
Angkasa dan satu gengnya berada di parkiran.
"Kita mau kemana lagi ini, apa kita langsung pulang aja atau gimana?" tanya Rafael.
"Kalian pulang aja, aku sama Clara mau jenguk Gina ke rumah sakit, nanti kita bagi waktu aja biar semuanya dapat. Dan juga kita itu kudu kemas-kemas buat persiapan besok" jawab Rev.
"Ya udah kalau gitu nanti malam aku sama teman-teman aku akan ke rumah sakit gantiin kalian" setuju Angkasa.
"Oke, kita ketemu lagi besok" jawab Steven.
"Rev kalau ada apa-apa sama Gina langsung hubungi kami, kami pasti akan langsung ke sana" suruh Aldo.
"Iya tenang" sahut Rev.
Mereka yang berjumlah 9 orang berpecah, 7 orang memutuskan pulang ke rumah masing-masing sedangkan 2 orang lagi yakni Clara dan Rev bergegas menuju rumah sakit.
Angkasa dan kawan-kawannya masuk ke dalam mobil dan meluncur pulang, hari ini cukup melelahkan bagi mereka tapi mereka masih sedikit senang lantaran nyawa Gina masih sempat di selamatkan.
"Capek banget tau, besok pake bangun pagi lagi, gimana kalau nanti aku kesiangan" resah Aryan.
"Kita tinggalin, apa lagi, masa kita nungguin kamu bangun. Kamu aja kalau di bangunin kayak kebo" sahut Rafael.
"Ya ampun tega banget mau jalan tanpa aku, kalian ini teman macem apa" tutur Aryan.
"Suruh siapa kesiangan. Awas aja kalau besok ada yang kesiangan kita tinggalin aja biar gak usah ikut camping sekalian" ujar Bryan sambil mengemudikan mobil.
"Oke siapa takut, aku juga gak akan kesiangan, jam 3 aku akan bangun" janji Aryan.
"Kita lihat aja nanti gimana hasilnya, tapi seusai kesepakatan kita kalau ada yang kesiangan, gak peka lama kita akan langsung tinggalin dia" sahut Reyhan.
Angkasa terkekeh melihat wajah Aryan yang tertekan, di antara mereka hanya Aryan yang paling sering telat bangun sehingga membuat mereka selalu telat saat masuk sekolah.
"Eh ini kita mau kemana, kita langsung pulang aja atau ke om Jun dulu buat latihan sekalian pamit kalau kita akan camping?" Reyhan meminta persetujuan mereka untuk mengambil keputusan baru.
__ADS_1
"Pulang aja dulu, kita kemas-kemas baru nanti habis sholat magrib kita ke studio, sehabis latihan baru kita lanjut ke rumah sakit lihat kondisi Gina" jawab Angkasa.
"Ya udah kita pulang aja dulu, aku juga udah capek banget, pengen istirahat biar besok gak kesiangan bangunnya" setuju Rafael.
Bryan menancap gas menuju rumah yang lumayan jauh. Setibanya di rumah mereka langsung keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah.
Angkasa menaiki tangga menuju kamarnya, Angkasa meletakkan tasnya, ia langsung membuka lemari dan mengemasi barang-barang yang mau dia bawa ke hutan.
Sekitar 30 menit lamanya waktu bagi Angkasa untuk mengemasi barang-barangnya. Angkasa yang letih menjatuhkan tubuhnya di kasur yang empuk.
"Haduh capek banget, masih harus latihan dan ke rumah sakit lagi, huft" Angkasa menghembusakan nafas berat tanda kelelahan.
Angkasa menatap langit-langit kamarnya dengan sesekali keringat-keringat bercucuran.
Tanpa Angkasa sadari ia terlelap dalam tidur nyenyak karena terlalu letih beraktivitas di sekolahan seharian ini.
...•••...
Malam harinya, waktu kini telah menunjukkan pukul setengah tujuh.
Di perjalanan Angkasa merasakan ada sesuatu yang salah dan terdengar aneh.
"Kenapa sa, kok lihat ke belakang terus?" tanya Bryan yang menyadari gerak-gerik mencurigakan Angkasa.
"Enggak kok, gak ada apa-apa" jawab Angkasa.
Bryan tak bertanya apapun lagi dan terus menancap gas menuju tempat latihan yang letaknya terbilang jauh dari rumah Angkasa.
Angkasa melirik ke belakang lagi."Tuh kan apa aku bilang, mobil hitam itu terus ngikutin aku, kayaknya dia orang jahat deh" batin Angkasa.
Di dalam mobil Angkasa di hampiri ribuan rasa tegang dan was-was.
Angkasa melirik kawan-kawannya."Gimana caranya aku bilang sama mereka kalau ada orang jahat yang lagi ngikutin mobil ini. Aku gak mau mereka panik, tapi aku gak bisa diam gini aja, bisa-bisa dia akan celakain kami seperti hari itu" batin Angkasa di ambang kebimbangan.
__ADS_1
Lagi-lagi bola mata Angkasa melirik ke belakang yang masih ada mobil berwarna hitam yang terus membuntuti mobilnya sejak tadi.
"Fixs ini kalau dia lagi ngikutin aku, aku gak bisa diam aja, aku gak akan biarkan dia mencelakai kami" batin Angkasa.
"Bryan, mobil hitam itu ngikutin kita sejak tadi, kamu lakuin sesuatu agar dia pergi" tutur Angkasa mengeluarkan isi hatinya yang terus menerus mengganggu pikirannya.
Bryan melirik spion dan benar saja jika ada sebuah mobil berwarna hitam yang mengikuti mobilnya.
"Gawat, dia mobil penjahat itu" ujar Bryan mengenali mobil yang kini telah mengikuti mobilnya.
"Gimana ini" kepanikan Reyhan tidak bisa di sembunyikan lagi.
Tak hanya Reyhan mereka semua ikutan panik saat mobil hitam itu tak kunjung berhenti mengikuti mereka.
"Kalian gak usah khawatir, pegangan aja yang kuat, aku akan bawa mobil ini dengan kecepatan yang terbilang cukup tinggi" suruh Bryan dengan nada serius.
Mereka pun langsung mencari pegangan yang kuat karena Bryan tidak main-main dengan ucapannya.
Bryan menancap gas dengan kecepatan di atas seratus, lalu ketika belokan tajam Bryan langsung membanting setir ke sebelah kiri dan kini mobilnya memasuki sebuah jalanan sepi dan jauh dari keramaian.
Angkasa kembali melihat ke belakang yang kosong, saking kosongnya di jalanan ini tak ada satupun kendaran yang berlalu lalang.
"Dia udah gak ada, dia udah pergi" ucap Angkasa.
Mereka semua bernafas lega, karena kali ini mereka tidak kejar-kejar seperti hari itu.
"Syukurlah kalau dia udah gak ngejar kita lagi" puji syukur Rafael lantaran hari ini dia masih selamat.
"Ya jelas dia gak akan ikutin kita, aku jamin dia juga gak tau tentang jalanan ini" sahut Bryan.
"Bryan kamu akan bawa kami kemana, kenapa lewat jalanan yang sesepi ini, gak ada satupun kendaraan lagi" ngeri Reyhan saat di kanan dan kirinya matanya tak menjumpai satu kendaraan lain selain mobil yang ia tumpangi.
"Udah kalian tenang aja, kalian gak perlu khawatir ataupun cemas, aku akan bawa kalian ke tempat tujuan dengan waktu singkat. Jalanan ini adalah jalanan singkat tapi sedikit rawan serta sepi, namun kalian gak perlu khawatir, ada aku di sini" Bryan mendinginkan suasana yang mulai di selimuti rasa tegang.
__ADS_1
Mereka percaya semuanya pada Bryan karena saat ini yang menjadi supirnya adalah Bryan. Mereka hanya mengikutinya dan terus berdoa agar semuanya berjalan dengan semestinya tanpa ada hambatan lain lagi.