
Clara berjalan keluar dari rumah Cantika, ia ingin menunggu kawan-kawannya yang sudah sedari tadi pergi meninggalkannya.
"Di mana mereka semua, kenapa mereka gak datang-datang juga, pak ustadz yang tadi nganterin jenazah Cantika ke pemakaman umum udah datang, warga-warga lainnya juga udah pada datang, tapi kenapa mereka semua malah belum datang juga, apa mereka masih berada di sana" Clara mulai tidak nyaman karena di tempat ini tidak ada satupun orang yang ia kenali, ia dengan tidak tenang menunggu mereka datang.
Di saat Clara tengah menunggu mereka dengan resah tiba-tiba sesuatu menarik perhatiannya yang membuat segalanya teralihkan.
"Itu bukannya Cantika" Clara menajamkan pengelihatannya terhadap seorang wanita yang berdiri di dekat gerbang dengan masih mengenakan seragam sekolah, di wajah wanita itu di hiasi oleh senyuman manis.
"Gak salah lagi itu memang Cantika, aku harus samperin dia, aku harus introgasi dia" Clara berlari menghampiri Cantika sebelum dia pergi.
"Cantika, Cantika beri tau aku siapa yang sudah ngirim teror ke rumah mu, aku yakin 100% kamu tau" Clara memohon agar Cantika mau buka mulut.
Cantika menanggapi permintaan Clara dengan seulas senyuman."Clara aku gak bisa bilang sama kamu siapa dia, aku memang tau siapa dia, tapi aku gak bisa bilang sama kamu"
Raut wajah Clara pun berubah."Kenapa kamu gak mau bilang sama aku siapa dia, kamu gak mau apa orang yang udah bikin kamu kayak gini di tangkap?"
"Aku memang mau dia di tangkap, aku mau dia di penjara agar dia gak bunuh orang lagi, tapi ketahuilah dia lebih terluka jauh dengan ku, apa yang aku rasakan saat ini tidak sepadan dengan luka yang dia rasakan, dia terluka parah Clara, lukanya jauh dalam dari apa yang aku rasakan"
Clara pun diam, ia berpikir bahwa Cantika satu-satunya orang yang memiliki beban terberat, namun ketika mendengar bahwa beban yang di rasakan oleh dalangnya lebih berat Clara pun tak bisa berkata-kata.
"Tapi tak bisakah kamu bilang sama aku siapa dia?" kepala Cantika menggeleng dengan senyuman manisnya.
"Aku gak bisa bilang sama kamu siapa dia Clara, tapi aku akan kasih tau kamu ancaman yang kemarin dia kirim ke aku sehingga aku memilih jalan ini" ujar Cantika.
"Apa ancamannya hanya 1?" lagi-lagi kepala Cantika menggeleng.
"Enggak, ancaman yang dia berikan tidak hanya satu, ada lagi ancaman yang dia kirim ke rumah ku" jawab Cantika.
__ADS_1
"Apa itu, aku ingin melihatnya" timpal Clara mulai penasaran.
"Ayo ikuti aku, aku akan tunjukan ancaman lain lagi yang di kirim oleh dalangnya ke rumah ku" Clara menganggukkan kepalanya.
Cantika berjalan masuk ke dalam rumah dengan di ikuti Clara dari belakang.
"Seperti apa lagi ancaman yang di kirim oleh dalangnya ke rumah Cantika, aku ingin tau apa saja yang dia kirim, sehingga membuat Cantika memutuskan untuk mengambil jalan yang salah hanya karena ingin melindungi sang ibu" batin Clara penasaran berat.
Cantika membawa Clara ke dalam kamarnya, orang-orang tidak ada yang menyadari bahwa Clara memasuki kamar Cantika, mereka sibuk sehingga tidak memperhatikan sekelilingnya.
"Buka lemari itu" perintah Cantika dengan menunjuk pada sebuah lemari kayu berukuran besar yang berwarna hitam.
Clara tanpa pikir panjang membuka lemari yang Cantika suruh, saat di buka isinya hanyalah baju-baju Cantika yang tersimpan rapih di sana.
"Ambil tas hitam paling bawa itu" perintah Cantika sekali lagi.
"Apa ini, kok kamu nyuruh aku ambil tas ini, apa tas ini ada hubungannya dengan dalang itu?" Clara menatap Cantika yang berdiri di dekatnya.
"Di dalam tas itu ada beberapa benda yang di kirim untuk menggertak ku, bukalah jika kamu penasaran apa isinya" jelas Cantika.
Clara yang penasaran berat tanpa aba-aba membuka tas itu, mulutnya langsung ternganga kala mendapati rambut yang sangat banyak di dalam tas itu.
"Rambut? rambut siapa ini, kenapa banyak banget, apa ini rambut kamu" lagi-lagi mata Clara menatap ke arah Cantika lantaran teror kali ini di arahkan ke Cantika.
"Tidak, itu bukan rambut ku, sampai detik ini aku masih belum tau rambut itu milik siapa" jawab Cantika cepat.
Clara mengabaikan rambut itu, Cantika saja tidak tau orangnya apalagi dirinya.
__ADS_1
Clara mencari benda lain lagi yang ada di dalam tas itu, ia menemukan sebuah kotak yang di dalamnya terdapat benda-benda lain lagi.
Mulut Clara terbuka dengan lebar saat mendapati foto-foto geng monster yang berada di dalam kotak itu.
"Ini foto-foto kalian bukan, lantas mengapa foto-foto kalian di lubangi di tengahnya" Clara benar-benar tak mengerti alasan mengapa sang dalang melubangi foto mereka semua.
"Aku juga tidak tau, aku tidak tau mengapa dia mengirim foto kami dalam keadaan yang berlubang" jawab Cantika masih berdiri menemani Clara di sana.
Clara shock berat, apa yang di kirim ke rumah Cantika benar-benar misterius.
Clara tiba-tiba menajamkan pengelihatannya."Apa ini?"
"Itu foto mama ku yang penuh dengan darah, dia mengancam akan membunuh mama jika dalam seharian ini aku gak mati" jelas Cantika.
"Kenapa harus mama kamu yang dia jadikan senjata, mama kamu kan gak terlibat dalam kasus ini, kenapa dia juga menarget mama mu" sangat-sangat terkejut Clara, ia tak mengerti jalan pikiran sang dalang itu.
"Itu yang aku pikirkan sejak tadi, mama ku tak terlibat sama sekali, tapi dia mengancam akan membunuh mama, aku tidak memiliki jalan lain lagi selain mengakhiri hidup ku sendiri, aku gak mau mama yang jadi korbannya, dia gak tau apa-apa, tapi namanya di seret-seret dalam kasus ini, terpaksa aku melakukan hal ini untuk melindungi mama ku" jelas Cantika.
Tak ada jalan lain lagi di pikiran Cantika selain mengakhiri hidupnya sendiri untuk mengembalikan keadaan.
Clara mengerti bagaimana rasanya menjadi Cantika, ia tidak bisa menyalahkan langkah yang Cantika ambil, namun ia juga tidak bisa membenarkannya karena jalan itu benar-benar jalan yang salah.
"Cantika kamu tak perlu khawatir, aku akan cari dia dan tangkap dia, aku mohon kamu tolong doakan aku dan yang lain, saat ini kami sedang berjuang keras agar kamu dan orang-orang yang sudah tewas dalam kasus ini bisa beristirahat dengan tenang" Clara minta doa dari Cantika, ia melakukan itu agar Cantika tak terus menerus takut.
"Pasti aku akan doakan kalian, aku harap usaha kalian bisa membuahkan hasil" jawab Cantika.
"Semoga aja begitu, aku akan simpan baik-baik tas ini sebagai barang bukti, ayo kita keluar, kita tunggu yang lain datang" ajak Clara.
__ADS_1
Cantika menganggukkan kepalanya, kedua orang yang berbeda alam itu melangkahkan kaki keluar dari dalam kamar.