
"Eh dia mau kemana, kenapa dia ke sana sendirian, sedangkan gak ada satupun orang yang ke sana" heran Angkasa.
Semua orang baik laki-laki maupun perempuan masuk ke dalam kelas masing-masing, tapi beda dengan gadis misterius itu, dia malah terus berjalan ke sebelah Utara tanpa tolah-toleh sedikitpun.
"Aku harus ikutin dia, aku ingin tau dia mau kemana"
"Sepertinya dia mau ngasih tau sesuatu sama aku"
Pelan-pelan Angkasa mengikutinya dari belakang, rasa penasaran menghantui Angkasa.
Angkasa memiliki keyakinan kalau ada suatu hal yang ingin gadis itu tunjukkan, tak mungkin dia membawa Angkasa ke tempat ini jika tidak ada tujuan yang jelas.
Satu demi satu kaki Angkasa melangkah membuntuti gadis itu dari belakang, mata elang Angkasa keluarkan, ia masih menyimpan dendam yang teramat sangat pada gadis misterius yang kejam dan jahat tersebut.
"Mau pergi kemana dia sebenarnya, kenapa dia aneh sendiri yng lain gak ada yang aneh"
"Apa mungkin dia memang aneh dari sananya, pantesan aja pas pertama kali ketemu dia rada-rada aneh, misterius pula. Gak sama dengan kebanyakan hantu yang pernah aku jumpai"
Angkasa menerka-nerka watak asli gadis misterius yang belum di ketahui identitas aslinya.
Kaki gadis misterius terus berjalan hingga terhenti di sebuah perpustakaan yang sepi.
Tanpa rasa takut gadis itu masuk ke dalam, menghidupkan lampu dan berjalan lurus mengarah pada rak buku paling ujung.
Angkasa mengerutkan alis tak paham kemana sebenernya gadis itu akan membawanya.
Dia terlihat aneh namun berhasil membangkitkan semangat Angkasa sehingga Angkasa masih tetap gigih mengikutinya.
Gadis itu duduk di pojokan, menangis kejer padahal dari awal Angkasa mengikutinya hingga ke tempat ini tak ada satupun manusia yang menyakitinya.
Angkasa terkejut, benar-benar terkejut dengan perubahan sikap gadis misterius.
"Dia nangis kenapa, sepanjang jalan sampai berhenti di perpustakaan gak ada satupun orang yang ganggu dia, mengapa dia nangis" kaget Angkasa.
Angkasa gelang-gelang kepala tak percaya."Benar-benar aneh rupanya gadis ini, pantesan aja sikapnya gak bisa di tebak"
Gadis itu menangis kejer di perpustakaan yang tak ada satupun orang.
__ADS_1
Angkasa membiarkan gadis itu menangis di sana, Angkasa melangkah meninggalkan perpustakaan, tak ada gunanya lagi mengikutinya lagi.
Baru beberapa langkah Angkasa berjalan, tiba-tiba langkah Angkasa harus terhenti saat ada seorang pria, rambutnya acak-acakan namun dengan gaya rambut seperti itu dia terlihat cool.
Pemuda itu berjalan, arah dia melangkah telah Angkasa tebak.
"Dia mau kemana, ngapain dia masuk ke sini? Jangan bilang dia mau-
"Oh tidak, aku harus ikutin dia"
Angkasa dengan heboh mengikuti pemuda itu, di sini ia layaknya makhluk halus yang tak ada orang yang dapat melihatnya sehingga ia bebas melakukan apa saja tanpa takut ketahuan.
Langkah pemuda tampan bibir agak tebal itu terhenti tepat di depan gadis misterius yang tengah nangis histeris.
Pemuda bernama tag Ester Irfana berjongkok, menyamai tinggi badannya dengan gadis misterius, dengan lembut ia berucap.
"Semuanya gak sama seperti apa yang kamu lihat, kamu jangan salah paham dulu"
Gadis misterius tetap menangis kejer.
"Ini ada apaan coba, kenapa kayaknya serius banget. Mereka ada hubungan apa, kenapa kayaknya lebih dari kata teman"
Angkasa menatap seksama dua sejoli yang berada di tengah sepinya perpustakaan, si gadis tengah nangis kejer sementara si pria diam, sifat cool membuatnya tak banyak bicara.
"Ariana aku bisa jelasin semuanya, apa yang kamu lihat gak sama dengan apa yang sebenarnya terjadi. Aku sama Katya gak ada hubungan apa-apa, kita cuman sebatas teman biasa, kamu jangan salah paham" Ester mencoba menjelaskan segalanya agar tak terjadi salah paham yang membuat hubungannya retak bahkan kandas.
Angkasa tak mengerti arah pembicaraan mereka, ia pun diam, mencoba mencerna baik-baik, berharap dapat mengerti apa yang terjadi di antara mereka.
"Gaakkk, aku gak mau dengar, semuanya udah jelas, aku bisa lihat Ester, aku udah lihat dengan mata kepala ku sendiri pas Katya meluk kamu dan kamu cuma diam aja. Dasar laki-laki brengsek, mau aja di peluk-peluk sama cewek kegatelan kayak Katya" respon Ariana berteriak histeris.
Rasa panik terlihat jelas di wajah Ester, tapi dia mencoba untuk menjadi lautan yang tenang, tidak mau terpancing emosi agar persoalannya dengan Ariana tidak bertambah panjang.
"Ariana, Katya lagi ada masalah keluarga, dia cerita sama aku, aku sebagai teman support dia biar dia gak patah semangat. Tolong kamu ngerti sedikit keadaan Katya, dia itu lagi sedih, masa aku usir dia pas dia curhat sama aku" balas Ester.
Ariana mendongakkan kepala dengan bulir-bulir bening yang memenuhi wajah."Gara-gara curhatan Katya kamu biarkan aku nunggu di restoran sampai tengah malam, cuman gara-gara dia kamu gak bisa datang di hari ulang tahun aku. Mengapa dia yang jelas-jelas berstatus temen lebih berharga dan spesial dari pada aku pacar kamu sendiri"
Ariana berteriak histeris, amarah, kesal dan jengkel ia keluarkan, semua unek-unek yang selama ini ia pendam ia lepaskan.
__ADS_1
Ariana sudah cukup sabar menghadapi Ester yang terus menerus memprioritaskan wanita lain ketimbangnya.
Ariana mencoba sabar dengan sikap Ester yang seperti tak menganggapnya ada, tapi kali ini ia tak bisa menahan diri lagi, sudah cukup ia menjadi patung dan melihat mereka bahagia di atas hancurnya dia.
"Aku tau aku salah, aku minta maaf, sumpah kemarin malam itu aku gak bisa ninggalin Katya, dia butuh aku, aku gak tega ninggalin dia, tolong kamu ngertiin aku Ariana" titah Ester.
"Aku udah capek Ester, capek aku ngadepin kamu, sekarang kamu pergi, aku gak mau lihat muka kamu lagi, belain aja Katya sana, jangan pernah datang pada ku lagi, karena aku gak sudi lihat muka kamu, kamu brengsek, aku benci sama aku" usir Ariana histeris sambil mendorong tubuh Ester.
Amarah telah memuncak di kepala Ariana, kesabarannya telah habis, ia tak bisa sabar lagi.
Ester menghela nafas berat lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Ariana makin histeris, ia merasa bahwa dirinya benar-benar tak berharga di hidup Ester.
Di keadaan yang seperti ini saja Ester malah meninggalkannya, jika menyangkut urusan Katya Ester maju paling depan, tapi jika tentangnya tidak sama sekali.
"Cuman gitu doang, gak ada apapun lagi yang dia lakuin gitu?"
Tercengang Angkasa sampai-sampai mulutnya terbuka lebar.
Tak habis pikir Angkasa pada Ester yang malah memilih pergi tanpa peduli betapa pedih dan sakitnya hati Ariana yang tanpa sadar cintanya telah di permainkan.
Cinta tulus yang Ariana berikan telah di sia-siakan oleh laki-laki bernama Ester Irfana.
"Benar-benar gak gentleman, laki-laki macem apa dia, malah pergi gitu aja, di mana otaknya itu"
"Sok ganteng banget, muka pas-pasan aja berlagak layaknya artis papan atas banyak yang ngantri"
"Liat aja, suatu saat nanti dia pasti akan nyesel, gue doain lo nangis darah karena kehilangan Ariana"
Angkasa gedeg, tak segan-segan ia memberikan kutukan, ia yang hanya sebagai penonton kesalnya luar biasa. Laki-laki bernama Ester Irfana itu benar-benar tidak bertanggung jawab dan tak pantas di cap sebagai laki-laki sejati.
Angkasa menatap gadis misterius yang memiliki nama lengkap Ariana Eleanor iba, walau ia hanya penonton kisah Ariana, tapi pedih dan sakitnya terasa di hati hingga menembus ke jantung.
"Kasihan banget dia, buruk banget nasibnya bisa dapat cowok sok ganteng, sok cool, sok hebat kayak Ester itu"
Sepotong kisah Ariana yang Angkasa saksikan telah meninggalkan dendam yang teramat besar pada Ester.
__ADS_1