
Angkasa diam, ia semakin penasaran dengan orang misterius itu."Aku makin penasaran kayak apa dia, aku harus temui dia"
"Heiii!" teriak Angkasa dengan keras.
Pembunuh itu yang sadar bahwa Angkasa menyadari keberadaannya langsung kabur, dia tidak mau tertangkap dengan mudah.
"Hei jangan pergi!" teriak Angkasa berlari mengejar pembunuh itu yang berusaha kabur.
"Kamu tidak perlu mengejarnya, dia tidak akan bisa kamu tangkap!"
Seketika Angkasa pun berhenti, ia berbalik menghadap kembali ke arah gadis misterius itu yang masih di tempat tanpa pergerakan.
"Tidak usah mengejarnya percuma, dia tidak akan bisa kamu tangkap, kamu hanya akan lelah saja!" tutur gadis itu.
"Kamu tau siapa dia?" gadis misterius itu menganggukkan kepalanya.
"Katakan pada ku siapa dia, aku akan tangkap dia dan gak akan ada korban lagi yang lenyap di tangannya" titah Angkasa.
Gadis itu tiba-tiba tertawa dengan keras, tawanya terdengar paksa, Angkasa bingung mengapa gadis misterius itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak seperti itu.
"Apanya yang lucu, kenapa kamu ketawa!" Angkasa menatap bingung ke arah gadis itu.
Tawa gadis misterius itu terhenti, sorot matanya bertambah tajam.
"Tidak semudah itu, jika kamu ingin tau siapa dia, kamu cari tau sendiri, nanti kamu juga akan tau siapa orang yang selama ini kamu cari-cari" jawab gadis itu lalu menghilang secara tiba-tiba dari sana.
Angkasa mengepal kuat tangannya, gadis itu telah mempermainkan dirinya, sekali lagi ia kembali di buat kesal olehnya.
__ADS_1
"Dasar gadis misterius, tinggal sebut namanya aja susah banget!" gerutu Angkasa yang terlewat kesal kali ini.
"Gadis itu bilang kalau dia selama ini telah ngikutin aku, kenapa aku bisa gak sadar, kenapa aku tidak menyadari sama sekali bahwa ada orang yang ngikutin aku, sekarang untuk aku mundur gak bisa, dia sudah tau kalau aku terjun dalam kasus ini, aku tidak akan bisa mundur"
Angkasa menyesali kecerobohannya, selama ini ia menganggap bahwa tidak ada orang yang akan tau kalau dia tinggal di kompleks ini, dia juga merasa bahwa dirinya masih aman, namun siapa sangka ternyata dia sudah di pantau sejak pertama kali dia menginjakkan kaki di tempat ini.
Angkasa diam, ia mulai mengingat-ingat kejadian sebelumnya yang sudah ia lewati.
"Oh iya waktu itu aku sempat liat ada pria misterius yang pakaiannya hitam-hitam saat aku mau pulang sekolah, aku rasa itu dia, aku juga sempat kejar dia tapi dia kabur, ku rasa mulai sejak itu dia mulai ikutin aku, bahaya ini, aku gak bisa diam aja, aku harus terus waspada, musuh sudah berkeliaran, aku tidak boleh lengah lagi"
Angkasa menyadari kesalahannya, waktu itu ia menganggap bahwa persoalan itu selesai sampai di sana, ia tidak menyangka bahwa sikap entengnya membuatnya berada di titik ini, jika bukan karena gadis misterius itu yang memberitahukannya, dia tidak akan tau pergerakan musuh.
"Aku tidak boleh bawa teman-teman ku ke jalur ini, ini terlalu bahaya, mereka harus selamat, mereka jangan sampai dalam bahaya, aku harus bujuk mereka biar mereka gak jadi ikutin kasus ini" tutur Angkasa.
Angkasa berbalik badan, ia menatap sekitarnya yang sepi, semua pintu rumah warga tertutup rapat.
Tatapan Angkasa benar-benar sinis, ia dengan langkah santai masuk ke dalam rumahnya.
Di luar rumah berdirilah seorang pria dengan pakaiannya yang serba hitam, dia berdiri menatap rumah Angkasa yang mewah.
Angkasa melihat pria itu dari jendela rumahnya, dari luar jendela itu tampak gelap bahkan tak terlihat isi rumah sama sekali, namun di dalam apa yang ada di luar terlihat dengan jelas tanpa terkecuali.
"Ternyata benar kalau dia memang mengikuti ku selama ini, aku saja yang tidak sadar akan hal itu, untung gadis itu bilang pada ku, kalau tidak sampai kapanpun aku tidak akan pernah tau bahwa penjahatnya sedang bergerak memantau gerak gerik ku"
Tatapan tajam Angkasa tertuju pada penjahat yang berdiri menatap rumahnya yang menjulang tinggi, dia tidak melakukan apapun, dia hanya melihat rumah Angkasa saja.
"Ngapain kamu di sini, apa yang kamu liat" Rafael menghampiri Angkasa yang berdiri dengan menatap keluar jendela.
__ADS_1
"Lihat, itu adalah orang yang sudah banyak merenggut nyawa orang selama ini" tunjuk Angkasa pada pria misterius itu yang masih diam di tempat.
Rafael terkejut, ia tidak percaya bahwa penjahat yang menjadi buronan tengah berdiri di depan rumah ini.
"K-kenapa kamu biarkan dia berada di sini, cepat hubungi polisi biar dia segera di tangkap sebelum dia membahayakan kita" suruh Rafael dengan paniknya.
"Tidak perlu hubungi polisi, percuma melakukan itu, dia itu licik, dia tau segala pergerakan yang terjadi, walaupun kita manggil polisi kemari, dia akan kabur lebih dulu, lebih baik kita lihat saja apa yang akan dia lakukan dari sini" cegah Angkasa.
Niat Rafael yang ingin memanggil polisi pun terhenti, ia dengan tak percaya menatap penjahat yang masih diam di tempat.
"Kenapa dia bisa berada di depan rumah kita?" shock Rafael yang khawatir pria itu akan membahayakan dirinya dan juga yang lain.
"Ternyata dia mengikuti ku dari belakang selama ini tanpa aku sadari, aku tau hari ini bahwa dia selama ini mengikuti dan memantau semua gerak-gerik ku, berkat gadis misterius yang aku temui di dekat perpustakaan aku sekarang tau bahwa musuh sedang mengintai diri ku" jelas Angkasa dengan pandangan yang masih tertuju pada sang dalang.
"Kenapa kamu biarkan dia ngikutin kamu, lihat dia sekarang sudah tau tempat tinggal kita" omel Rafael dengan kecerobohan Angkasa yang sangat fatal.
"Mana aku tau, aku gak tau kalau dia ikutin aku selama ini, aku baru tau sekarang, itupun karena gadis misterius itu yang bilang, kalau dia gak bilang hal ini sampai detik ini pun aku tak akan tau" jawab Angkasa dengan tegas.
"Kalian ngomongin apaan sih, kenapa pake emosi segala?" Bryan yang penasaran dengan pembicaraan mereka menghampiri mereka yang berdebat sejak tadi bersama teman-temannya yang lain.
"Liat Angkasa bawa penjahat ke rumah" ujar Rafael.
"Penjahat? yang bener aja, masa kamu bawa penjahat ke rumah" kaget Aryan.
"Iya, Angkasa bawa penjahat yang sudah bunuh 4 orang siswi ke rumah ini, liat sekarang dia lagi berdiri di depan rumah ini" Rafael menunjukkan dalang utamanya pada mereka semua.
Mereka pun shock berat, mereka memang tidak bisa melihat seperti apa wajah pelakunya lantaran dia menggunakan masker namun penampilan dalangnya cukup membuat pertahanan mereka sedikit goyah.
__ADS_1