
Angkasa dan yang lain yang menyimak perbincangan mereka terperangah, tak pernah mereka bayangkan bahwa Dyera juga telah membuat anggota gengnya menderita bukan anak-anak biasa lainnya saja.
"Ternyata bukan anak-anak lemah aja yang Dyera tindas, teman-temannya yang selama ini bersamanya juga merasakan sakitnya penindasan yang Dyera lakukan" ujar Clara yang tidak pernah menyangka bahwa mereka akan balas dendam dan punya niatan untuk membunuh Dyera.
"Ayo kita ke samping sekolah, kita jangan bicarain ini di sini, di sini gak aman" ajak Rev.
Mereka berempat bangkit dari duduk dan dengan santai keluar dari dalam kantin, mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju samping sekolah yang sepi tak berpenghuni.
Mereka berempat berkumpul di sana untuk membahas mengenai masalah kematian Dyera.
"Gak nyangka kalau teman yang selama ini bersama bertahun-tahun lamanya bisa berkhianat" menatap miris Steven.
"Mereka itu berkhianat karena Dyera dulu yang mulai, mereka gak akan kayak gitu kalau Dyera bisa jaga etika, hati mana yang gak sakit kalau di hina kayak gitu, kalau aku jadi mereka mungkin aku juga akan lakuin hal yang sama" timpal Clara.
"Mereka berempat gak terlibat dalam masalah tragedi meninggalnya Dyera, Dyera the real meninggal karena di bunuh sama penjahat yang sama yang sudah menewaskan Jia dan Kayla" sahut Angkasa.
"Kita harus lakuin tindakan apa ini, mereka berempat sama sekali gak terlibat, walaupun kita selidiki lebih dalam lagi percuma, kita gak akan dapat apa-apa karena yang bunuh Dyera, Kayla dan juga Jia bukan anggota geng mereka" Steven meminta persetujuan mereka yang akan membawa masalah ini kemana lagi.
"Mereka memang tidak terlibat dalam insiden meninggalnya 3 siswi di sekolahan ini, tapi aku yakin ada sesuatu yang terjadi sehingga penjahatnya membunuh mereka bertiga, sekarang yang keluar nama Miranda anggota geng mereka yang juga sama-sama kejamnya, sudah sepatutnya penjahat itu mencelakai mereka karena mereka memang kejam" imbuh Rev.
"Apa lagi yang akan kita lakukan, kita gak dapat apa-apa hari ini, kita cuman tau kalau 1 geng itu gak akur, mereka menjadi musuh dalam selimut di kehidupan Dyera" ujar Clara.
"Mereka memang benci pada Dyera, mereka juga punya tujuan yang sama untuk nyingkirin Dyera, tapi aku yakin juga kalau di antara mereka berempat gak ada yang akur, mereka menjadi kompak karena ingin menyingkirkan 1 orang yang sama-sama mereka benci" feeling Angkasa.
"Maksud kamu mereka saling bermusuhan?" timpal Steven dengan kagetnya.
__ADS_1
"Tepat sasaran, mereka itu saling bermusuhan, mereka tidak sejalur, mereka bisa satu arah hanya karena ingin menghempaskan 1 orang yang sama-sama mereka benci di dunia ini" jawab Angkasa.
"Mereka berempat patut di curigai, kita selidiki satu persatu di antara mereka, aku yakin mereka memiliki tipu muslihat masing-masing, kita mulai penyelidikan dari Miranda" ujar Rev yang memiliki keyakinan penuh.
"Siapa di sini yang tau rumahnya Miranda, aku ingin selidiki dia lebih dalam lagi meskipun sampai ke rumahnya?" Angkasa mengajukan pertanyaan, ia ingin tau lebih detail tentang Miranda yang sangat-sangat ia curigai.
"Aku gak tau rumahnya, coba aja nanti kamu ikutin Miranda pulang, kamu pasti akan tau di mana rumahnya" saran Clara.
"Boleh juga, nanti sehabis pulang sekolah aku akan coba buat cari tau rumah Miranda dengan cara ikutin dia dari belakang" setuju Angkasa yang merasa jawaban Clara bisa ia coba di terapkan.
"Terus ini kita kemana lagi, apa lagi yang ingin kita lakukan lagi?" Steven meminta jawaban dari mereka semua untuk mengambil langkah selanjutnya.
Drrt
Drrt
Drrt
Tanpa pikir panjang Rev mengangkat panggilan tersebut.
"Kamu ke sini, kami menunggu mu di sini" perintah Bu Yola.
"Baik Bu, saya akan ke sana" jawab Rev.
Bu Yola langsung memutuskan sambungan setelah mendengar jawaban Rev.
__ADS_1
"Ada apa Rev, siapa yang nelpon?" penasaran Clara karena tiba-tiba wajah Rev langsung berubah menjadi sangat serius.
"Bu Yola, dia yang nelpon aku, dia minta aku ke sana, palingan ada rapat mendadak, rapatnya pasti membahas tragedi ini, aku mau ke sana dulu, kalian tunggulah aku di taman, aku akan kembali dengan membawa informasi penting, kalian jangan kemana-mana, tetaplah di sana sampai aku kembali" perintah Rev.
"Baik, kita akan tunggu kamu di sana" sahut Steven.
"Ingat, jangan bilang-bilang sama siapa-siapa kalau kita lagi nyelidiki kasus ini" peringatan Rev.
"Gak kok, kita gak akan bilang sama siapa-siapa" jawab Angkasa.
"Awas" Rev benar-benar tak mau ada kebocoran tentang masalah yang terbilang sangat besar dan penuh misteri ini.
Rev meninggalkan tempat itu, ia melangkahkan kakinya menuju ruangan yang biasanya di gunakan untuk rapat.
"Udah gak ada Rev di sini, ayo kita ke taman aja, kita tunggu Rev di sini" ajak Clara.
"Iya ayo kita ke sana" setuju Steven.
Mereka bertiga bergegas meninggalkan tempat yang sesepi itu, mereka berkumpul di taman yang jarang di tempati karena dengar-dengar taman itu angker, anak-anak tak ada yang mau menjadikan taman itu sebagai tempat untuk bersantai.
"Aku benar-benar gak nyangka tau kalau ada teman yang bisa menjadi musuh dalam selimut" sedari tadi Clara benar-benar takjub dengan apa yang ia dengar dari mulut mereka berempat.
"Hati orang itu bisa baik bisa pula jahat, siang dia baik, malam bisa saja dia jahat, mangkanya kita harus hati-hati sama yang namanya manusia, kita gak ada yang bisa nebak kalau orang yang kita anggap baik bisa berubah menjadi jahat suatu saat nanti" sambung Angkasa.
"Iya sih, saat ini aku gak tau harus senang atau kasihan sama Dyera, di satu sisi dia jahat dan banyak bikin orang-orang menderita, tapi di sisi lain dia tak tau kalau teman-temannya akan punya pikirin kotor untuk menghabisinya, selama ini aku mengira hubungan pertemanan mereka tulus, namun tak pernah ku sangka kalau mereka semua musuh dalam selimut" menatap miris Clara dengan kejadian mengejutkan ini.
__ADS_1
"Mereka tidak akan berbuat jahat kalau Dyera tidak berbuat jahat sama mereka, Clara kamu jangan lupakan kalau Dyera itu selama ini sudah banyak menindas orang, sudah berapa banyak anak yang di bully sampai mereka ada yang stres bahkan meninggal dunia, peristiwa yang merenggut nyawanya hari ini adalah balasan dari segala perbuatannya yang selama ini ia lakukan" sahut Steven.
"Iya aku tau, tapi intinya dari tiga siswi yang sudah menghembuskan nafas yang bunuh mereka bukanlah anggota geng pembully itu, pembunuhnya orang lain, aku penasaran banget kayak apa dia, aku ingin tau apa alasan dia bunuh mereka bertiga" pertegas Clara yang masih belum bisa menemukan titik terang dari masalah ini.