Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Menyelidiki Kayla


__ADS_3

"Hai semua" sapa seorang pemuda bernama tag Aldo, Aldo saat ini duduk di bangku kelas 3 SMA sama seperti Rev.


"Akhirnya kamu sampai di sini juga" Rev lega karena orang yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang juga.


"Ada apa kamu minta aku datang kemari?" Aldo heran karena tak biasanya Rev begini.


"Kamu tau gak rumahnya Kayla?" Aldo mengernyitkan dahi, baru pertama kali ini telinganya mendengar langsung kalau Rev mencari tau alamat seorang siswi.


"Ngapain kamu nanya alamatnya, buat apa juga, dia bukan bagian organisasi kok" ujar Aldo.


"Iya aku tau dia bukan orang penting di sekolahan ini, tapi aku punya urusan tersendiri, mangkanya aku nanya sama kamu, cepat kasih tau aku di mana rumahnya" tak sabaran Rev.


"Rumahnya di dekat kuburan massal itu, kamu nanya aja ke orang-orang di sekitar sana, mereka pasti tau kok" jawab Aldo.


"Makasih infonya" sahut Rev.


Aldo menatap mereka bergantian dengan seksama, ia menaruh kecurigaan pada mereka berempat.


"Katakan apa yang lagi kalian rencanakan, kenapa kalian nanyain rumah Kayla?" Aldo curiga dengan apa yang akan mereka lakukan, tak biasanya mereka berkumpul di tempat sepi seperti ini.


"Kamu jangan kasih tau siapa-siapa ya!" peringatan Clara.


"Iya, katakan aja, aku gak akan bocor kok, percaya deh sama aku" jawab Aldo.


"Kami itu lagi berusaha nyari pelaku yang sudah bunuh Jia, kami curiga sama Kayla, karena dia duduk sebangku dengan Jia" Clara menceritakan semuanya pada Aldo.


"Tapi masa iya Kayla yang sudah bunuh Jia, Kayla itu anak pendiam loh, gak mungkin dia yang sudah bunuh Jia" menurut Aldo anak sependiam Kayla tak mungkin tega melakukan itu.


"Bisa aja do, hati orang beda-beda, walaupun dia pendiam, tidak menutup kemungkinan kalau dia gak terlibat dalam kasus ini" Rev masih yakin kalau Kayla pembunuhnya.


"Terserah kalian, kalian nanyain alamat rumah Kayla buat apaan, kalian gak akan datang ke sana kan?" Aldo menatap wajah mereka semua.

__ADS_1


"Jelas kami akan datang ke sana, dia sudah gak masuk sekolah 2 hari, kami mau datangin rumahnya, kami ingin cari tau kenapa dia gak masuk sekolah" jawab Steven.


"Kalau saran aku, kalian mending jangan ke rumahnya Kayla" ujar Aldo.


"Kenapa?" kompak mereka yang penasaran mengapa Aldo melarang mereka mendatangi rumah Kayla.


"Aku dengar-dengar bapaknya Kayla itu preman, kalian jangan sampai di apa-apain sama bapaknya, lebih baik kalian jangan ke sana, kalian jangan mencari petaka!" peringatan Aldo yang tak mau terjadi sesuatu pada mereka berempat.


"Bismillah aja, semoga tujuan kita datang ke sana bisa di terima dengan baik sama keluarganya" Clara masih ingin bertemu secara langsung dengan Kayla, ia akan tetap menyelidiki Kayla meskipun apapun yang terjadi.


Aldo menghela nafas."Terserah kalian, kalian mau datang ke sana kapan, aku mau ikut juga ke sana, aku juga kepo siapa orang yang sudah tega bunuh Jia, aku ingin tau siapa orangnya"


"Habis pulang sekolah, kalau kamu mau ikut silahkan, tapi ingat jangan pernah kasih tau siapa-siapa tentang rencana kami, kalau kamu bocorin masalah ini, tamat riwayat mu!" ancam Rev tak main-main.


Aldo menegak ludah pahit, ancaman Rev benar-benar membuatnya merinding."Gak akan aku kayak gitu, aku gak mungkin khianatin kalian, kalian tidak perlu khawatir"


"Awas, jangan sampai ada orang yang tau, ingat itu baik-baik!" Rev mewanti-wanti Aldo, ia tidak mau masalah ini sampai bocor, apalagi kalau sampai di dengar oleh dewan guru.


Teeet


Teeet


Teeet


Bel berbunyi sebanyak 3 kali, mereka berlima yang berada di samping sekolah terkejut.


"Kok tiba-tiba di pulangkan, ini kan masih belum waktunya pulang" Clara melirik jam tangannya yang masih menunjukan pukul 10.


"Guru-guru mau menghadap pihak berwajib, mereka pasti memulangkan kita karena hal itu" timpal Rev yang tau hal itu sebelumnya.


"Ya udah, ayo kita langsung ke rumah Kayla, kita harus cari tau alasan dia gak masuk sekolah" ajak Clara yang di balas anggukan oleh mereka berempat.

__ADS_1


Mereka berlima berlari menuju kelas masing-masing untuk mengambil tas, setelah tas sudah berada di tangan mereka, mereka lanjut berjalan keluar dari sekolahan.


Angkasa memberikan jarak yang cukup jauh dengan Steven dan Clara, ia mencari-cari nomor mang Asep yang merupakan supirnya.


"Mang jangan jemput aku, habis pulang sekolah aku ada urusan, mamang gak usah jemput aku di sekolah, karena aku gak ada di sana" titah Angkasa dengan suara yang sengaja ia pelankan biar kedua temannya tak mendengarnya.


"Jangan den, aden jangan keluaran dulu, nanti mamang yang akan di marahin sama tuan dan nyonya" di seberang telpon mang Asep khawatir terjadi apa-apa pada Angkasa.


"Udah mamang gak usah khawatir, semuanya akan baik-baik saja, aku tutup dulu"


Tanpa aba-aba Angkasa mematikan sambungan, mang Asep menjadi risau berlebihan karena membiarkan Angkasa pulang sendiri.


Angkasa mematikan hpnya, ia kembali memasukkan hp itu ke dalam kantong celana.


Clara berbalik menatap ke belakang."Ayo sa buruan, kita harus temui Rev dan Aldo, mereka pasti sudah ada di parkiran"


"Iya" Angkasa berlari mendekati mereka, ia berjalan dengan tenang seperti tidak ada yang terjadi padanya.


Mereka bertiga terus berjalan menuju parkiran, tak lama dari itu mereka tiba juga di sana, benar apa yang Clara bilang kalau di parkiran sudah ada Rev dan juga Aldo yang sudah menunggu kedatangan mereka.


"Ayo kita ke rumah Kayla, Aldo kamu tau kan rumahnya?" Rev memastikan kembali biar mereka tidak tersasar.


"Aku tau rumahnya, aku akan anterin kalian ke sana" sahut Aldo.


Meraka berlima masuk ke dalam mobil hitam milik Rev, setiap hari Rev di antar jemput sama sang supir, Rev meminta sang supir mengantarkannya ke tempat di mana letak rumah Kayla berada.


Clara menatap ke jendela, banyak kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di jalanan.


"Jia aku hari ini akan cari tau siapa orang yang sudah bunuh kamu, semoga saja dugaan kami terwujud, kami ingin kejelasan dari kematian mu, tolong doakan kami semoga kami berhasil menangkapnya" batin Clara yang berharap bisa menyeret sang pelaku ke dalam jeruji besi.


Mobil terus melaju dengan kencang menuju rumah Kayla yang letaknya lumayan jauh.

__ADS_1


"Aku yakin Kayla yang sudah bunuh Jia, kalau sampai dia yang terbukti pembunuhnya, aku bakal seret dia dengan kedua tangan ku ke dalam jeruji besi!" batin Rev yang memiliki keyakinan penuh.


__ADS_2