
Angkasa terbangun dengan peluh yang membasahi seluruh tubuh, nafasnya tersengal-sengal.
Angkasa mematung sesaat mengingat kembali mimpi yang barusan ia lewati.
"Jadi gadis misterius itu bawa aku ke sana karena ingin ngasih tau kalau dia meninggal di bunuh"
Angkasa mulai mengartikan tujuan gadis itu membawanya ke masa lalu yang sempat membuatnya ketakutan.
"Pantesan aja waktu itu dia langsung nyebut aku pembunuh, gak heran sih dia bersikap kayak gitu. Kasihan juga dia, udah di bunuh, mayatnya di buang, pacarnya di ambil, miris banget nasibnya"
Nasib buruk datang bertubi-tubi menghantui Ariana hingga nafas tak lagi berhembus.
Angkasa melirik teman-temannya yang tertidur pulas. Setelah mimpi buruk itu datang, rasa kantuk tiba-tiba menghilang. Alhasil Angkasa keluar dari tenda mencoba mencari udara segar.
Angin sepoi-sepoi berhembus menerpa tubuh Angkasa, suasana di luar gelap.
Angkasa memberanikan diri untuk keluar tenda, ia berjalan mencari tempat duduk.
Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundak Angkasa.
Secara dadakan Angkasa menjadi tegang, jantungnya berdetak kencang melebihi normal.
Pelan-pelan Angkasa berbalik badan menghadap siapa yang berdiri di belakang.
"Hai" kalimat sapaan meluncur dari bibir seorang gadis misterius berwajah pucat. Bibirnya tersenyum lebar tapi senyum itu tidak tulus.
Angkasa mengelus dada, jantungnya hampir copot gara-gara gadis misterius itu.
"Bisa gak sih kalau datang itu pake aba-aba, aku bisa serangan jantung kalau gini terus!" Omel Angkasa melototkan mata.
Gadis itu mengeluarkan tatapan tajam, bola matanya membulat sempurna seakan mau keluar.
Angkasa menegak ludah pahit, gadis di depannya menanggapi sikapnya serius.
"Maaf, maaf, j-jangan marah dulu, aku cuman becanda" titah Angkasa panik.
Tak terlintas di benak Angkasa jika tindakannya barusan akan merubah wujud gadis di depannya menjadi seram.
Gadis itu tak dapat di ajak bercanda, wataknya tak dapat di tebak, ia menganggap semuanya serius.
"Aku cuman becanda jangan marah dulu"
Mata melotot itu pun berganti dengan tatapan kosong pada umumnya, hati Angkasa sedikit lega.
Berurusan dengan gadis misterius yang bagai cuaca membuat Angkasa kesulitan menebak kemana arah pikirannya.
__ADS_1
Jantung Angkasa kembali berdetak normal walau ia masih tegang, respon spontan yang gadis itu berikan telah memberikan dampak buruk.
"Kenapa kamu ke sini, apa lagi yang mau kamu bilang pada ku?"
Mulut gadis itu terkunci rapat, dia diam tak bergeming. Tak ada tanda-tanda untuk menyahuti pertanyaan yang Angkasa ajukan.
Angkasa lagi-lagi di buat heran, pertanyaan yang ia lempar malah tak di gubris.
"Aneh betul, sebenarnya apa mau dia datang pada ku lagi. Apa dia belum puas bikin muka aku luka-luka begini, apa lagi yang mau dia lakuin" gumam Angkasa.
Ariana tetap diam bagai patung, menatap Angkasa tanpa kedip serta tanpa pergerakan. Dia benar-benar telah berubah menjadi benda mati.
"Ester"
Kening Angkasa berkerut, kata Ester yang keluar merujuk pada seseorang yang Angkasa ketahui setelah mendapatkan gambaran dari mimpi.
"Ester?"
"Ada apa dengan Ester, kamu mau bilang apa sama Ester, aku akan sampaiin" tawar Angkasa mencoba melakukan interaksi pada Ariana.
Raut wajah Ariana tersematkan sebuah kekecewaan dan rindu yang dalam pada seseorang. Angkasa menebak orang tersebut adalah Ester. Laki-laki yang Ariana cintai dengan sangat hebat hingga menutup mata.
"Di sini ada Ester" ucap Ariana lagi.
Angkasa makin tak mengerti, maksud Ariana susah untuk ia tebak."Di sini ada Ester? Terus kalau ada Ester kamu mau bilang apa, aku akan kasih tau dia"
"Tolong kasih tau dia kalau aku sudah meninggal, kasih tau dia juga kalau Katya yang udah bunuh aku" titah Ariana dengan mata yang berkaca-kaca.
Angkasa menyanggupi permintaan Ariana."Baik, aku akan bilang sama Ester segalanya tentang kamu yang pasti belum Ester ketahui"
Ariana lega, setelah sekian lama akhirnya ia menemukan seseorang yang bisa memberitahu Ester tentang kabarnya yang di anggap hilang oleh orang-orang yang ia sayangi.
Tak ada yang tau nasib Ariana, seiring berjalannya waktu semua orang melupakan Ariana.
"Tapi di mana Ester, dia ada di hutan sebelah mana?"
Telunjuk tangan Ariana mengarah ke sebelah barat.
Angkasa langsung paham, walau Ariana tidak menjelaskan dengan kata-kata, tapi ia tau maksudnya.
"Baik, besok aku akan cari Ester, akan aku bilang segalanya tentang mu padanya. Kamu tidak perlu khawatir, Ester pasti akan tau apa yang telah terjadi pada mu sehingga kamu bisa seperti ini" janji Angkasa.
Hanya anggukan kepala respon yang Ariana berikan, sikap cuek dan dingin membuat Ariana tak banyak bertingkah.
Hingga detik ini sifat misterius Ariana tetap melekat dan dapat di rasakan oleh Angkasa, walau ada sedikit perubahan tapi perubahan itu tak menyingkirkan sikap misteriusnya.
__ADS_1
"Kasihan betul Ariana, dia pasti menderita. Gimana ya reaksi Ester kalau tau Ariana meninggal gara-gara Katya" gumam Angkasa tak dapat membayangkan kabar buruk itu.
Ariana masih diam di tempat, tanpa berkedip dan tanpa bergerak. Ia bagai patung yang dapat berkomunikasi.
"Ariana sekarang kamu boleh pergi, besok aku pasti akan cari Ester dan bilang semuanya, kamu gak perlu khawatir, aku gak akan ingkar janji"
Secara dadakan Ariana pun menghilang dari hadapan Angkasa.
Angkasa sempat terkejut, tanpa sepatah kata pun gadis bernama Ariana itu pergi meninggalkan Angkasa.
Nafas berat Angkasa buang."Benar-benar gadis misterius, datang gak di undang, pulang gak di antar. Tapi kasihan juga dia, aku harus tolongin dia"
"Semoga aja setelah Ester tau kabar tak sedap tentang Ariana, Ariana gak akan ganggu aku lagi"
Hantu Ariana begitu meresahkan di hidup Angkasa, walau Angkasa baru bertemu dengannya. Tapi Angkasa merasa tak tenang sebab sikap Ariana begitu misterius.
Angkasa berbalik badan menghadap ke sebelah barat.
Angkasa langsung tersenyum kikuk, di depannya saat ini telah berdiri tiga sosok makhluk halus berkebaya merah yang sempat menyambut kedatangannya ketika ia tiba di hutan.
Sorot mata tiga penari menatap kosong tanpa kedipan. Angkasa yang di tatap menelan ludah.
"Kenapa mereka datangin aku, apa yang ingin mereka lakuin coba" gumam Angkasa mulai di serang ketakutan.
Jantung Angkasa memompa dengan kecepatan tinggi, tubuhnya menegang, kepanikan terlihat, tapi Angkasa harus tetap tenang seperti tak terjadi apa-apa.
"Pergilah dari hutan ini kalau kau ingin selamat!" Ucap salah satu penari kebaya merah.
Setelah mengatakan itu mereka menghilang tak berbekas.
Angkasa di buat bingung, kalimat pengusiran yang di luncurkan penari kebaya merah mencengangkan dunia.
"Apa salah ku, kenapa mereka ngusir aku?"
"Aku baru ada di sini, mengapa mereka seperti terlihat tidak suka dengan keberadaan ku di mari"
"Aneh betul hantu itu, tapi apa yang bakal dia lakuin kalau aku ngotot gak mau nurutin kemauan dia?"
Angkasa mulai menerka-nerka dampak yang akan ia terima dari sikapnya yang tak mau patuh pada tiga makhluk ghoib penghuni hutan Pinus.
"Apapun dampaknya aku akan tanggung sendiri, lagian mereka cuman ngusir aku doang, bukan semua orang"
Angkasa menyepelekan pengusiran mereka, di pikirannya hanya ia seorang yang mereka usir. Angkasa belum tau jika pengusiran itu belaku untuk semua orang.
Malam makin bertambah larut, hembusan angin sepoi-sepoi membawa hawa merinding.
__ADS_1
Angkasa masuk kembali ke dalam tenda untuk melanjutkan istirahat, Angkasa tidak mau berada di luar yang akan membuatnya mati karena ketakutan.