Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Terpukul atas kepergian Cantika


__ADS_3

Angkasa ikut mengangkat keranda Cantika, tiba-tiba saat mau sampai di liang lahat yang sudah selesai di gali mata Angkasa menangkap seorang wanita yang berdiri dengan seulas senyuman yang merekah di wajahnya.


"Cantika" batin Angkasa yang mengenali wanita yang menatapnya dengan senyuman indahnya.


Cantika tidak melakukan apapun, ia hanya menatap ke arah mereka semua dengan perasaan yang benar-benar plong, rasanya ia tidak memiliki beban sama sekali saat ini.


Angkasa tak bisa untuk menghampiri Cantika karena saat ini jenazah Cantika masih belum di kebumikan.


Angkasa terus berjalan dengan tatapan yang tertuju pada Cantika.


Setelah sampai di tempat di mana terdapat sebuah lubang yang sudah selesai di gali, para warga langsung mulai penguburan jenazah, tidak baik jika proses penguburan di tunda-tunda karena itu akan membuat jenazah terasa berat.


Sehabis penguburan selesai di lakukan, ustadz yang ikut serta langsung membacakan doa yang di amini oleh semua orang.


Semua orang satu-persatu membubarkan diri setelah pemakaman kelar, di sana kini hanya tinggal, Steven, Angkasa, Rev, Aldo, Rafael, Aryan, Reyhan dan juga Bryan.


Pemakaman pun telah selesai, Aldo menatap sebuah makam seseorang yang amat ia kenali, tatapan Aldo penuh dengan kesedihan.


"Ca selamat beristirahat, aku harap setelah ini kamu bisa tenang, aku di sini akan berjuang mencari dia yang sudah bikin kamu kayak gini" dengan mengusap batu nisan Aldo berjanji pada Cantika bahwa dirinya akan bisa menangkap pelakunya.


Mereka semua yang berada di sana menyadari bahwa Aldo begitu kehilangan sosok Cantika yang merupakan teman karibnya.


"Aku gak akan berhenti ca sampai dia di tangkap, aku akan berjuang keras untuk bisa tangkap dia, kamu doakan aku semoga aku bisa menangkap orang yang sudah bikin kamu kayak gini" tatapan dendam terpancar di wajah Aldo.


Aldo tidak terima penjahat itu membuat temannya seperti ini, sampai kapanpun ia tidak akan pernah terima.

__ADS_1


"Aldo Cantika pasti sudah tenang di alam sana, kita doakan yang terbaik untuk dia, kita juga tak akan pernah berhenti sebelum dalangnya di tangkap" ujar Rafael memberi Aldo semangat.


Rafael menyadari bahwa Aldo saat ini tengah rapuh, hanya dengan semangat bisa membangkitkan dia lagi.


"Betul itu al, Cantika udah pasti tenang di alam sana, dia sudah tidak merasakan sakit lagi" timpal Steven memberi Aldo dukungan.


"Kamu harus bisa ikhlasin dia al biar dia bisa beristirahat dengan tenang di sana, kalau kamu gak bisa ikhlasin dia, aku hanya takut dia berat untuk beristirahat di sisinya" sahut Angkasa agar Aldo tak semakin rapuh dan dunianya tidak terus menerus di selimuti kesedihan.


Aldo menyeka air matanya, dengan bersedih ia sadar bahwa hal itu tidak akan bisa mengembalikan Cantika.


"Udah kamu jangan sedih lagi, ayo sekarang kita balik ke rumah Cantika lagi, kita jemput Clara, dia masih ada di sana, habis itu kita langsung ke sekolahan, tadi kepala sekolah nelpon aku, dia minta kita ke sana, ada sesuatu yang ingin dia tanyakan sama kita" tutur Rev.


Aldo pun bangkit dari jongkoknya."Iya, ayo kita pulang, aku yakin Cantika sudah tenang di alam sana"


Cantika yang kini sudah menjadi arwah menatap kepergian mereka dengan seulas senyuman yang tak kunjung pudar.


"Terima kasih teman-teman, kalian sudah baik sama aku, aku gak nyangka bahwa kalian akan sebaik ini sama aku, aku minta maaf karena aku mengambil jalan ini, sungguh ini semata-mata hanya karena ingin menyelamatkan nyawa mama ku, aku tidak mau penjahat itu menghabisi mama, lebih baik aku saja yang pergi, dari awal dia memang menginginkan ku maka aku rela dengan keadaan ini"


Cantika sadar bahwa jalan yang ia pilih salah, namun ia tidak memiliki jalan lain untuk bisa menyelesaikan persoalan yang ia hadapi.


Di dunia ini tidak ada yang bisa ia andalkan, walaupun Aldo mewanti-wanti bahwa dirinya yang akan menjaga dan melindungi keluarga Cantika, tetapi yang namanya bencana tidak ada yang berpamitan.


Mungkin dengan cara yang Cantika ambil ini sang dalang akan berhenti meneror keluarganya.


Di rumah Cantika.

__ADS_1


Clara menemani mama Cantika yang masih belum siuman bersama warga-warga lainnya, Sari jatuh pingsan saat jenazah Cantika di bawa ke pemakaman umum, salah satu warga memberikan minyak kayu putih agar Sari kembali siuman.


Clara menatap sedih ke arah Sari, ia mengerti perasaan Sari yang shock berat saat mengetahui bahwa anak semata wayangnya telah berpulang.


"Kasihan tante Sari, dia sampai pingsan gara-gara hal ini, lagian ibu mana yang gak akan shock kalau anaknya di kabarkan meninggal dunia dengan cara yang terbilang tragis, sungguh aku gak nyangka bahwa Cantika akan mengambil langkah ini" batin Clara menatap miris.


Sembari menunggu kedatangan teman-temannya Clara menemani Sari yang masih belum siuman, Clara menatap sekitarnya.


Sesuatu menarik perhatian Clara, ia mengambil sebuah benda yang di letakkan di atas meja.


"Kotak apa ini? apa mungkin ini kotak yang udah di kirim sama penjahatnya ke rumah Cantika sehingga Cantika memutuskan untuk melakukan tindakan bunuh diri" pikir Cantika dengan menatap kotak berwarna merah yang terlihat elegan.


"Ku rasa iya, memang ini kotak yang udah buat Cantika memilih untuk melakukan tindakan bunuh diri, aku harus liat kayak apa surat ancaman yang bikin Cantika down parah, semoga saja ada alasan yang menyebutkan mengapa dalangnya membunuh Cantika" Clara dengan terburu-buru membuka kotak itu.


Clara menemukan sebuah surat yang berada di dalam kotak tersebut.


"Jika dalam waktu 24 jam kau tidak mati, maka kau akan melihat ibu mu yang mati" Clara tercekat membaca isi surat ancaman itu.


"Separah ini dia ngancem Cantika, pantesan aja Cantika ketakutan" Cantika geleng-geleng kepala dengan isi kalimat yang di tulis dengan rapih itu.


"Dia benar-benar gila, dia sampai segitunya yang ngacem Cantika, dia sungguh sangat keterlaluan, dia gak bisa di diamin lagi, udah ada banyak korban yang berjatuhan gara-gara dia" Clara menjadi geram dengan sosok pembunuh misterius itu.


"Tapi apakah hanya ini saja yang dia kirim, kenapa gak ada bukti yang lebih besar lagi, ku rasa di sini ada, aku harus cari dulu!" Clara membongkar kotak itu untuk mencari bukti lagi.


"Gak ada, di sini gak ada lagi bukti itu, dia hanya ngirim surat ancaman ini saja, aku nanti akan kasih tau yang lain, sekarang aku harus simpan kotak ini baik-baik, ini bisa di jadikan barang bukti" Clara membuka tasnya, ia memasukkan kotak itu ke dalam tasnya untuk ia jadikan bukti selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2