Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Mengancam akan membunuhnya


__ADS_3

Cantika mengeluarkan semua isi foto yang ada di dalam kotak itu, bertapa kagetnya ia kala menemukan sebuah surat yang berada di bawah foto-foto itu.


"Suara apa ini, apa ini surat pengirimnya?"


Cantika mengerutkan alis menatap surat yang ia temukan di bawah foto-fotonya dan juga teman-temannya.


"Coba aku baca, aku pasti akan tau siapa yang sudah ngirim kotak ini ke sini" Cantika yang penasaran membuka surat itu dan mulai membacanya.


"Kematian mu sudah dekat, cepat atau lambat kau akan mati, jika kau tidak mati maka kau akan melihat ibu tercinta mu mati" isi surat yang Cantika baca.


Cantika langsung menjatuhkan surat itu, ia tercengang dengan kalimat ancaman yang benar-benar sadis itu.


"A-apa ini, dia ingin membunuh ku, siapa dia, kenapa dia berniat ingin membunuh ku" terkesiap Cantika, ia setengah tidak sadar dengan apa yang barusan ia baca.


Cantika menelan ludah pahit, tubuhnya langsung begetar saat mendengar surat ancaman itu.


Cantika melihat sebuah foto seseorang yang ia kenali, namun seluruh foto itu di penuhi darah.


"K-kenapa foto mama berlumuran darah begini, apa jangan-jangan dia udah bunuh mama" bergetar tubuh Cantika, ia langsung berlari mengambil hpnya yang ia letakkan di sofa.


Cantika menghubungi ibunya dengan panik, ia takut terjadi sesuatu pada ibunya.


Teror yang di kirim ke rumahnya membuatnya gelisah, pikiran-pikiran buruk datang menghampirinya secara bersamaan.


"Mama, tolong angkat ma, aku mau dengar suara mama, aku mau mastiin mama baik-baik aja, aku mohon ma angkat telpon aku" titah Cantika dengan mondar-mandir ke sana kemari lantaran dirinya yang tak bisa diam.


tutt


tutt


tutt


Panggilan tak kunjung terjawab, Cantika semakin resah, ia semakin takut berlebihan, kali ini bukan hantu yang ia takuti tetapi penjahat yang mengancam dan membuatnya ketakutan hebat.

__ADS_1


"Mama angkat telponnya, aku mohon angkat telpon aku ma" panik Cantika yang tak bisa diam.


tutt


tutt


tutt


"Aaahh kenapa mama gak angkat telpon aku, apa jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi sama mama, aku gak mau hal itu terjadi, aku gak mau kehilangan mama, aku tidak mau hiks hiks hiks"


Cantika yang takut dengan penjahat yang mengancam akan membunuhnya ibunya menangis di sana, ia ketakutan, ia sangat takut untuk penjahat itu menghabisi satu-satunya orang tua yang ia miliki di dunia ini.


"Aku gak mau mama pergi, aku akan sama siapa kalau gak ada mama, aku gak akan bisa bertahan hidup" Cantika mulai putus asa, ia tidak mampu membayangkan betapa hancurnya dia kala dia kembali kehilangan sosok ibunya seperti dulu ia kehilangan ayahnya.


Ibu Cantika selama ini berjuang keras agar Cantika bisa hidup dengan layak, setelah bokapnya meninggal, ibunya yang berjuang dengan keras, dia sampai jarang berada di kota ini karena saking sibuknya bekerja.


Cantika mengerti alasan ibunya yang tidak kunjung berada di rumah, ia sebagai anak bisa berdoa semoga ibunya senantiasa berada di dalam lindungannya.


"B-bagaimana kalau ternyata dia udah bunuh mama, aku akan tinggal sama siapa kalau mama gak ada, aku harus apa, apa yang harus aku lakukan" pikiran buruk terus menghantui Cantika, ia dalam rumah ia ketakutan dan terus menangis.


"Enggak, gak mungkin dia bunuh mama, mama gak mungkin meninggal, mama ku masih hidup, dia gak boleh bunuh mama, sampai kapanpun aku gak rela mama ku meninggal gara-gara dia" teriak Cantika histeris, ia tak mampu membayangkan jika ia benar mimpi buruk itu terjadi menimpanya.


Cantika hanya bisa menangis, ia berusaha membantah pikiran-pikiran kotor yang tiba-tiba datang menghampirinya, ia tak sanggup, benar-benar tak sanggup saat kehilangan ibunya.


"Siapa yang udah tega ngirim beginian ke rumah aku, kenapa di jahat banget ngirim teror ini ke rumah aku, apa salah ku!" Cantika mengingat-ingat apa kesalahan yang telah di lakukan sehingga seorang penjahat ingin menghabisinya.


Cantika mencari benda apa lagi yang ada di dalam tas itu, namun sudah tak ada apapun lagi, yang terdapat di tas itu hanya rambut dan kotak yang berisi surat serta foto dia dan teman-temannya.


"Kenapa di sini gak ada nama pengirimnya, aku gak bisa tau dia kalau kayak gini" pekik Cantika kesal dengan air mata yang sesekali mengalir.


Cantika tidak akan membiarkan dia membunuh ibunya, sampai kapanpun Cantika tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


Pandangan Cantika menatap ke arah rambut yang di duga milik seorang wanita, rambut itu masih berada di lantai, Cantika tidak ada niatan untuk membuangnya.

__ADS_1


"Jangan-jangan rambut-rambut ini rambut mama!" tercekat Cantika.


Isi kepala Cantika penuh dengan pikiran-pikiran kotor, ia tak bisa berpikir jernih saat ini.


Cantika langsung menutup mulut tak percaya, pikirannya tiba-tiba mengarah ke sana, bulir-bulir bening langsung berjatuhan di wajahnya.


"Enggaaakkkk!"


"Gak mungkin, gak mungkin dia udah bunuh mama, gak, itu gak mungkin terjadi" teriak Cantika histeris.


Cantika membantah keras pikirannya sendiri, ia tak mau hal itu terjadi, ia tidak akan pernah mau petaka besar itu terjadi menimpa keluarganya lagi.


"Aku harus telpon mama lagi, aku harus pastikan kalau mama baik-baik saja, aku harus lakuin itu, aku gak bisa diem aja, aku gak boleh biarkan dia bunuh mama"


Dengan deraian air mata Cantika kembali menghubungi mamanya, tubuhnya bergetar, ia takut pikiran-pikiran buruk itu terjadi menimpanya.


"Ma aku mohon angkat telpon aku, aku mohon ma, sekali saja, aku ingin dengar suara mama" titah Cantika yang sangat gelisah.


Cantika mulai kacau, pikiran-pikiran buruk terus berdatangan dan membuatnya tak bisa diam, ia tak bisa tenang sebelum mendengar suara ibunya, ia tidak akan berhenti mencoba sebelum usahanya membuahkan hasil.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat di hubungi, cobalah beberapa saat lagi" operator menjawab panggilan tersebut.


Seketika hp yang Cantika pegang langsung jetuh ke bawah, ia duduk dengan lemas di bawah, ia menangis keras, ibunya sulit untuk di hubungi, kekhawatiran terpancar jelas di wajahnya, ia takut mendengar kabar buruk tentang ibunya.


"Mama, mama jangan tinggalin aku, aku gak mau hidup sendiri di dunia ini, aku gak akan bisa, aku mohon mama jangan pergi, aku mohon jangan bunuh mama ku hiks hiks hiks"


Cantika yang kacau hanya bisa menangis meratapi nasibnya yang buruk, kala dirinya kehilangan sang ayah, kesulitan terus menghampirinya, ekonomi yang tidak stabil mengharuskan ibunya bekerja keras untuk membiayai hidupnya, ia tak mampu mendengar berita duka yang menewaskan ibunya, ia tidak akan sanggup bertahan tanpa adanya seorang ibu yang berada di sampingnya.


"Jangan bunuh mama ku, aku tidak mau dia pergi, dia tidak tau apa-apa, jangan habisi dia, jika kau dendam pada ku, habisi aku saja, jangan mama ku" teriak Cantika yang kacau.


Mentalnya langsung down saat mendapatkan kiriman berupa ancaman tersebut.


Cantika terus menangis, ia masih berharap bahwa ibunya baik-baik saja, pikiran-pikiran buruk itu semakin datanh karena ibunya yang sulit untuk di hubungi, sebelumnya ibunya tidak pergi begini.

__ADS_1


"Cantika, kamu jangan nangis, ibu mu baik-baik saja, dia baik-baik saja, gak akan ada yang terjadi sama dia, percayalah" Cantika berusaha meyakinkan dirinya, percuma dia meraung keras di rumahnya karena hal itu akan menyelesaikan masalah.


"Kamu jangan mikir macem-macem dulu, kamu yakinlah bahwa ibu mu baik-baik saja, dia tidak akan membunuh ibu mu" Cantika berulang kali meyakinkan dirinya bahwa ibunya akan baik-baik saja.


__ADS_2