
"Iya, ibu mu baik-baik saja, kamu jangan mikir macem-macem dulu" Cantika berusaha bangkit di saat dirinya tengah jatuh.
Cantika harus bisa kuat, dia tidak boleh percaya pada secarik kertas yang masih belum di ketahui kebenarannya.
Bisa saja apa yang di sebutkan dalam kertas itu tidak sesuai dengan realita, ada kemungkinan bahwa kiriman itu hanya untuk menggertak Cantika saja.
"Besok aku akan hubungi mama lagi, kalau gak ada jawaban, aku akan susul mama keluar kota, aku akan pastikan dulu dia baik-baik saja atau tidak" Cantika menyeka air matanya, ia akan melakukan itu jika ibunya tidak ada kabar sampai besok pagi.
Cantika yang masih kacau masuk ke dalam kamarnya, ia membiarkan benda-benda yang di kirim sama penjahat itu di sana.
Keadaan Cantika masih benar-benar kacau, ia masih belum bisa berpikir jernih saat ini, pikirannya penuh dengan keburukan-keburukan yang akan menimpa ibunya seperti isi surat ancaman itu yang menyebutkan bahwa di antara ia dan ibunya salah satunya harus tumbang.
Cantika berniat akan kembali tidur, ia ingin menghilangkan pikiran-pikiran buruk itu, ia merasa dengan tidur pikiran kotor itu akan berhenti dan ia bisa melupakannya untuk sesaat.
Sebelum Cantika merebahkan tubuhnya ia mendekati jendela, ia berniat akan menutup gorden agar tak ada penjahat yang akan masuk ke dalam.
Alangkah kagetnya Cantika kala melihat keluar jendela, ia menutup mulut tak menyangka akan apa yang ia lihat.
"M-miranda, k-kenapa di sana ada Miranda" tercekat Cantika yang melihat Miranda yang berdiri di luar dengan tubuh yang berdarah-darah.
Tatapan Miranda menatap ke arah Cantika tanpa berkedip, sorot matanya begitu tajam, tidak ada ekspresi sama sekali di wajahnya.
"Gina bilang Miranda udah meninggal, lalu kalau dia memang udah meninggal siapa orang itu?" bertanya-tanya Cantika dengan mulut yang ternganga.
"Jangan bilang dia hantunya Miranda!" terkesiap Cantika kala menyadari bahwa yang ia lihat saat ini bukanlah sahabatnya melainkan arwah sahabatnya yang sudah meninggal dunia.
Cantika langsung menutup gorden dengan cepat, kemudian ia langsung merebahkan tubuh di kasur, ia menyelimuti seluruh tubuhnya, dalam keadaan takut ia berusaha untuk memejamkan mata.
__ADS_1
Di datangin oleh sosok yang ia kenal baik selama ini bukanlah suatu hal yang biasa.
Cantika gemetaran hebat di balik selimut itu, mendapatkan teror yang barusan ia dapati saja sudah berhasil membuatnya hancur lebur, tapi kini dia malah semakin di buat hancur.
Cantika berusaha untuk masuk ke dalam mimpi, ia sulit sekali untuk bisa masuk ke dalam mimpi namun setelah sekian lama mencoba akhirnya Cantika bisa masuk juga ke dalam mimpi.
Pagi harinya Cantika terbangun, ia duduk termenung sejenak memikirkan kejadian tadi malam yang ia lewati.
Cantika setengah tidak sadar akan segala apa yang ia lewati tadi malam.
"Kejadian yang tadi malam aku lewati itu nyata gak ya?" Cantika masih belum sadar, ia masih menganggap apa yang terjadi tadi malam adalah sebuah mimpi buruk.
"Ku rasa itu cuman mimpi, itu bukan sungguhan, aku tidak perlu mikirin hal itu"
Cantika beranjak dari tempat tidur, ia tampak biasa, ia tidak terlihat kacau seperti tadi malam.
"J-jadi tadi malam yang terjadi itu beneran nyata" kaget Cantika, ia masih menganggap bahwa apa yang terjadi tadi malam adalah sebuah mimpi buruk.
"Aku harus hubungi mama lagi, aku harus pastikan kalau mama baik-baik saja, dia tidak boleh terluka, aku gak rela kalau ada orang yang berani celakain mama"
Cantika yang teringat dengan jelas isi surat yang mengancam nyawa sang ibu langsung menghubungi ibunya kembali.
Cantika masih belum mengetahui kabar ibunya, tadi malam ia sudah mencoba untuk menghubungi ibunya, namun tidak ada jawaban, kali ini ia akan mencobanya kembali.
Perasaan cemas kembali menghampiri, guratan kekhawatiran teringat dengan jelas di wajah Cantika.
Cantika mondar-mandir ke sana kemari, memikirkan ibunya yang tidak ada kabar.
__ADS_1
"Halo ada apa Cantika, kenapa nelpon mama pagi-pagi begini, apa ada yang terjadi di sana" suara lembut itu langsung menenangkan isi pikiran Cantika, hatinya begitu lega sekali karena setelah sekian lama akhirnya dia mendekati suara ibunya lagi.
"Enggak kok ma, gak ada masalah di sini, semuanya aman-aman aja" jawab Cantika dengan berbohong, ia tidak mungkin bilang pada ibunya kalau dia di teror oleh orang misterius, bisa-bisa ibunya akan cemas dan takut terjadi sesuatu padanya.
"Lalu kenapa kamu hubungi mama pagi-pagi begini?" penasaran Sari ibu Cantika yang masih berusia 38 tahun.
"Aku cuma kangen aja sama mama, mama ada di mana, Cantika pengen mama balik ke sini lagi, Cantika takut tinggal sendirian di rumah" ujar Cantika biar mamanya tidak curiga padanya.
"Mama ada di perjalanan pulang, 1 jam lagi mama akan sampai di rumah, kamu tunggu aja mama pulang, sebentar lagi mama akan sampai kok" jawab Sari.
Mata Cantika langsung berbinar, ia sungguh senang saat mendengar bahwa mamanya akan pulang ke rumah kembali, ia sudah di tinggal hampir 1 bulan oleh ibunya.
"Yang benar mama akan pulang" girang Cantika.
"Iya nak, mama akan pulang, sebentar lagi mama akan sampai di sana, kamu jaga diri baik-baik ya di sana, sebentar lagi mama akan pulang kok" perintah Sari yang begitu khawatir meninggalkan anak gadisnya di rumah sendirian namun karena faktor ekonomi yang tidak memadai ia terpaksa harus berjuang menghidupi dirinya dan juga anak semata wayangnya.
"Iya ma, aku pasti akan jaga diri, mama hati-hati di jalan, aku tunggu mama di sini" sahut Cantika yang sudah tak sabar menunggu kepulangan ibunya.
"Iya, mama tutup dulu" Cantika mengangguk, kemudian Sari mematikan sambungan telpon.
Cantika begitu lega mendengar kalau ibunya baik-baik saja, ia sungguh lega karena segala pikiran-pikiran itu terbantahkan.
Saat ini Cantika sedikit bernafas lega karena sang ibu akan segera datang dan ia yakin kejadian buruk itu tidak akan pernah terjadi.
"Syukurlah kalau mama baik-baik saja, aku udah takut mama kenapa-napa, semoga saja mama sampai di sini dengan selamat dan ancaman penjahat itu tak benar" harapan besar Cantika, ia sungguh takut kalau terjadi apa-apa pada ibunya.
"Mama bilang 1 jam lagi mama akan pulang, aku harus rapihin semua ini, aku gak boleh biarkan mama liat ini semua, dia pasti akan khawatir sama aku, aku kudu singkirin secepatnya barang-barang ini"
__ADS_1