
Tak berselang lama dari itu mereka tiba di sebuah bangunan yang selalu mereka jadikan tempat latihan.
Mereka melangkah keluar dari dalam mobil lalu masuk ke dalam bangunan tersebut untuk menemui manajemen mereka.
"Assalamualaikum" salam mereka kompak.
"Wa'alaikum salam" jawab om Jun.
"Om malam ini adalah malam terakhir kami latihan di sini" ujar Rafael.
Om Jun mengerutkan alis."Kenapa begitu?"
Om Jun terkejut, ucapan Rafael membuatnya dag-dig-dug.
"Karena besok kami akan ikut camping yang di laksanakan di sekolah, kami gak bisa latihan seperti biasanya karena tempatnya katanya jauh dari kota ini" jawab Angkasa.
"Oalah tak kirain ada apaan. Berapa hari kalian campingnya?" Tanya om Jun.
"Sekitar 1-4 mingguan om, pihak sekolah masih belum mengkoordinasi pasti kapan camping itu berakhir, tapi kami merasa camping itu lumayan lama" jawab Aryan.
"Gak apa-apa kan om kita camping?" Meminta izin Reyhan.
"Gak apa-apa, perform kalian juga masih lama, kalian boleh melakukan apa yang kalian mau, asal hati-hati dan jangan sampai ada orang yang tau kalau kalian itu personil band Amanda" peringatan om Jun.
"Baik om" sahut mereka kompak.
"Sekarang kalian mulai latihan gih, habis itu pulang biar besok kalian gak kesiangan bangunnya" suruh om Jun.
Mereka mengangguk patuh. Kelima laki-laki itu mulai latihan dengan semangat yang berkobar karena musik yang selama ini telah menghidupkan mereka.
Setelah selesai latihan mereka berpamitan. Mereka tidak langsung pulang melainkan bergegas meluncur ke rumah sakit untuk menjaga Gina yang lagi di rawat di sana.
Setibanya di sana mereka langsung masuk ke dalam rumah sakit dan mendekati ruangan ICU tempat terakhir Gina di rawat.
"Dokter-dokter, dokter tolong" teriak suster panik mencari dokter.
"Ada apa suster?" Tanya mereka ikutan panik lantaran suster itu habis keluar dari kamar perawatan Gina.
"Dokter-dokter" suster terus berteriak nama dokter dan mengabaikan pertanyaan mereka.
Dokter yang mendengar langsung mendekati suster.
"Ada apa suster?" Tanya dokter panik.
"Pasien kritis dok, tolong dia" jawab suster.
"Ayo kita ke sana" ajak dokter.
Suster dan dokter itu masuk ke dalam ruangan ICU.
__ADS_1
Mereka sontak terkejut, mereka saling memandang, ucapan suster itu membuat separuh nafas mereka terhenti.
"Apa Gina kritis!" Terkesiap Bryan.
"Di mana kedua orang tuanya Gina, kenapa mereka gak ada di sini" panik Reyhan.
"Cari mereka sekarang, mereka harus tau keadaan Gina" suruh Rafael.
Aryan dan Reyhan berlari keluar dari area rumah sakit mencari keberadaan kedua orang tua Gina yang di curigai berada di sekitar sana.
Sementara mereka bertiga tegang dan tak bisa diam. Kondisi Gina masih belum mereka ketahui sehingga rasa cemas mendominasi diri mereka.
"Semoga Gina baik-baik aja, semoga dia bisa di selamatkan" harapan Bryan.
Mondar-mandir ke sana kemari itulah yang di lakukan mereka. Ketegangan terus terasa, waktu seakan berjalan begitu lambat.
"Ayo Tante om cepat" teriak Aryan berlari mendekati mereka bertiga dengan di ikuti kedua orang tua Gina.
"Gimana keadaan Gina?" Tanya Tante Marissa panik.
"Kami belum tau Tante, Gina lagi di tangani sama dokter" jawab Angkasa.
Rasa khawatir dan cemas langsung terlihat di wajah kedua orang tua Gina.
"Papa gimana ini pa, Gina pa" gelisah Tante Marissa.
"Mama tenanglah, Gina anak kita akan baik-baik aja, dia pasti kuat dia gak mungkin menyerah gitu aja" Gunawan berusaha untuk menenangkan keadaan yang menegang.
Krieet
Pintu ruangan ICU terbuka, mereka langsung mendekati dokter yang keluar.
"Dokter gimana keadaan anak saya dok, dia baik-baik aja kan dok?" Tanya Marissa cemas.
"Maaf Bu Pak, kami sudah melakukan yang terbaik namun takdir berkata lain" ucap dokter tertunduk sedih.
Mereka terguncang, jantung mereka memompa dengan cepat, pikiran-pikiran buruk langsung menghampiri.
"M-maksud dokter?" Tanya Tante Marissa lagi.
"Anak ibu dan bapak sudah meninggal dunia" tutur dokter.
"Enggaakk! Gak mungkin anak saya meninggal, dokter pasti salah!" Histeris Tante Marissa tak bisa menerima fakta buruk yang menimpa rumah tangganya.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan pasien, tapi sayangnya takdir sedang tidak berpihak" jawab dokter.
Setetes air mata mengalir di wajah Tante Marissa, kepalanya terus menggeleng tak menerima bahwa kini anak kesayangannya telah tutup usia.
"Gak mungkin Gina meninggal, gak mungkin" teriak Tante Marissa lalu ambruk dan tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Mama" teriak Gunawan panik saat istrinya jatuh pingsan lantaran shock berat mendengar fakta baru ini.
"Mama bangun ma, dokter tolong istri saya" titah Gunawan.
"Suster-suster tolong ambilkan brankar" suruh dokter ikutan panik.
Suster dengan sigap mengambil brankar dan membawa Tante Marissa ke ruangan UGD untuk di tangani.
Mereka berlima mematung, dunia mereka kembali terguncang. Tadi siang mereka sudah amat senang lantaran bisa menyelamatkan Gina tapi sayangnya kesenangan mereka bersifat sementara. Gina telah berpulang dan membuat usaha mereka sia-sia.
"Gak mungkin, gak mungkin Gina ikutan meninggal. Gak mungkin" Angkasa terus mengucapkan kata-kata itu.
"Sa cepat kamu hubungi Rev dan yang lain, mereka harus tau kalau Gina udah gak ada" suruh Rafael.
Angkasa secepat kilat menghubungi Rev untuk memberitahukan berita duka yang kembali melanda sekolahan.
"Halo ada apa sa, kamu udah ada di rumah sakit bukan. Sekarang gimana keadaan Gina, apa dia udah lebih baikan?" Ragam pertanyaan di ajukan oleh Rev.
"Rev Gina meninggal, nyawanya gak ketolong. Aku mohon kamu ke sini, orang tuanya Gina shock, saking shocknya ibunya sampai pingsan" jelas Angkasa.
"APA, Gina meninggal" shock Rev di seberang telpon.
"Iya, cepat kamu ke sini. Aku sama teman-teman aku tunggu kamu di sini" titah Angkasa.
"Baik, aku akan segera ke sana" jawab Rev lalu mematikan sambungan telpon.
"Ada Rev, siapa yang nelpon?" Tanya Clara mendatangi kamar Rev karena memang ingin berjumpa dengan sepupunya.
Rev menoleh ke belakang yang merupakan Clara."Angkasa, dia bilang kalau Gina udah meninggal. Kita harus ke sana, mereka lagi ada di sana"
"Iya ayo, kita harus segera ke sana" setuju Clara panik.
Mereka berdua dengan terburu-buru berangkat ke rumah sakit menemui Angkasa dan kawan-kawannya.
Rev dengan kecepatan tinggi melajukan mobilnya.
"Clara cepat hubungi Aldo sama Steven, mereka harus tau keadaan Gina sekarang" suruh Rev sambil fokus menyetir mobil.
"Iya" sahut Clara.
Clara menuruti perintah Rev, ia dengan cepat menghubungi Steven.
"Halo ra, kenapa kamu hubungi aku malem-malem begini?" Tanya Steven.
"Stev aku sama Rev mau ke rumah sakit, kamu segera ke sana" jawab Clara.
"Ngapain kalian mau ke rumah sakit?" Panik Steven di seberang telpon.
"Gina stev, Gina meninggal. Aku di kabarin sama Angkasa. Kamu tolong ke sana dan juga beri tau Aldo sekalian, biar dia juga ke sana" titah Clara.
__ADS_1
"Oke-oke aku akan ke sana" jawab Steven.