Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Misteri keanehan di hutan Pinus


__ADS_3

"Iih kalian jahat banget, aku benci sama kalian" sebel April.


Sikap tak suka mereka pada geng April sangat mencolok, mereka tak menyembunyikannya sama sekali. Blak-blakan mereka bersikap jika keberadaan geng centil menjadi beban dan sangat mengganggu ketenangan mereka.


"Kalau begitu ayo kita pergi, kita kasih tau kepala sekolah dan guru-guru kalau mereka penjahatnya" ajak Shena ngambek dengan respon mereka.


Sontak mereka semua pun panik, dengan cepat Aldo mencegah niat mereka.


"Eehh jangan pergi!" Cegah Aldo.


"Kenapa kami gak boleh pergi, tadi kalian ngusir kita kan, sekarang kita mau pergi, tapi kenapa kalian malah cegah kita, kita cuman mau menemui kepala sekolah doang kok" ujar April.


"Kalian jangan ngambek napa, kita kan cuman becanda, kalian jangan masukin ke hati, apalagi sampai mau lapor dalam kepala sekolah, itu sangat-sangat gak boleh" timpal Aldo, tak mau dalam bahaya cuman karena mereka.


"Betul itu, itu gak boleh, kalian jangan dekat-dekat sama kepala sekolah, mereka itu berbahaya, nanti kalian di makam sama mereka" sahut Aryan nakut-nakutin mereka.


Mereka tegang, candaan mereka telah membuat tiga orang gadis centil itu baper, lalu berbalik arah dan melupakan perjanjian mereka.


Dalam hati April dan kawan-kawannya tersenyum bahagia saat mereka semua panik akibat ulahnya.


"Hahaha rasain itu, suruh siapa main ngusir aku, untung aku punya senjata mereka. Sekarang terbukti kan kalau mereka takut aku bocorin rahasia terbesar mereka" batin April tertawa puas.


Mereka dag dig dug, khawatir tak mampu membujuk tiga orang gadis centil tersebut.


"Oke, kami akan tutup mulut, tapi kami mau ikut apa yang akan kalian lakukan" syarat April.


Mereka serempak mengangguk, tak apa bagi mereka membawa tiga cecunguk itu ke dalam misi besar mereka.


"Oke, kami menyanggupi saran kalian, asal kalian tutup mulut" perintah Rev dengan tegas.


Mereka mengangguk senang, keinginan mereka hanya satu, yakni mengetahui dalang utama kasus pembunuhan berantai yang telah mengguncang sekolah.


"Oke, kami setuju, kalian gak perlu khawatir, selagi kalian sopan kami akan tetap tutup mulut" sahut Shena.


Mereka pun lega, mereka tak bisa mengambil resiko, tiga manusia itu telah membuat mereka tertekan namun mereka tak bisa memberontak karena taruhannya adalah misi mereka yang akan kacau balau.

__ADS_1


"Ini udah mau malam, kalian semua sekarang balik ke tenda masing-masing, sebelum malam menghampiri" Rev mengalihkan topik sebab tak ada topik lagi yang perlu mereka bahas.


"Lah kok udahan, kalian gak mau bahas tentang Bu Melati atau apa gitu?" Kaget Laras ketika mereka menyudahi pertemuan itu.


"Udah kelar, kalian itu telat, pembahasannya udah kelar, kita lanjut besok, kalau mau tau kalian datang paling awal, jangan salahkan kami kalau kalian gak tau berita apapun suruh siapa kalian telat" sahut Steven.


Mereka bertiga hanya bisa menarik nafas panjang.


Rev dan yang lain satu persatu membubarkan diri dari sana meninggalkan tiga geng centil itu.


Wajah April masam."Iih kenapa mereka masih gak bersikap baik sama kita, kita salah apa coba, kita cuma ingin tau kelanjutan informasi Bu Melati yang tiba-tiba di kabarkan meninggal, padahal kemarin baik-baik aja, tapi reaksi mereka begitu semua, bete kan jadinya"


Kesal April, ia dan gengnya masih saja tak di anggap penting di mana mereka semua.


"Udah pril, kamu jangan khawatir, apalagi marah, biarkan mereka, mereka masih gak sabaran, nanti mereka juga akan memperlakukan kita dengan baik, kamu gak usah baper gitu" sahut Shena menenangkan April yang kesal parah.


"Iya tuh pril kamu jangan kesel, biarkan mereka, besok kita harus datang lebih awal biar kita tau apa yang akan mereka lakukan, kita jangan salahkan mereka karena di sini kita yang telat, kalau ketinggalan berita wajar-wajar aja" timpal Laras.


Wajah April tetap saja masam, namun tak bisa memberontak, walau ia punya senjata agar mereka tak berkutik, ia juga tidak akan membocorkan rahasia itu pada pihak sekolah karena ia yang akan di habisi oleh mereka semua.


"Ya udah deh, besok kita harus cari tau, kita gak boleh ketinggalan berita lagi, jadikan hari ini sebagaimana pelajar agar kita bisa lebih disiplin khi" April pun menerima meski berat.


Shena menatap sekitar, hanya pohon-pohon yang ia temui, suasana mulai tampak gelap, bulu kuduknya tiba-tiba terasa merinding.


"Kok merinding ya, udaranya udah gak seseger tadi, kayaknya udah gak aman deh berada di sini, mending kita cabut aja dari pada kenapa-napa, lagian mereka juga udah pada pergi, ngapain lagi kita ada di sini" ajak Shena begidik ngeri berada di sana lama-lama.


Mereka pun pergi, ngeri lama-lama berada di tempat yang jauh dari keramaian dan agak sedikit gelap.


Angkasa tak balik ke tenda, ia melihat-lihat keadaan di tempat baru yang akan ia tinggali selama kurun waktu 1 bulan.


Rerimbunan pepohonan menjulang tinggi, kanan dan kiri penuh dengan pohon Pinus yang telah tertata rapi.


Wussshhhh


Kelebat bayangan melintas, Angkasa dengan cepat melihat ke samping.

__ADS_1


"Mana dia?"


Angkasa celingukan, bayangan yang melintas di sampingnya menghilang secara tiba-tiba.


Di cari kemanapun tetap saja tak ada, bayangan itu menghilang tanpa jejak.


"Aneh, kok tiba-tiba hilang"


Bayangan sepintas itu hilang tak berbekas dan meninggalkan misteri, Angkasa memilih untuk mengesampingkan, kakinya terus melangkah sambil melihat-lihat, ia juga sesekali memotret pemandangan menggunakan kamera yang ia bawa.


Cekrek


Angkasa melihat tangkapan gambar, keningnya berkerut, Angkasa menatap ke depan, khususnya tempat yang ia potret barusan.


"Kok gak ada apa-apa, lalu siapa gadis yang tersenyum ini?"


Di antara banyaknya pepohonan yang tumbuh, tak ada satupun orang yang Angkasa lihat, tempat itu kosong, hanya ada dia satu-satunya orang yang berada di sana, tapi anehnya ketika Angkasa memotret pemandangan tiba-tiba tertangkap foto seseorang yang jelas itu bukan dirinya.


Seorang wanita, bersurai hitam selengan, mengenakan pakaian putih, wajah pucat, tatapan matanya tajam namun bibirnya tersenyum.


"Di sini gak ada apapun, lantas siapa gadis yang tersenyum ini?"


Angkasa merasa aneh, sosok wanita yang tertangkap di kameranya tak dapat di temukan.


"Aneh betul" geleng-geleng kepala Angkasa sambil menerka-nerka siapa wanita yang barusan ikutan ia potret.


Angkasa memutar tubuh, sontak ia langsung tersentak kaget.


"Ya Allah" kaget Angkasa.


Tangan Angkasa mengelus dada saking terkejutnya.


Ketika Angkasa membalikkan tubuh tiba-tiba sosok bersurai hitam berbaju putih tersebut berdiri tepat di depannya dengan seulas senyum manis yang merekah.


"Hai" sapaan meluncur keluar dari bibir wanita pucat, kira-kira usianya sepantaran dengan Angkasa.

__ADS_1


"Haiii" balas Angkasa agak kaku.


Sapaan sosok itu terdengar aneh dan janggal.


__ADS_2