Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Hasil otopsi


__ADS_3

"Eh tunggu" teriak seseorang yang membuat langkah mereka terhenti.


Mereka bertiga menatap ke belakang, terlihat seorang laki-laki yang sebaya dengan mereka berlarian mendekat.


"Kalian mau pada kemana?" Rev penasaran dengan tujuan mereka.


"Kami mau ke perpustakaan, ayo kamu ikut ke sana" ajak Clara.


Rev tanpa banyak bicara mengikuti mereka, selain Steven, teman laki-laki Clara dan Jia adalah Rev, Clara dan Rev berteman sejak kecil, mereka sepupuan, rumah mereka bersebelahan, Rev duduk di bangku kelas 12 SMA, selisih 1 tahun dengan Clara, namun hal itu tidak menjadi hambatan dalam pertemanan mereka, hubungan pertemanan mereka terjalin dengan baik.


Di sekolahan ini Rev di tugaskan menjaga sepupu kecilnya, mama Clara menitipkannya pada Rev, mau tak mau Rev harus menjaga Clara dengan sebaik mungkin.


Mereka berempat berhenti di depan perpustakaan.


"Loh kok pintunya kebuka" perasaan Clara menjadi tak enak ketika pintu perpustakaan di temukan terbuka, padahal tadi ia sudah menutupnya rapat-rapat.


Clara dengan terburu-buru berlari masuk ke dalam, Clara mendekati buku harian Jia yang ia taruh di rak buku paling pojok.


"Mana bukunya Clara?" tak sabaran Steven, ia ingin melihat isi buku tersebut.


"Tadi bukunya ada di sini, kenapa sekarang gak ada, siapa yang sudah ngambil buku itu di sini" panik Clara mencari kemana-mana buku harian Jia berada.


"Apa buku itu hilang!" kaget mereka bertiga.


Clara mengangguk dengan wajah cemas."Tadi buku itu aku simpan di sini, kenapa sekarang gak ada, siapa yang sudah ngambilnya"


"Coba kamu cari lagi, mungkin terselip" perintah Angkasa.


"Gak ada sa, buku itu gak di sini, padahal tadi aku tarok buku itu di sini" Clara tak bisa tenang kala buku harian Jia tiba-tiba menghilang.


"Kok bisa buku itu tiba-tiba hilang, kamu tarok di sana kan?" Clara mengangguk dengan wajah yang terus menerus cemas.


"Iya stev, tadi aku tarok buku itu di sini, aku tadi mikir gak bakal ada orang yang ambil" jawab Clara.

__ADS_1


"Ini pasti ada orang yang sudah nyuri buku itu" feeling Angkasa.


"Tapi siapa, biasanya kan gak ada yang berani masuk ke sini?" Clara semakin gelisah, karena kecerobohannya buku satu-satunya yang bisa membawa ke pada tersangka kasus ini hilang.


"Buku apa sih yang kalian maksud?" bingung Rev yang tidak tau kronologisnya.


"Buku harian Jia, buku itu mengarah pada tersangkanya, tapi sekarang bukunya hilang" jelas Clara.


"Pasti orang yang sudah bunuh Jia yang ngambil buku itu!" firasat Rev.


"Tapi dari mana dia tau, di sini yang tau cuman aku, Angkasa dan kalian berdua, masa ada orang lain lagi yang tau" Clara merasa yakin kalau tidak akan ada orang yang tau masalah itu selain mereka berempat.


"Tapi bisa aja pelakunya dengar perbicangan kalian, dia itu pasti yang sudah ngambil buku harian Jia, gak mungkin dia biarkan kalian baca buku itu sampai tuntas" timpal Rev yang memiliki keyakinan penuh bahwa yang mengambil buku harian Jia adalah orang yang sudah bunuh Jia.


"Kok bisa kita gak ada yang sadar kalau pelakunya udah tau masalah buku itu?" heran Clara yang sebelum-sebelumnya tidak menaruh rasa curiga sama sekali pada orang-orang di sekitarnya.


"Dia itu masih misterius bagi kita, kita masih belum tau siapa dia, jelas kamu gak sadar tentang keberadaan dia" sahut Steven.


"Mau gak mau kita harus selidiki satu persatu orang yang berada di sekolahan ini, Jia kan bilang kalau pelakunya ada di sekolah ini juga, kita harus cari dia sampai dapat!" ujar Angkasa.


"Itu harus, kita harus temuin pelakunya biar semua perkara ini jelas!" sambung Steven.


"Kita mau cari tau dari mana dulu?" Clara meminta pendapat mereka bertiga.


"Kalau menurut aku kita selidiki teman-teman sekelas Jia, aku yakin banget pelakunya gak jauh, dia pasti ada di sekitar Jia" sahut Rev yang menyuarakan pendapatnya.


"Betul juga, kita harus selidiki satu persatu teman-teman sekelas Jia, baik itu laki-laki maupun perempuan" setuju Clara prihal usulan Rev.


"Kita mulai dari siapa?" Steven menatap mereka bertiga bergantian.


"Kita mulai dari Kayla, dia adalah teman sebangku Jia" jawab Rev.


"Dari mana kamu tau?" kompak mereka semua, di antara Clara dan Steven tidak pernah tau bahwa Jia selama ini satu bangku dengan Kayla, apalagi Angkasa yang baru di sekolahan ini.

__ADS_1


"Jelas aku tau, aku kan ketua OSIS, aku pernah mantau ke setiap kelas yang ada di sekolahan ini, aku tau bahkan hafal semua urutan tempat duduk murid-murid di sekolahan ini" perjelas Rev.


"Oh iya, aku lupa, apa gak ada berita apapun lagi tentang Jia yang kamu tau, kamu kan ketua OSIS?" penasaran Clara.


"Menurut hasil otopsi di tubuh Jia tepatnya di bagian perut di temukan luka tusuk sebanyak 4 kali" jelas Rev yang berhasil membuat mulut mereka ternganga karena terkejut.


"L-luka tusuk!" terbata-bata Clara.


"Iya, ada luka tusuk yang di temukan di tubuh Jia, aku tau hal ini karena sebelum masuk kelas di adakan rapat OSIS yang di hadiri para anggota dan juga dewan guru, rapat itu membahas tentang kematian Jia" jawab Rev.


"J-jadi benar kalau Jia meninggal karena di bunuh!" tercekat Clara, ia tak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang di rasakan Jia ketika hampir meregang nyawa.


"Aku dan anggota organisasi awalnya ngira gitu, tapi dugaan kami di bantah saat di temukan luka sayatan di pergelangan tangan kiri Jia yang memutus urat nadinya, para anggota ada yang menyebut kalau Jia meninggal bunuh diri" sambung Rev.


"Gak mungkin Rev, Jia gak mungkin meninggal bunuh diri, sudah jelas-jelas Jia meninggal karena di bunuh" bantah keras Angkasa, ia amat yakin Jia meninggal karena di bunuh oleh orang jahat.


"Kenapa kamu yakin Jia meninggal karena di bunuh?" Rev ingin tau alasan Angkasa.


"Karena Jia sendiri yang bilang pada kami bahwa dia meninggal karena di bunuh" sahut Angkasa.


"Emang kamu bisa lihat dia?" sedikit kaget Steven, setahunya cuman Clara yang bisa berinteraksi dengan mereka yang tak kasat mata.


"Aku bisa lihat dia, Jia sudah bilang kalau dia meninggal di bunuh bukan bunuh diri" jawab Angkasa.


"Terus gimana lagi Rev, informasi apa lagi yang kamu tau?" penasaran Clara.


"Aku hanya tau itu aja, aku gak punya informasi lagi, karena pihak berwajib masih belum yakin sepenuhnya tentang pemicu meninggalnya Jia" ujar Rev.


"Yaaah...tak kirain kamu tau, kamu kan ketua OSIS" celetuk Clara.


"Saat ini masih belum ada informasi terbaru prihal kasus Jia, tapi kalau ada aku akan kasih tau kalian" Clara langsung gembira, memperoleh informasi tentang kematian Jia akan lebih mudah habis ini karena ketua OSIS di sekolahan ini ada di pihak mereka.


"Iya, kamu wajib kasih tau kami" perintah Clara yang di balas anggukan Rev.

__ADS_1


__ADS_2