Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Kemungkinan terdapat dendam yang terbesit


__ADS_3

"Terus?" mereka berdua penasaran dengan kelanjutannya.


"Dia minta kita berhenti menjalankan misi ini, dia bilang kalau kita jangan ikut campur masalah ini, aku kan heran gitu!" jelas Clara dengan wajah yang masih kesal.


Angkasa tiba-tiba terdiam, ia teringat ucapan gadis yang ia temui di taman sekolahan.


"Jangankan Miranda tadi aku ketemu sama hantu di taman yang juga bilang kalau orang yang bunuh mereka berempat itu gak jahat, orang yang sudah bunuh Jia, Kayla, Dyera dan Miranda itu gak jahat, aku sempat kaget, aku merasa itu ngawur, tapi setelah dengar dari cerita kamu, aku merasa kalau dia memang benar-benar baik" ujar Angkasa.


"Sa dia itu udah bunuh banyak orang, tapi kamu malah bilang dia baik?" tersentak kaget Clara dengan penuturan Angkasa.


"Aku tau Clara dia memang udah banyak bunuh orang dan itu salah, tapi lihat dulu apa yang menjadi alasan dia bunuh orang-orang itu, gak mungkin dia membunuhnya tanpa alasan yang jelas" timpal Angkasa.


"Iya aku tau kalau masalah itu, tapi yang aneh banget itu kenapa Miranda malah dukung pembunuhnya, kenapa dia malah rela hidupnya berakhir di tangan dia, dan aku tidak akan pernah berhenti sebelum dia di tangkap meski apapun yang terjadi" pertegas Clara tak main-main.


Angkasa bungkam, ia tau seperti apa watak Clara kalau menginginkan sesuatu, sebelum di dapat dia tidak akan pernah berhenti.


"Walaupun Miranda berusaha buat hentikan aku, aku tidak akan pernah berhenti, sekeras apapun dia mencoba sampai mati pun aku tidak akan mau nurutin dia" sambung Clara sekali lagi.


Gara-gara Miranda, Clara masih terbawa emosi sampai detik ini.


"Sa siapa yang kamu temui di taman itu, apa itu Dyera?" penasaran Rev.


"Bukan, dia bukan Dyera, aku gak kenal sama dia, kayaknya dia meninggal udah lama" jawab Angkasa.


"Tapi sebelumnya di sekolahan gak ada anak yang meninggal dunia, apa mungkin itu Vidhia, dia kan dulu meninggal karena di bunuh sama anak buahnya Dyera, mungkin aja dia menempati taman itu" feeling Rev.


"Mungkin aja, dia nujukin alat yang di gunakan sama pelakunya untuk bunuh orang-orang selama ini" ujar Angkasa.


"Coba tunjukin alat yang kamu temuin di sana" titah Rev yang sudah tak sabaran.


Angkasa menunjukkan pisau yang ia temukan di balik batu besar yang terdapat di taman."Ini, aku nemuin pisau ini di sana, pelakunya nyembunyiin pisau ini di balik batu yang ada di dekat paving, gadis misterius itu yang ngasih tau aku kalau di bawah batu itu ada pisau ini"


Rev tercengang, pisau itu berukuran kecil, namun sudah ada banyak orang yang berhasil meregang nyawa karenanya.


"K-kenapa dia nyembunyiin pisau ini di sana, apa dia gak takut ketahuan" heran Rev.

__ADS_1


"Ku rasa dia memang bunuh orang di sekolahan selama ini, mangkanya dia naruh pisau ini di sana" jawab Angkasa.


"Kamu ingat kayak apa orang yang nunjukin kamu pisau ini?" penasaran Clara akan sosok itu.


"Iya, aku ingat betul kayak apa dia, tapi aku gak kenal sama dia, dia juga gak nyebutin namanya" sahut Angkasa.


"Coba kamu sebutin kayak apa ciri-cirinya, barang kali aku tau" titah Clara.


"Tubuhnya ramping, tinggi badannya gak jauh berbeda dengan kamu, rambutnya sebahu, wajahnya puceet banget, terus bajunya bersimbah darah, apa kamu tau siapa dia" jelas Angkasa.


Clara mengeluarkan hpnya, ia dengan cepat menunjukkan sesuatu pada Angkasa.


"Apa kayak gini orang yang kamu maksud" Clara menunjukkan foto seorang gadis pada Angkasa.


Angkasa menatap gadis itu dengan seksama."Iya, dia gadis yang nunjukin aku tentang keberadaan pisau ini"


"Kamu tau gak, ini itu Vidhia, dia adalah orang yang sudah meninggal gara-gara Dyera, dia orang yang kami maksud waktu itu" ujar Clara.


Angkasa terperangah, ia tak pernah menyangka bahwa Vidhia akan membantunya dalam kasus ini.


"Aku rasa Vidhia memiliki dendam pada geng itu, dia kan meninggal gara-gara ketua geng itu, bisa jadi dia dukung pelakunya karena dia masih gak terima dengan kematiannya" firasat Rev.


"Bisa jadi, mereka memang dari dulu gak pernah akur, mereka terang-terangan mengumbar kebencian, bisa aja Vidhia berusaha buat hentikan kita agar seluruh geng itu musnah" timpal Clara.


"Emang Vidhia dan Dyera itu terlibat konflik apa, kenapa sampai sesengit ini?" penasaran Angkasa.


"Kita mana ada yang tau, satupun orang gak ada yang tau masalah apa yang terjadi di antara mereka, yang tau pasti hanya anggota geng mereka saja, tapi walaupun begitu kita gak akan bisa bikin salah satu di antara mereka buka mulut" jawab Clara.


"Tapi aku yakin masalah yang terjadi di antara mereka bukan masalah kecil, kalau cuman masalah kecil gak akan sampai ada yang meninggal" tambah Rev.


"Nanti aku akan coba tanya langsung sama Vidhia kalau ketemu lagi sama dia, tapi setelah Vidhia aku ketemu sama seorang gadis di dekat perpustakaan, tapi aku tak tau siapa dia, dia bukan Vidhia, dia orang lain, dia nunjukin potongan rambut cewek dan parahnya lagi yang telah motong rambut itu adalah Miranda" ujar Angkasa.


"Miranda? kenapa Miranda motong rambut orang, rambut siapa yang udah dia potong" kaget Clara karena sebelumnya dia gak pernah dengar masalah ini.


"Aku gak tau, dia gak nyebutin rambut itu milik siapa, tapi aku ngerasa rambut ini udah lama berada di sana, tekstur rambutnya mulai berubah, gak kayak rambut yang masih baru" sahut Angkasa.

__ADS_1


"Rambut siapa yang udah Miranda potong, apa mungkin dulu Miranda pernah motong rambut orang" Rev berpikir keras, ia mencoba mengingat-ingat kejadian lampau yang pernah terjadi.


"Apa mungkin rambut itu milik korban yang sudah pernah di bully sama geng itu, dulu soalnya banyak anak-anak yang menderita gara-gara geng itu, dulu saking banyaknya anak-anak yang di bully sampai gak terhitung jumlahnya" tutur Clara.


"Aku sih curiganya kalau rambut ini milik gadis yang bawa aku ke tempat itu, soalnya dia cukup misterius" timpal Angkasa.


"Dia masih hidup apa udah meninggal?" penasaran Rev.


"Kayaknya dia udah meninggal, soalnya pas aku selesai angkat telpon dia udah gak ada, dia menghilang dengan cepat" jawab Angkasa.


"Tapi sa di sekolahan ini cuman ada 1 orang yang di kabarkan meninggal gara-gara Dyera dan gengnya, gak mungkin gadis yang kamu temui itu meninggal gara-gara Dyera" bantah Rev.


"Bisa aja mereka menyembunyikan kematiannya biar gak ada yang tau" ujar Angkasa.


"Bisa jadi, mereka kan memang misterius suka nyembunyiin rahasia lagi" sahut Angkasa.


"Kamu simpanlah dulu benda-benda ini sebagai koleksi barang bukti, besok kita selidiki lagi mereka semua, aku yakin sekali kita pasti akan menemukan titik terangnya" Rev memberikan kembali dua benda yang tadi Angkasa tunjukkan pada mereka.


Angkasa menganggukkan kepalanya."Iya, aku akan simpan baik-baik benda ini"


Mobil taksi itu berhenti tepat di depan rumah Clara yang terbilang mewah, bangunannya sangat elegan.


"Ini rumah aku, kamu mau mampir gak?" tawar Clara.


"Aku masih ada urusan, aku gak mampir sekarang, mungkin lain kali" tolak Angkasa.


"Ya sudah, ayo Rev keluar, besok kita kumpul lagi di sekolah" Angkasa membalas dengan anggukan.


Clara dan Rev turun dari mobil, setelah itu mobil yang Angkasa tumpangi melaju dengan kencang meninggalkan tempat itu.


"Pak anterin saya ke jalan teratai" titah Angkasa.


"Baik dek" sahut supir taksi tersebut.


Supir taksi membawa Angkasa ke tempat yang Angkasa minta.

__ADS_1


__ADS_2