Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Mendengarkan dengan baik


__ADS_3

Aldo berjalan dengan tenang tanpa ekspresi, ia tidak menunjukkan ekspresi berlebihan, ia masih ingat betul kata-kata Rev yang terus memperingatinya dan juga yang lain.


"Kayla itu kemana ya, kok udah lama gak masuk sekolah"


Langkah Aldo langsung terhenti kala telinganya tak sengaja mendengar ada orang yang menyebut nama Kayla.


Tatapan Aldo langsung tertuju pada dua orang siswi yang berdiri di ambang pintu kelas Kayla, mereka juga merupakan teman-teman sekelas Kayla.


"Gak tau juga, aku juga bingung kemana dia pergi, biasanya kan dia selalu masuk paling awal, tapi kenapa sekarang dia malah jarang masuk, apa yang sudah terjadi sama dia" sahut Olive.


"Kamu gak tau apapun tentang kemana Kayla pergi, dulu kan kamu deket banget sama Kayla" Dinda berusaha mengorek informasi tentang Kayla pada sahabatnya yang tak lain dan tak bukan adalah Olive.


"Itu kan dulu, sekarang mah beda, aku udah gak temenan lagi sama dia, dia itu pernah dorong aku dari tangga, mangkanya aku musuhin dia" semenjak saat itu Olive tidak berteman baik lagi dengan Kayla.


Dinda mengerutkan alis tanda terkejut."Kenapa Kayla dorong kamu dari tangga, kalian terlihat masalah apa?"


Dinda shock mendengar fakta ini, ia tidak pernah tau alasan mengapa hubungan Olive dan Kayla menjadi renggang.


"Aku gak tau, waktu itu kita gak ada masalah apapun, tapi gak ada angin gak ada ujan Kayla main dorong aku dari tangga, aku waktu itu sampai di larikan ke rumah sakit, setelah kejadian itu aku jauhin dia, lalu dia berubah jadi anak pendiam, aneh kan" jelas Olive.


"Kok tiba-tiba Kayla jadi anak pendiam, apa yang sudah bikin dia berubah, kayaknya dulu dia gak kayak gitu deh" Dinda menaruh kecurigaan saat ada beberapa teman kelasnya yang tiba-tiba menjadi pendiam.


"Entahlah apa yang sudah terjadi padanya, aku gak ikut-ikut, tapi aku ngerasa Kayla jadi anak pendiam karena udah gak punya teman lagi deh, suruh siapa dia jahatin aku, rasain itu!" gerutu Olive.


Aldo yang mendengar perbincangan mereka tanpa di sadari oleh keduanya diam, ia terus mendengarkan perbincangan mereka barang kali ia mendapatkan bukti terbaru.


"Mereka berdua tidak tau apa-apa tentang Kayla, tapi mereka bilang Kayla berubah jadi anak pendiam secara tiba-tiba, ini cukup mencurigakan" ujar Aldo dengan suara pelan biar tidak ada satupun orang yang dapat mendengarnya.


Aldo melangkah meninggalkan mereka, menurutnya tak ada gunanya lagi ia berada di sana karena mereka berdua tidak akan tau apa-apa lagi prihal hilangnya Kayla.


"Eh kamu tau gak seingat aku sebelum Kayla gak masuk sekolah selama 3 hari ini, dia pernah nelpon aku, dia minta tolong gitu sama aku, dari suaranya terdengar kalau dia kayak di kejar-kejar sama orang"

__ADS_1


Seketika langkah Aldo terhenti, ia kembali menatap ke arah mereka berdua, niatnya yang akan meninggalkan mereka terpaksa harus di hentikan.


"Terus gimana, kamu bantuin gak?" penasaran Dinda.


"Enggaklah, aku gak mau bantuin dia, aku yakin itu cuman akal-akalan dia saja, dia itu jahat, aku gak mau di jahatin lagi sama dia, sudah cukup dia buat aku jatuh dari tangga, aku gak mau jatuh yang kedua kalinya lagi" Olive benar-benar tak mau lagi dekat-dekat dengan Kayla, satu kesalahan yang di lakukan Kayla membuatnya membencinya.


"Bisa aja live Kayla memang lagi di kejar-kejar sama orang jahat, seharusnya kamu bantuin dia, bukan malah diam aja" tutur Dinda.


"Malaslah aku bantuin dia, kayak dia baik aja sama aku, dia itu jahat, sedikit aja aku gak mau dan gak akan mau bantuin dia!" petergas Olive penuh penekanan.


Dinda hanya bisa geleng-geleng kepala, percuma ia memaksa Olive karena itu tidak akan bisa terjadi.


"Ku rasa ada sesuatu yang menimpa Kayla, aku harus kasih tau yang lain, mereka harus dengar masalah ini" gumam Aldo.


Aldo setengah berlari meninggalkan mereka, ia kini mencari-cari keberadaan teman-temannya yang tadi berpencar hanya karena ingin mencari informasi tentang Kayla.


Di sisi lain.


Angkasa berjalan dengan tenang di koridor, tiba-tiba langkahnya terhenti ketika menatap empat orang laki-laki yang berhasil membuat mulutnya ternganga.


"Woy" teriak Angkasa dengan keras saat melihat mereka berempat yang celingukan di lapangan.


Pandangan mereka tertuju pada Angkasa yang berada tak jauh dari posisi mereka berada.


Angkasa memberikan kode melalui tangannya seraya meminta mereka untuk menghampirinya.


Mereka dengan cepat berlari mendekati Angkasa.


"Kamu kemana aja, kenapa aku telpon gak di angkat-angkat, kami itu udah capek nyariin kamu!" gerutu Aryan.


"Aku lupa matiin mode heningnya, tunggu-tunggu kenapa kalian pada pake masker segala!" terkejut Angkasa yang merasa was-was, sungguh ia khawatir dengan keberadaan teman-temannya.

__ADS_1


"Kita mau gimana lagi sa, hanya ini yang bisa kita lakukan, kita gak punya akal untuk rubah penampilan" ujar Reyhan.


Angkasa menepuk jidatnya."Ayo ikuti aku, aku akan bikin kalian berubah dalam waktu sekejap"


"Kamu akan bawa kami kemana?" penasaran Rafael.


"Udah ikut aja, nanti kalian juga akan tau" Angkasa memimpin jalan, mereka berempat terpaksa mengikuti Angkasa dari belakang.


Angkasa membawa mereka ke gudang terbengkalai yang sepi dan di jamin tidak akan ada orang yang akan melihatnya dan juga teman-temannya.


"Sa ngapain kamu bawa kita kemari" tak habis pikir Bryan yang menatap gudang terbengkalai itu.


"Aku bawa kalian kemari itu karena di sini adalah tempat teraman, gak akan ada orang yang bakal ke sini dan lihat kalian" jawab Angkasa.


Rafael menatap sekelilingnya dengan ngeri."Tapi gak ke sini juga sa, gak ada tempat lain lagi apa"


"Kenapa kamu takut?" Bryan menatap Rafael yang berdiri di sampingnya.


"Enggaklah, aku gak takut kok, cuman ngeri aja" bantah Rafael yang tidak mau mereka menertawainya karena ia merasa merinding.


"Halah bilang aja takut, pake berbelit-belit lagi!" ujar Bryan.


Rafael tak menanggapinya, ia tak mau persoalan ini semakin bertambah besar.


"Sa di sini merinding tau, kita cari tempat lain yuk, aku gak betah berada di sini" titah Aryan yang sudah tak tahan berada di tempat itu lebih lama lagi.


"Di sini itu tempat yang paling aman, gak akan ada yang terjadi apapun kok sama kalian, aku berani jamin, udah kalian diem aja di sini" ujar Angkasa dan mereka semua tidak ada yang berani membantah.


"Sekarang kalian rubah penampilan kalian dulu, pastikan jangan sampai ada satu orangpun yang mengenalinya" suruh Angkasa.


Mereka semua melakukannya, Rafael membuka jaketnya dan memasukkannya ke dalam tas, pakaiannya yang biasanya sebelas dua belas dengan preman pasar kita mulai rapih seperti anak sekolahan pada umumnya, selain pakaian ia juga mengubah gaya rambutnya biar tampil beda.

__ADS_1


Sementara Reyhan memberi tahi lalat di bawah hidungnya dengan menggunakan celak, teruntuk Aryan ia hanya mengikuti Angkasa yang menggunakan kaca mata, itupun kaca mata milik Bryan yang biasanya selalu Bryan bawa kemana-mana.


Tapi beda halnya dengan Bryan, dia tetap menggunakan masker, ia terlalu betah menggunakan masker dan tidak ada niatan untuk membukanya.


__ADS_2