
"Clara aku mohon kamu berhentilah, kamu gak tau apa yang sudah terjadi di antara kami, kamu gak tau pelakunya siapa dan alasan yang sudah buat dia bunuh aku, Jia, Kayla dan juga Dyera, kamu gak tau, kalau kamu tau seperti apa alasannya kamu pasti akan dukung dia, sungguh aku mohon pada mu hentikan usaha mu, biarkan dia balas dendam pada orang-orang yang sudah menyakitinya" mohon Miranda sekali lagi.
Clara geleng-geleng kepala dengan tak percaya bahwa Miranda akan mengatakan hal ini.
"Enggak, apapun alasannya aku gak mau berhenti gitu aja, kalau kamu mau aku berhenti, katakan dulu pada ku apa alasan dirinya bunuh Jia, Kayla, Dyera dan juga kamu!" Clara mulai terbawa emosi saat Miranda mendesaknya untuk berhenti.
Miranda tiba-tiba menjadi pendiam, ia sulit untuk mengatakan alasannya.
"Kamu gak bisa kasih tau alasannya bukan, ya sudah kalau seperti itu aku tidak akan pernah berhenti sampai dia masuk ke dalam jeruji besi!" pertegas Clara tidak main-main.
Demi sahabatnya yang sudah meninggal mendapatkan keadilan, ia akan melakukan apapun agar pelakunya di tangkap, ia tidak akan berhenti dengan mudah, ia akan berjuang sampai titik darah penghabisan.
"Clar plis dengarin aku, kamu jangan ikut campur masalah ini, itu akan bahayain diri kamu sendiri, kamu jangan berusaha buat nangkap dia, aku hanya gak mau nyawa kamu yang ikutan melayang lantaran kamu yang terlalu ikut campur!" kecam Miranda dengan tegasnya.
"Miranda aku gak peduli dia mau lakuin apapun ke aku, yang penting itu aku ingin menegakkan keadaan, aku mau titik terang dari kasus ini, aku gak biarkan dia gitu aja, dia sudah bunuh banyak orang termasuk kamu, aku gak mau mir ada banyak orang yang gak berdosa yang tewas karena ulah dia" penuh penekanan Clara.
"Clara sudah berapa kali aku bilang, kamu jangan ikut campur masalah ini, kamu gak tau kronologisnya, seandainya kamu tau kamu pasti akan mendukungnya" Miranda terus berusaha menghentikan tindakan Clara.
"Apapun alasannya aku tetap gak akan mau mendukung tindakan kriminalitas itu, kamu jangan berusaha buat halangi aku, karena aku gak akan pernah berhenti, aku ingin orang yang sudah bunuh Jia di tangkap, aku gak mau dia berkeliaran bebas gitu aja, aku yakin suatu saat nanti aku pasti bisa tangkap dia" pertegas Clara tak main-main.
"Terserah kamu, terserah kamu mau turutin atau enggak ucapan aku, yang jelas kalau ada apa-apa sama kamu, aku gak akan tanggung jawab, kamu tanggung resikonya sendiri" tutur Miranda yang kesal, kemudian menghilang meninggalkan Clara sendirian di sana.
Clara duduk kembali di kursi, ia mencerna baik-baik ucapan Miranda yang benar-benar tak masuk akal menurutnya.
__ADS_1
"Kenapa Miranda minta aku buat berhenti mengusut tuntas kasus ini, dia korbannya, dia udah jadi korbannya, tapi mengapa dia malah mendukung orang yang sudah jelas-jelas celakain dia sampai dia merenggang nyawa, ada apa yang terjadi sama mereka, mengapa sepertinya mereka terlibat konflik yang cukup panas"
Clara bertanya-tanya, di lain sisi korban-korban yang berhasil tewas meminta Clara untuk mengusut tuntas kasus ini, mereka berharap pelakunya bisa di tangkap, namun di sisi lain Miranda yang juga korban dari kasus ini memintanya untuk berhenti dan membiarkan sang dalang melakukan apa yang dia inginkan.
"Tadi Miranda bilang kalau ini semua terjadi juga gara-gara ulahnya, dia merasa bersalah atas apa yang sudah dia lakukan pada dalangnya, dia nerima kalau dalangnya membunuhnya, yang jadi pertanyaannya apa kesalahan yang sudah Miranda lakukan sehingga dalangnya tega menghabisinya dan juga yang lain?" heran Clara yang masih belum menemukan titik terang meskipun sudah ada banyak orang yang berusaha untuk mencarinya.
Clara memikirkan kesalahan yang telah Miranda perbuat dengan keras, ia ingin tau alasannya namun satupun orang tak ada yang bisa ia introgasi.
"Clara" panggil seseorang yang berhasil membuyarkan lamunannya.
Clara menatap seseorang yang berdiri di sampingnya dengan terkejut.
"Dyera, Dyera kamu pasti tau kan siapa yang sudah bunuh kamu, aku mohon tolong kasih tau aku, aku pasti akan tangkap dia" mohon Clara dengan harapan bahwa Dyera membuka mulut dan memberitahukan segalanya padanya.
Wajah Clara langsung kusut, sekali lagi korban tidak mau memberitahunya."Ayolah Dyera, tolong beritahu aku siapa dia, aku dan yang lain tengah mencoba untuk mencarinya, aku mohon kamu tolong kasih tau aku, kamulah harapan aku satu-satunya, mereka gak ada yang mau ngasih tau aku, hanya kamu yang bisa"
Dengan memohon Clara berusaha untuk meminta Dyera untuk membuka mulut, ia mempunyai harapan bahwa Dyera bisa menyebutkan nama orang yang ia cari-cari.
"Clara aku gak bisa beri tau kamu, aku memang tau siapa dia, tapi aku tidak bisa mengatakannya" ujar Dyera sekali lagi.
Clara semakin manyun, dia ingin sekali tau siapa yang sudah membunuh sahabat terbaiknya namun tak ada seorangpun yang bisa memberitahunya.
"Kamu carilah dia, aku yakin cepat atau lambat kamu pasti akan tau siapa dia" setelah mengatakan hal itu Dyera menghilang dari sana meninggalkan Clara yang terpuruk.
__ADS_1
"Mengapa semua orang gak ada yang mau ngasih tau aku, apa susahnya coba buat nyebutin nama doang, kenapa sulit banget" frustasi Clara karena tak ada satupun yang menyebutkan nama orang yang ia cari-cari.
Clara yang kacau hanya bisa diam di sana, ia tambah penasaran dengan orang yang menjadi buronan saat ini.
Rev dan Angkasa yang sudah pulang menatap wajah Clara yang kusut.
"Kenapa tuh anak, kenapa dia kayak orang yang punya masalah berat" heran Rev dengan sepupunya sendiri.
"Ayo kita samperin dia" ajak Angkasa.
Mereka berdua menghampiri Clara yang tak jauh dari sana.
"Ayo pulang, ini sudah sore" ajak Rev.
Dengan wajah yang masih di tekuk Clara bangkit dari duduk, mereka bertiga masuk ke dalam taksi yang sama.
Supir taksi membawa mereka pergi dari sana, arah rumah mereka berbeda namun Angkasa meminta supir taksi itu untuk mengantar Rev dan Clara terlebih dahulu baru setelah itu dirinya.
Rev melirik sepupunya yang tiba-tiba menjadi anak pendiam."Kamu kenapa clar, kenapa diam aja, apa ada masalah di sana saat gak ada aku?"
Clara menghembuskan nafas berat, untuk memberitahukan masalah ini pada mereka rasanya berat.
"Tadi aku ketemu Miranda di sana" dengan suara yang lemas Clara menjawab.
__ADS_1