
Clara berlari dengan wajah panik, ia dengan tegang dan takut masuk ke dalam gang kecil, Clara bersembunyi di dekat dinding dan di sampingnya terdapat tong minyak yang berukuran besar.
Dengan takut Clara sembunyi di sana, tubuhnya bergetar karena takut, namun ia usahakan untuk tetap diam dan berdoa semoga para preman-preman itu pergi dari sana.
tap
tap
tap
Suara langkah kaki yang mendekat berhasil membuat Clara tercekat.
Clara memejamkan mata, ia menahan nafas agar para preman itu tidak menyadari bahwa di ia bersembunyi di samping tong minyak.
"Jangan kemari, pergilah, aku mohon pergilah, jangan bunuh aku, aku masih ingin hidup, tolong lepaskan aku" batin Clara berdoa dengan keringat-keringat dingin yang bercucuran.
tap
tap
tap
Suara langkah kaki itu semakin mendekat, rasa deg-degan terasa di dirinya Clara.
Clara menutup mulutnya dengan memejamkan mata, ia berdoa semoga ketiga preman itu tidak menemukannya.
"Di mana gadis itu, kenapa tempat ini kosong, tadi dia lari kemari" pemimpin preman-preman itu mencari-cari keberadaan Clara.
"Sepertinya dia sudah pergi bos, liat aja tidak ada dia di mari, kayaknya dia udah pergi dari sini" sahut temannya.
"Kalau seperti itu gak ada gunanya lagi kita di mari, ayo kita pergi, tinggalkan tempat ini" ajak pemimpin preman itu.
Mereka semua pun melangkah pergi dari sana, di samping tong minyak Clara bernafas lega, ia mengucap puji syukur yang sebanyak-banyaknya karena ia masih bisa lolos dari kejaran penjahat itu.
"Akhirnya mereka pergi juga, ya Allah makasih sudah buat dia pergi" Clara begitu bersyukur, dia hampir saja mati karena akan di celakai oleh tiga preman jahat itu yang sudah terkenal sadis di jalanan.
__ADS_1
Clara kini menyesal lantaran keluar rumah tanpa bilang-bilang pada Rev, ia tidak menyangka bahwa dirinya akan di ganggu oleh preman di tengah jalan, seandainya dia tau lebih dulu, mungkin tak akan mungkin dia keluaran rumah.
Clara masih tidak bergerak, ia lagi mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
"Kenapa aku ketemu segala sama preman-preman itu, untung mereka gak ngapa-ngapain aku, aku gak bisa bayangin kalau seumpamanya mereka bunuh aku, aku kan belum nyelesain kasus Jia, aku gak boleh mati dulu, aku kudu selesain permasalah itu, biar aku bisa tenang, aku udah janji sama Jia kalau aku bakal usut tuntas kasus ini sampai ke akar-akarnya bahkan ke daun-daunya bila memungkinkan"
Pendirian Clara masih kuat, tak gentar sama sekali atau berubah pikiran meskipun malam ini ia hampir saja di celakai oleh preman
jalanan.
tap
tap
tap
Tubuh Clara kembali menegang saat telinganya kembali mendengar suara langkah kaki yang mendekat, mata Clara tiba-tiba melotot tajam, wajahnya langsung panik.
"Gawat, mereka kembali, mereka masih belum pergi rupanya, matilah aku, aku akan mati, mereka pasti akan bunuh aku, tamatlah riwayat ku" batin Clara langsung panik.
"Tolong jangan bunuh aku, aku mohon jangan habisi aku, lepasin aku, aku tidak mau mati, tolong biarkan aku tetap hidup" batin Clara ketakutan.
Clara berusaha menahan tangisnya, tubuhnya bergetar karena takut, ia menutup mulutnya agar ia tidak kelepasan berteriak ataupun menangis.
tap
tap
tap
Suara itu terus terdengar, semakin lama semakin mendekat dan semakin jelas saja, Clara yang bersembunyi di sana semakin ketakutan hebat.
Jantung Clara seakan berhenti berdetak saat ia merasa ada seseorang yang berdiri di depannya, bayangan orang itu cukup besar, tubuh Clara bergetar karena ketakutan.
"Jangan bunuh aku, jangan habisi aku, tolong biarkan aku hidup, aku masih ingin hidup" titah Clara tanpa melihat sosok yang berdiri di depannya.
__ADS_1
"Clara ini aku"
Clara langsung mendongak dan menatap terkejut ke arah orang yang berdiri di depannya.
"Rev" Clara langsung memeluk erat tubuh Rev, ia begitu takut dengan para preman-preman itu.
DI dalam pelukan hangat Rev Clara tak dapat menahan tangisnya lagi, ia menumpahkan segalanya di sana.
"Clara kamu kenapa, apa yang sudah terjadi sama kamu, apa penjahat itu macem-macem sama kamu?" Rev panik kala melihat adik sepupunya tiba-tiba menangis seperti ini.
Tangis Clara semakin keras, ia tak mau melepaskan pelukannya sama sekali.
"Clara katakan sesuatu, jangan diam saja, bilang sama aku apa yang sudah terjadi sama kamu, kenapa kamu nangis-nangis kayak gini" khawatir Rev karena tak kunjung mendapatkan jawaban.
"Apa mereka celakain kamu?" sekali lagi Rev mengulangi ucapannya.
Clara menggeleng cepat."Enggak, mereka gak ngapa-ngapain aku, aku hanya takut sama mereka, mereka tadi ngejar-ngejar aku Rev, aku takut banget hiks hiks hiks"
Clara menceritakan apa yang tadi ia lewati dengan jantung yang benar-benar tak aman.
"Lagian kenapa kamu pake keluar rumah segala, aku kira kamu itu ada di dalam kamar, tapi kenyataannya kamu malah keluyuran di luar, untung aja kamu gak di apa-apain sama orang jahat, kalau kamu sampai di celakain sama mereka, aku yang akan menyesal karena gak bisa bertanggung jawab jagain kamu" Rev langsung memarahi Clara, Clara merupakan tanggung jawabnya, ia harus menjaga gadis itu dengan sebaik mungkin.
"Hiks hiks hiks maafin aku, aku gak tau kalau nantinya akan kayak gini, aku kira semuanya akan aman, tapi ternyata di jalan aku malah ketemu sama preman-preman jahat itu hiks hiks hiks" Clara benar-benar menyesal karena tak mendengarkan apa yang sepupunya katakan.
"Ini yang aku takutkan Clara, aku hanya takut kamu kenapa-napa kalau keluar rumah tanpa adanya pengawasan ku, untung ini cuman preman aja, kalau seumpamanya psikopat itu gimana, kamu bisa habis di tangan dia, aku gak bisa bayangin gimana jadinya kalau kamu ketemu sama dia" Clara hanya menangis, ia tau bahwa dia salah, ia tak bisa membantah lagi saat ini.
"Maafin aku Rev, aku gak akan ulangi lagi, sungguh aku gak akan ngebantah lagi" dengan mata yang terus di teraliri air Clara berjanji.
Rev menghela nafas berat, ia kemudian menyeka air mata yang terus mengalir bagaikan hujan itu.
"Udah kamu jangan nangis lagi, preman-preman itu sudah gak ada, kamu gak perlu takut lagi, ada aku di sini" Clara mengangguk, berada di dekat Rev ia merasa begitu aman, karena Rev tak akan membiarkan dia terluka.
"Ayo kita pulang, ini sudah malam, kita harus sekolah besok" Clara setuju dengan ajakan Rev.
Mereka berdua pulang ke rumah sebelum ada tragedi lagi yang menimpa mereka jika mereka masih diam di sana.
__ADS_1