
"Sa saran aku kamu jangan ikut campur masalah itu lagi deh, biarkan orang lain aja yang selidiki, jangan kamu" suruh Aryan yang mulai takut terjadi apa-apa terhadap Angkasa.
"Aku udah setengah jalan, gak mungkin aku berhenti gitu aja, aku gak akan pernah berhenti sebelum dalangnya ke tangkap, kalian seharusnya dukung aku, kenapa kalian malah terlihat tidak mendukung ku sama sekali" geram Angkasa karena kini ia tidak mendapatkan support sama sekali dari teman-temannya.
"Kami bukannya gak mau support kamu, tapi kami takut karir yang kamu bangun dengan sudah payah hancur gara-gara kamu berusaha ikut campur dalam masalah yang terbilang cukup berat ini, ini bukan masalah sepela loh sa, ini berhubungan dengan pembunuhan, bagaimana kalau seandainya pembunuhnya merasa usaha mu selama ini berhasil mengusik hidupnya dan dia malah berbalik arah dan bunuh kamu, aku takut kamu yang dia celakain" Aryan memikirkan dampak negatif yang akan menimpa Angkasa jika Angkasa tak kunjung berhenti.
"Aku tau kalau masalah resiko itu, tapi aku udah terlanjur terjun dalam masalah ini, aku sudah sangat penasaran sama pelakunya, hanya kasus ini yang bikin aku tertantang mangkanya sekarang aku lagi berusaha buat cari tau dia, kalian doakan aja semoga aku bisa tangkap dia, gak ada yang terjadi sama aku dan teman-teman ku lainnya kok, doain aja semoga semuanya berjalan dengan lancar" jawab Angkasa.
Angkasa sudah berada di pertengahan jalan, untuk mundur dari kasus ini rasanya ia enggan, sudah lama ia berjuang bersama Rev, Clara, Steven dan Aldo, ia tidak bisa berhenti begitu saja.
"Iya kami akan doain kamu yang terbaik, kamu hati-hati, jangan sampai karena masalah yang sedang kamu selesain malah bikin kamu celaka" peringatan Reyhan.
"Iya, aku pasti akan hati-hati kok, tenang aja" jawab Angkasa.
"Sa aku penasaran kenapa kamu bisa dapat semua bukti-bukti tentang masalah ini, siapa yang sudah beri tau kamu?" Bryan ingin tau sumber bukti yang Angkasa dapatkan selama ini.
"Bukti-bukti itu bisa terkumpul gak mudah, aku harus cari dulu, kadang di bantuin sama makhluk halus yang sudah meninggal, kadang pula Rev yang cari tau lewat jalur yang lebih tinggi lagi" jawab Angkasa dengan mata yang kembali terpejam, sungguh hari ini ia ingin istirahat, matanya sudah sangat berat.
"Jalur yang lebih tinggi lagi? maksud kamu!" tak mengerti Bryan dengan ucapan Angkasa.
"Iya, jalur yang lebih tinggi, Rev itu adalah ketua OSIS, dia sering rapat sama guru-guru kalau ada berita kematian lagi, dia sering membawa informasi penting pada kami, kalian tau gak ternyata kasus kematian yang sudah memakan 4 korban itu tidak di proses ke jalur hukum" tutur Angkasa.
Mereka semua terkesiap, ucapan Angkasa benar-benar membuat mereka terguncang, mata mereka sampai melotot saking terkejutnya.
__ADS_1
"Kok gak di proses, ini kan kasus kriminal yang ngebahayin nyawa, kenapa malah gak di proses!" kaget Bryan.
"Itu yang aneh, mangkanya aku sama yang lain masih cari tau hal itu, alasan pihak sekolahan cuman satu yaitu mereka tak mau masalah yang terjadi di sekolahan terendus sama media, mereka takut wewenang sekolahan akan di cabut kalau di bawa ke jalur hukum" sahut Angkasa.
"Benar-benar aneh, hanya karena masalah itu mereka malah gak mau bawa kasus ini ke jalur hukum" geleng-geleng kepala Rafael yang menganggap bahwa alasan pihak sekolahan tidak masuk akal.
"Tau, seharusnya mereka bawa aja ke jalur hukum, biar kepolisian yang akan urus kasus ini, aku jamin pihak kepolisian pasti akan mudah nangkap dalangnya dan kamu gak akan capek-capek nyelidiki satu persatu orang-orang yang terdaftar di buku misterius" tambah Aryan.
"Nah mangkanya itu aku juga heran dengan jalan pikiran pihak sekolahan itu, sebenarnya kasus ini awalnya memang di bawa ke jalur hukum, kata Rev polisi yang sudah ikut campur dalam masalah ini meninggal mengenaskan, mereka di bunuh dengan cara yang sadis oleh pelakunya" jawab Angkasa.
Mulut mereka semua terbuka dengan lebarnya, mereka tercekat, mereka tak menyangka bahwa pihak kepolisian akan di celakai sampai segitunya.
"Kalau pihak berwajib aja sampai di celakain kayak gitu apalagi kamu nantinya" mulai gelisah Reyhan.
"Kalian kenapa sih, aku gak akan kenapa-napa kok, aku akan baik-baik aja, gak akan ada yang terjadi sama aku" Angkasa berusaha untuk menenangkan teman-temannya yang mulai khawatir padanya.
"Sa penyesalan itu akan ada di paling akhir, iya sekarang kamu bisa bilang kayak gini, tapi nanti kalau kamu berhasil di celakain sama dia, kamu pasti akan menyesal, ayolah kamu berhenti ikut campur masalah ini, jangan korbankan diri mu, biarkan ketua OSIS itu yang nyelesain masalah ini, aku yakin dia pasti bisa kok" Reyhan membujuk Angkasa agar berhenti melakukan tindakan yang bisa membahayakan dirinya sendiri.
"Gak, aku gak bisa berhenti, aku udah terlanjur terjun, kalaupun aku berhenti semuanya akan percuma, kalian jangan takut berlebihan, semuanya akan baik-baik aja kok" sekali lagi Angkasa kembali menenangkan teman-temannya yang mulai gelisah, khawatir, cemas dan takut.
Reyhan menghembuskan nafas berat."Kalau kamu gak mau berhenti, ya udah kami ikut juga nyelidiki kasus ini"
Ucapan Reyhan berhasil membuat mata Angkasa terbuka dengan lebarnya, ia sungguh terkejut dengan penuturan Reyhan.
__ADS_1
"Iya, kami juga mau ikutan, biar kamu gak sendirian" setuju Bryan.
"Apa-apaan kalian ini, kalian jangan khawatir berlebihan, aku akan baik-baik aja, kalian gak usah ikut-ikutan masalah ini, ini masalah besar, ini berbahaya" larang keras Angkasa, cukup dia saja yang dalam bahaya jangan teman-temannya juga.
"Sebahaya apapun itu, kita tetap akan ikut bersama mu, kita akan berjuang bersama sampai kita tangkap pelakunya" timpal Rafael.
"Setuju itu, kita akan bantu kamu juga, biar kamu gak sendirian" tambah Aryan.
Angkasa semakin panik saat teman-temannya malah ingin berpartisipasi dalam masalah besar ini.
"Eh kalian jangan ikut-ikutan, biar aku aja, kalian duduk manis di rumah aja, jangan malah ngikutin jejak aku" cegah Angkasa.
"Enggak, pokoknya kami akan ikut, kami juga ingin tau siapa yang sudah bunuh mereka berempat" pertegas Bryan.
Angkasa panik, ia tidak bisa menghalangi teman-temannya, ia bingung harus menghentikan niat mereka dengan cara apa.
"Gimana ini, kenapa mereka pada ingin ikut juga, nyesel deh aku cerita sama mereka, tau gini aku simpen aja sendiri, sekarang masalahnya makin runyam, aku akan sulit bergerak kalau teman-teman ku berada di dekat ku" batin Angkasa yang di selimuti penyesalan.
"Terserah kalian, kalian mau ikut ya silahkan, tapi aku gak mau tanggung jawab kalau semisal ada apa-apa sama kalian" ketus Angkasa.
"Iya, kami akan tanggung resikonya sendiri kok" jawab Rafael.
Angkasa langsung diam, kepalanya semakin pening, membawa teman-temannya ke jalur yang berbahaya membuatnya tidak bisa tenang.
__ADS_1