung terhenti, ia membalikkan badan menghadap Angkasa dengan wajahnya yang terkejut.
"Kenapa?" Bryan mengerutkan alis, ia merasa aneh mengapa Angkasa menghentikan niatnya yang akan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah mayat itu.
"Jangan, nanti sidik jari kamu tertempel di sana, bisa-bisa kamu yang akan di tetapkan sebagai tersangka!" larang keras Angkasa, ia tidak ingin teman-temannya di tuduh membunuh wanita itu padahal bukan mereka yang melakukannya.
Bryan mengerti, ia langsung kembali mendekati mereka bertiga, tak jadi yang akan menyingkirkan rambut wanita tersebut.
"Terus gimana ini, kita gak tau siapa yang meninggal itu, kita baru masuk ke sini, bagaimana kalau orang-orang curiga sama kita dan bikin nama baik kita rusak" mulai tidak tenang Rafael, ia tidak mau nama baiknya tercemar karena peristiwa ini.
__ADS_1
"Gak akan itu terjadi, orang-orang tidak akan mikir kayak gitu, kalian jangan takut, ada aku di sini, aku akan pastikan kalian aman" Angkasa menenangkan kawan-kawannya biar tidak panik.
"Sa kamu kenal gak sama dia?" penasaran Bryan.