Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Setengah tidak percaya


__ADS_3

Matahari menampakkan dirinya dengan membawa sinar terang, semua kegelapan menyingkir.


Angkasa berdiri di depan kaca almari memandangi dirinya sendiri yang kini telah selesai bersiap-siap, hanya tinggal meluncur ke sekolah.


"Hari ini semuanya akan di mulai, aku akan cari kau sampai dapat!" Angkasa membulatkan tekad untuk menangkap dalang utama dari peristiwa ini, ia tidak akan berhenti sebelum dalangnya di tahan.


Angkasa mengambil buku misterius itu, ia meletakkannya di dalam tas untuk ia bawa ke sekolahan, Angkasa menuruni anak tangga dengan sangat cepat.


Keempat personil band Amanda terkejut, tak pernah mereka bayangkan bahwa seorang Angkasa yang cool dan keren kini berubah menjadi pria culun yang jauh dengan Angkasa yang mereka kenal.


"Sa kamu gak apa-apa, gak ada masalah yang terjadi sama kamu kan, kalau ada masalah cerita aja sama kami, kami sanggup kok dengarin keluh kesan kamu" tutur Rafael yang terkejut dengan perubahan Angkasa yang terbilang sangat dramatis.


Angkasa mengernyitkan dahi tanda tak paham, ia menatap teman-temannya bergantian.


"Apa maksud kamu, aku baik-baik aja, kenapa kalian kaget gitu" mata Angkasa menatap semua teman-temannya yang terkejut.


Aryan membawa Angkasa ke cermin besar yang ada di sana"Bagaimana kami gak kaget, lihat penampilan kamu, kenapa begini banget, kemana Angkasa yang cool dan keren kayak dulu!"


Angkasa menghembuskan nafas, kini ia mengerti apa yang membuat mereka semua terkesiap."Aku berubah kayak gini biar gak ada yang ngenalin aku, kalau aku tampil cool kayak dulu, dalam sedetik aja orang-orang pasti akan langsung ngenalin aku!"


"Tapi sa ini kebangetan, jangankan mereka, kita aja gak ada yang ngenalin kamu, aku jamin kalau ada yang masih ngenalin kamu, matanya benar-benar jelit" Reyhan geleng-geleng kepala dengan penampilan Angkasa yang sekarang.


"Moga aja gak ada yang curiga sama aku, aku ingin menghabiskan sisa waktu sekolah ku di sini, setelah lulus dari sini aku akan kuliah di AS atau gak di Inggris, nanti di sana aku bisa jadi diri sendiri, untuk sekarang aku mau jadi orang lain dulu, kalian kalau mau sekolah di sana, kalian harus bisa rubah penampilan kalian, aku gak mau salah satu di antara kalian ketahuan, ingat itu baik-baik!" pertegas Angkasa penuh penekanan.


"Siap, kami gak akan ketahuan juga, sana kamu berangkat duluan, kami mau santai-santai dulu, lagian ini adalah awal pertama kali kami masuk sekolah, gak apa-apalah telat dikit" Rafael memang selalu menganggap enteng kalau menyangkut sekolahan.


"Terserah, yang penting jangan samakan sekolah di Jakarta dengan di sini, kalau di Jakarta kalian sering bolos, maka di sini kalian harus rajin!" perintah Angkasa.

__ADS_1


"Iya, itu masalah gampang, kami akan berubah kok, sana kamu cabut, jangan ceramah di sini, pengap kuping aku dengarnya" usir Rafael yang tak mau mendengar ocehan Angkasa lagi.


"Aku cabut dulu, kalau kalian sudah sampai di sekolahan, kabarin aku, nanti aku akan kasih aba-aba" titah Angkasa yang di balas dehaman oleh mereka semua.


Angkasa berangkat menuju sekolahan dengan di antar oleh mang Asep, seperti biasa mang Asep menurunkan Angkasa ketika sudah dekat dengan sekolahan, Angkasa berjalan kaki menuju sekolahan yang sudah tidak terlalu jauh.


"Angkasa" teriak Clara berdiri di ambang gerbang bersama Steven dan juga Rev.


Angkasa menoleh ke arah mereka, ia dengan cepat menyebrang jalan dan mendekati mereka.


"Hai" sapa Angkasa dengan seulas senyuman manis.


"Kamu tadi malam ada masalah apa, kenapa kamu gak jawab pertanyaan aku" khawatir Clara sejak tadi malam.


Angkasa menoleh ke kanan dan kiri, banyak satpam dan anak-anak di sekitarnya yang berlalu lalang.


Seketika mereka semua langsung penasaran.


"Masalah apa?" Rev menangkap wajah Angkasa yang tampak serius.


"Ini penting, ayo kita cari tempat yang aman dulu, aku gak bisa bilang sekarang" Angkasa terus melirik ke kanan dan kiri, ia tak mau ada orang lain yang tau apa yang akan ia beri tau kan pada mereka.


"Ayo ikuti aku" ajak Rev, mereka semua mengikuti Rev dari belakang.


Rev membawa mereka ke dekat gudang yang tidak di tempati, bahkan tak ada satu orangpun yang berani datang ke sana.


Mereka berempat berkumpul di sana, mereka yakin tempat itu aman untuk membicarakan sesuatu yang bersifat rahasia.

__ADS_1


"Apa yang ingin kamu bicarakan" Steven sudah tak sabaran mendengar hal penting yang akan Angkasa beri tau.


Angkasa mengeluarkan buku misterius yang ada di dalam tasnya dengan terburu-buru.


Clara menatap Angkasa dengan tatapan aneh."Kamu mau ngapain sa, apa yang ingin kamu tunjukkan sama kami?"


"Iya, aku udah penasaran banget sama berita penting yang akan kamu bilang" imbuh Rev.


"Kalian tau gak, cerita yang terdapat dalam buku misterius ini sama persis dengan peristiwa kematian Jia" Angkasa menunjukkan buku itu pada mereka semua.


Mereka terkejut, mereka setengah tak percaya dengan penuturan Angkasa barusan.


"Gak mungkin, gak mungkin sama, itu pasti gak sengaja sama, gak mungkin cerita di dalam buku itu asli ceritanya Jia" bantah keras Rev, ia menganggap itu semua hanyalah sebuah kebetulan semata.


"Tapi ini beneran, cerita yang ada di dalam buku ini sama persis seperti ceritanya Jia, namanya juga sama, bahkan watak tokohnya juga sama, mangkanya tadi malam aku langsung nelpon Clara buat nanyain nama lengkap Jia, dan benar saja bahwa tokoh yang di ceritakan di buku ini memanglah Jia"


Mereka bertiga masih tak henti-hentinya terguncang, apa yang Angkasa katakan barusan masih belum di terima dengan baik oleh hati dan juga logika mereka.


"Masa iya peristiwa kematian Jia seolah-olah sudah di rencanakan!" Steven merasa itu tak mungkin, ia masih yakin bahwa itu cuman sebuah kebetulan saja.


"Kematian Jia memang sudah di rencanakan, aku yakin 1000% kalau Jia dan dalangnya terlihat dalam konflik panas, di cerita ini di kisahkan bahwa Jia sudah satu tahun 2 bulan menjadi anak pendiam" tutur Angkasa.


Mereka semua langsung diam, antara percaya atau tidak mereka masih belum yakin, tapi ucapan Angkasa begitu menyakinkan.


"Kamu beneran kan sa, kamu gak lagi bohong kan?" Clara masih belum yakin sepenuhnya dengan segala apa yang telah Angkasa katakan.


"Iya, aku mengatakan yang sebenarnya, aku gak bohong, percayalah pada ku!" Angkasa terus berusaha menyakinkan mereka semua.

__ADS_1


"Kalau memang benar itu kisahnya Jia, siapa yang sudah bunuh dia?" Steven melempar pertanyaan, ia masih belum sepenuhnya yakin dengan berita yang Angkasa bawa.


__ADS_2