
Rev membawa kotak misterius itu ke ruang tamu, ia membuka kotak itu dengan sangat penasaran, ia ingin tau apa isi kotak misterius dan siapa yang sudah mengirimnya.
Mulut Rev terperangah kala melihat isi di dalam kotak itu, refleks ia pun melempar kotak itu ke sembarang arah, wajahnya sangat tercekat.
"K-kenapa isinya boneka serem" terkesiap Rev kala melihat isi di dalam kotak misterius yang tak lain adalah sebuah boneka seram yang berlumuran darah.
Jantung Rev berdegup kencang, ketegangan masih terasa di dirinya.
"Apa itu?" pandangan Rev jatuh pada sesuatu yang terletak tak jauh dari boneka seram tersebut.
Rev yang masih di selimuti rasa tegang mengambil sebuah surat yang berada tak jauh dari boneka seram itu.
"Jangan ikut campur!" isi surat yang Rev baca.
Rev yang terkejut tak sengaja menjatuhkan surat itu, kotak misterius yang ia kira sebuah hadiah indah ternyata adalah sebuah ancaman yang tak tau dari siapa.
"A-apa maksudnya ini, kenapa isi surat ini begini, lalu siapa yang udah ngirim ini semua kemari" tergagap Rev yang terkesiap dengan kiriman-kiriman tak jelas itu yang berhasil membuat jantungnya tak aman.
"Apa jangan-jangan ini dari" tercekat Rev saat menyadari siapa yang sudah mengirim kotak misterius itu ke rumah Clara.
Rev bangkit dari duduk dan berlari menaiki tangga menuju kamar Clara dengan panik.
"Ra, ra keluar, cepet keluar!" teriak Rev menggedor-gedor pintu dengan bertubi-tubi.
"Ra keluar, keluar woy!" pekik Rev sekali lagi.
Clara dengan wajah kesal membuka pintu, tindakan sepupunya membuatnya sangat terganggu.
"Apa, kenapa kamu teriak-teriak, pelan-pelan bisa gak sih!" gerutu Clara.
"Ayo cepet ikut ke bawah" ajak Rev dengan wajah paniknya.
"Ngapain ke bawah, aku mau belajar, gak mau ke bawah" tolak Clara yang enggan mendatangi lantai 1.
__ADS_1
"Udah ikut aja, ini penting" Clara menghembuskan nafas berat, ia dengan malas mengikuti Rev ke bawah.
"Apa yang penting, cepat bilang, aku mau belajar gak bisa lama-lama di sini" tak sabaran Clara.
"Liat ini, ini tadi aku temuin di depan rumah kamu" Rev memperlihatkan pada Clara sebuah boneka seram yang berlumuran darah dan juga sebuah surat yang terbilang cukup misterius.
"Jangan ikut campur!" Clara terperangah membaca isi surat tersebut.
"M-maksudnya apa ini?" Clara menatap ke arah Rev, barang kali Rev tau maksud dari semua ini.
"Aku rasa surat dan boneka serem ini kiriman dari dalang utamanya, dia udah tau kalau kita sedang berusaha buat bergerak menangkapnya" jawab Rev.
"Gak, gak mungkin dia tau, orang yang tau kalau kita mau bergerak menangkapnya cuman aku, kamu, Steven, Aldo dan Angkasa, di antara mereka gak mungkin cepu sama dalangnya" bantah Clara.
"Clara walaupun di antara kita semua gak berkhianat, tapi dalang utamanya itu pasti tau sendiri, dia pasti sadar kalau kita lagi berusaha mencari tau tentang dia" ujar Rev.
Clara tiba-tiba terdiam."Tapi gimana caranya dia bisa tau rencana kita, kita aja bicarain di tempat yang sepi dan jelas gak ada orang, tapi kok bisa dia masih tau"
"Yang jadi permasalahannya kenapa dia bisa tau rumah aku, apa jangan-jangan" tercekat Clara.
"Jangan-jangan apa?" penasaran Rev.
"Tadi pas aku pulang memang kayak ada orang yang ngikutin aku dari belakang, tapi aku gak tau siapa dia, apa jangan-jangan dia adalah dalang utamanya" Clara teringat kejadian tadi, ia merasa hal ini saling berkaitan.
"Tuh kan apa aku bilang, dia lagi waspada, dia sudah tau sekarang kalau kita lagi berusaha buat nangkap dia, kalau begini kamu harus terus berada di dekat aku, aku gak mau kamu yang akan di jadikan korban berikutnya, karena di sini kamu adalah orang yang bisa membuatnya terancam" Clara menelan ludah pahit, tak pernah ia sangka bahwa apa yang ia lakukan dapat membahayakan dirinya dan juga orang lain.
"Terus gimana ini?" gelisah Clara yang tiba-tiba tak bisa tenang.
"Cepat chat yang lain, bilang kalau dalangnya sudah tau rencana kita dan dia sekarang sedang berusaha menghentikan kita, beri tau mereka untuk berjaga-jaga" perintah Rev.
Clara dengan tergesa-gesa mengchat mereka bertiga untuk berhati-hati.
"Udah" jawab Clara.
__ADS_1
"Sekarang kamu balik ke kamar, biar aku yang akan urus ini semua" Clara mengangguk patuh, ia pun balik ke kamarnya seperti yang Rev perintahkan.
Rev menatap dengan seksama ke arah boneka dan juga surat peringatan itu.
"Dia sudah tau rencana ku, aku gak bisa diam aja, aku gak mau dia bahayain Clara, aku harus jaga Clara dengan sebaik mungkin, gak akan aku biarkan Clara kenapa-napa" janji Rev.
Rev membawa kotak misterius itu ke kamarnya, ia tidak akan membuangnya, ia akan menyimpannya untuk sementara sampai pelakunya di tangkap.
Clara di dalam kamar menjadi risau, surat peringatan itu membuatnya menjadi tidak tenang karena saat ini Clara tinggal lain atap dengan kedua orang tuanya, ia khawatir suatu waktu sang dalang akan datang dan menghabisinya seperti dia menghabisi Jia dan juga Kayla.
"Duh gimana ini, kenapa dalangnya pake tau rumah aku segala, aku sih gak hati-hati, tau gini aku gak akan pulang jalan kaki, sekarang dia sudah tau rumah ku!" gelisah Clara mondar-mandir tak jelas.
Clara yang gelisah tak bisa fokus belajar, di otaknya hanya terisi pikiran-pikiran kotor yang akan membahayakan dirinya.
Clara yang tak bisa tenang membuka pintu balkon, ia berniat akan menenangkan diri di sana.
Tiba-tiba seorang laki-laki misterius yang mengenakan pakaian serba hitam dari atas sampai bawah tertangkap di mata Clara, ia tengah mengamati rumah Clara dari dekat pohon yang terletak di seberang jalan.
"Siapa itu" teriak Clara.
Sontak laki-laki misterius itu kabur dari sana saat Clara telah menangkap basah dia yang tengah mengamati rumahnya.
"Eh jangan pergi!" teriak Clara namun laki-laki misterius itu tetap pergi dari sana.
"Siapa dia sebenarnya, kenapa misterius sekali, apa mungkin dia pelakunya yang lagi berusaha ngamatin aku" tercekat Clara.
"Gak salah lagi dia memang tersangkanya, bahaya ini, dia udah mulai bergerak rupanya, aku harus lebih hati-hati lagi"
Clara yang sudah menangkap dengan jelas seperti apa orang yang sudah bunuh Jia dan Kayla meskipun wajahnya di tutupi masker masuk ke dalam kamarnya kembali, ia tidak jadi menenangkan pikiran di sana.
Clara yang takut dia masuk ke dalam dan menghabisinya menutup semua jenderal, tidak akan dia biarkan monster itu masuk dan merenggut nyawanya.
Malam ini Clara tidur dalam ketakutan.
__ADS_1