Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Nama selanjutnya yang patut di curigai


__ADS_3

Angkasa dan kawan-kawannya masih berada di dalam mobil, benar kata Bryan setelah keluar dari gang itu tak lama kemudian mereka bertemu dengan jalanan raya, tak jauh setelah itu sekolahan SMA kebangsaan yang megah dan besar terlihat dengan jelas.


"Bryan stoooop!" teriak Angkasa membuat semua orang terkejut.


Bryan yang terkejut langsung mengeram mendadak."Ada apa sa, kenapa kamu teriak, bikin kaget aja!"


Apa yang Angkasa lakukan benar-benar membuat jantung Bryan seperti akan copot.


"Jangan terusin lagi, kita berhenti di sini aja, aku memang biasanya turun di sini, aku masih gak mau kita berangkat ke sekolahan pake mobil, aku takut ada yang ngenalin mobil ini" jawab Angkasa.


"Ya udah kalau begitu ayo kita turun, kita turun di sini aja, biar aman" tajam Reyhan.


Mereka semua pun setuju, satu persatu di antara mereka berlima keluar dari dalam mobil, mang Asep kembali melajukan mobil menuju rumah.


Jantung Angkasa berdebar kencang, sebenarnya ia masih belum yakin menunjukkan para personil band Amanda pada teman-temannya yang lain, ia khawatir salah satu di antara mereka mengenalinya.


Mereka berlima masih diam di tempat, Angkasa menatap tingginya bangunan sekolah yang mengalahkan bangunan-bangunan lain di sekitarnya.


"Mungkin sudah saatnya aku bawa mereka, kasihan mereka kalau aku tinggalin berempat doang, mungkin mulai detik ini kami akan kembali seperti yang dulu, semoga aja Allah masih melindungi kami sampai penjahatnya di tangkap" batin Angkasa yang berdoa untuk kelancaran tujuannya.


"Ayo kalian semua ikuti aku" ajak Angkasa.


Mereka semua mengangguk dan berjalan mengikuti Angkasa dari belakang.


Mereka berlima menyebrang jalan, karena letak sekolahan itu ada di seberang jalan.


Angkasa melihat sekelilingnya, pandangannya jatuh pada keempat orang yang tengah menunggu kedatangannya sejak tadi.


"Itu mereka, ayo kita dekatin mereka" ajak Angkasa.


Mereka semua mengejar Angkasa, Angkasa dan teman-temannya menghampiri golongan Rev dan yang lain yang lagi menunggu kedatangannya.

__ADS_1


"Hai" sapa Angkasa.


"Hai" balas mereka dengan menatap keempat orang asing yang Angkasa bawa.


"Siapa mereka?" dengan tatapan serius Rev bertanya pada Angkasa selaku orang yang ia kenali di antara mereka semua.


"Mereka teman-teman aku, mereka ikut pindah kemari, mereka akan sekolah di sini juga" jawab Angkasa dengan gugup, ia khawatir di antara mereka berempat ada yang mengenali sahabat-sahabatnya.


Tatapan tajam dan serius mereka terus tertuju pada kawan-kawan Angkasa yang benar-benar asing di mata mereka.


"Semoga mereka gak ada yang ngenalin Rafael dan yang lain, aku gak akan bisa bayangkan gimana jadinya kalau mereka ketahuan" batin Angkasa yang ketar-ketir.


Perasaan Angkasa benar-benar tidak tenang, kekhawatiran terpancar jelas di wajahnya, ketidak siapan tiba-tiba datang menghampirinya.


"Kalian asli orang sini?" Aldo mengajukan pertanyaan, selama ini ia tidak pernah melihat mereka berempat di sekitar tempat tinggalnya.


"Enggak, kami berasal dari daerah yang berbeda-beda, kami ketemu di sekolahan yang dulu dan sampai sekarang kami berkawan" jawab Rafael dengan spontan dan tidak gugup sama sekali agar mereka tidak mencurigainya.


"Kami ikut Angkasa kemari, dia kan pindah kemari karena ikut papa dan mamanya yang di kabarkan akan menetap di kota ini, di sekolahan yang dulu gak ada masalah yang kami hadapi, kami cuman gak mau pisah aja biar persahabatan kami tetap terjalin" jelas Bryan dengan tegasnya.


Jawaban Bryan tidak ngawur, sehingga bisa di cerna dengan akal sehat.


"Owh begitu rupanya" nada bicara Aldo terdengar tidak percaya 100% tentang apa yang barusan ia dengar dari Bryan maupun Rafael.


Pandangan Angkasa hanya terus menatap ke arah Aldo, pria itu yang terlihat sangat curiga pada teman-temannya dan itu harus di waspadai.


"Kenapa bocah itu terus natap teman-teman ku seperti ini, apa yang dia pikirkan, apa iya dia curiga, kalau sampai dia curiga gak hanya mereka yang akan kena masalah, aku juga yang akan kena masalah" batin Angkasa yang gemetaran.


Angkasa mulai resah, tatapan mereka membuatnya gugup dan tidak tenang.


Clara menatap teman-temannya yang terus menatap sinis ke arah teman-teman Angkasa.

__ADS_1


"Kenapa kalian sinis banget sih, Angkasa cuman bawa temannya kemari bukan bawa penjahat, kenapa kalian segitunya yang natap mereka" gerutu Clara yang mulai jengkel.


Ekspresi mereka bertiga pun kembali seperti semula, omelan yang barusan terdengar di telinga mereka berhasil mematahkan segalanya.


"Aduh Clara kita gak sinis kok, kita itu cuman mau kenalan aja" ujar Aldo biar Clara tidak. semakin mengomel.


"Kenalan apa kayak gitu, udah deh kalian jangan pada nanya-nanya lagi, ingat kita ini nunggu Angkasa bukan karena ingin introgasi dia tentang di mana dia tinggal, kapan dia lahir, mengapa dia pindah kemari, umurnya berapa, tinggi badannya berapa, enggak, kita gak akan cari tau tentang dia, kita hanya perlu cari tau tentang teman-teman Dyera yang wajib kita curigai, bukan malah Angkasa kawan-kawannya, kalian waras gak sih" omel Clara yang kesal dengan tindakan mereka bertiga yang menurutnya membuang-buang waktu.


Ketiganya kena mental, mereka bertiga akan sulit melawan Clara kalau Clara sudah marah.


"Iya-iya, kita gak akan bahas mereka, puas kau!" tutur Rev biar Clara tidak semakin mengomel.


Angkasa dan kawan-kawannya lega, hampir saja mereka bertiga mengorek segala informasi penting yang ada di diri mereka.


"Alhamdulillah mereka berhenti juga, terima kasih Clara, kalau bukan karena kamu, mereka pasti sampai malam akan terus nanya-nanya tentang kami" batin Angkasa yang sangat bersyukur Clara mengembalikan keadaan.


"Sa mana buku misterius itu, kita mau tau nama selanjutnya yang tertera di buku itu" titah Clara.


Dengan cepat Angkasa mengeluarkan buku misterius yang ia selalu bawa karena buku itu benar-benar penting.


Angkasa membuka halaman buku yang terdapat nama-nama orang yang terdaftar di buku tersebut.


"Nama selanjutnya setelah Miranda adalah Cantika Putri" sebut Angkasa.


"Jadi habis ini yang patut kita curigai adalah Cantika" ujar Clara.


"Iya, dia yang kudu kita cari tau, apa di antara kalian ada yang tau sedikit demi sedikit tentang Cantika?" penasaran Angkasa barang kali di antara mereka yang mengenalinya.


"Setau aku Cantika itu duluannya pendiem, pendiem banget malah, tapi itu semua berubah semenjak papanya meninggal dunia" timpal Aldo.


"Kenapa bokapnya Cantika bisa meninggal?" kompak mereka yang sama-sama penasaran.

__ADS_1


"Dengar-dengar sih karena bangkrut, bokapnya Cantika memang punya penyakit jantung, waktu itu perusahaannya oleng dan bokapnya Cantika langsung anfal, dan gak lama dari itu beliau meninggal dunia" jelas Aldo.


__ADS_2