Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Misteri mimpi buruk 2


__ADS_3

Helaan nafas Angkasa hembuskan, berat baginya untuk menjelaskannya."Jadi begini, tadi itu aku jalan-jalan di sekitar hutan sendirian, dengan niatan mau cari pemandangan yang indah buat di jadikan kenangan. Saat aku lagi foto-foto alam"


"Tiba-tiba aku di datangi sama sesosok makhluk halus, dia perempuan, seumuran lah sama kita, tapi dia misterius" sahut Angkasa.


Kening mereka semua berkerut, serempak mereka melempar pertanyaan."Misterius? Misterius gimana?"


"Iya misterius, dia tersenyum tapi anehnya aku malah takut saat dia senyum. Senyum yang dia tebarkan itu gak tulus, kayak orang tertekan" jawab Angkasa.


Gadis misterius itu memiliki senyum manis yang jauh dari kata indah, di balik senyum tersebut ada misteri yang ia sembunyikan.


"Terus-terus gimana!" Bryan penasaran kelanjutan cerita Angkasa yang menarik dan cukup menantang.


"Aku tanya baik-baik sama dia, tapi tiba-tiba dia berhenti tersenyum, wajahnya langsung berubah kayak marah dan benci banget sama aku, padahal aku gak ngelakuin apa-apa. Dalam sekejap dia berubah menjadi sosok yang sereeemm banget. Dia bukan sosok makhluk halus baik yang biasanya aku temui, dia jahat, dia dorong dan cakar aku hingga aku jatuh pingsan. Liat muka aku lebam dan luka-luka kayak gini itu gara-gara dia" Angkasa menunjukkan pada mereka wajahnya yang ternodai.


Mereka mengamati luka di wajah Angkasa, memang terlihat seperti habis di cakar sama kuku yang panjang dan tajam. Bukan seperti orang jatuh.


"Terus dia gak ngapa-ngapain kamu lagi kan?" khawatir Reyhan.


"Saat aku gak sadarkan diri, aku gak inget apa-apa, aku gak tau lagi tentang dia. Tapi yang bikin aku jadi pendiam sejak tadi karena saat aku gak sadar diri, aku mimpi berada di sebuah sekolahan yang luas dan gede banget" jeda Angkasa.


"Yang menjadi faktor anehnya, orang-orang yang sekolah di SMA tersebut gak bisa aku pegang, mereka gak bisa di ajak komunikasi. Mereka itu kayak gak bisa liat aku, saat aku coba pegang mereka gak bisa, mereka kayak angin, gak bisa di pegang tapi wujudnya ada. Itu yang bikin aku merasa aneh sejak tadi" jelas Angkasa menutup cerita yang terjadi menimpanya.


Mereka semua bungkam, mencerna baik-baik dari cerita Angkasa yang terdengar menyeramkan.


Pantes saja Angkasa berubah menjadi lebih pendiam, dia pasti kepikiran akan mimpi yang dia alami sendiri.


"Aku bingung kenapa aku bisa kayak gitu, kenapa orang-orang di sana gak bisa liat aku, padahal aku ada di hadapan mereka, aku udah berusaha ngajak mereka interaksi, tapi mereka tetap saja seperti orang yang gak bisa liat aku" tutur Angkasa masih kebingungan.


Tak hanya Angkasa, mereka pun ikut bingung, mereka mikir keras untuk mengungkap teka-teki yang baru menimpa Angkasa.


Mereka mencoba mengartikan mimpi buruk itu dalam bahasa mereka agar mudah di pahami.

__ADS_1


"Mungkin aja kamu gak bisa ngajak mereka komunikasi, gak bisa ngajak mereka interaksi karena satu faktor" sahut Rafael.


"Faktor? Faktor apa?" dengan kompak mereka bertanya.


"Faktor kalau ternyata orang-orang yang kamu temui itu bukan manusia, cuman kamu doang yang manusia di sana" argumen Rafael.


"Tapi terlihat kalau aku yang jadi hantu di sana, bukan mereka yang hantu, mereka normal-normal aja kayak manusia biasa, cuman aku yang aneh sendiri di sana" bantah Angkasa.


"Ya kalau bukan mereka yang hantu, masa iya kamu yang jadi hantu" tak masuk di akal sehat Reyhan.


"Bener itu, pasti di antara salah satunya ada yang jadi hantu, kalau gak mereka ya kamu hantunya" sebut Aryan.


Lirikan tajam Angkasa jatuh pada Aryan. Angkasa takut mati namun bocah itu malah menyebutnya sebagai hantu.


Mereka semua menahan tawa, jawaban Aryan bikin melongo.


"Aryan-aryan" geleng-geleng kepala Rafael atas aksi Aryan yang kocak abis.


Bryan dari diam mencoba mengungkap misteri dari mimpi buruk Angkasa.


"Bisa jadi, mereka gak bisa lihat aku, tapi aku bisa lihat mereka. Mungkin aja di mimpi itu aku jadi manusia di mana depan sedangkan mereka menjadi manusia di masa lalu" timpal Angkasa agak setuju akan firasat Bryan.


"Ribet amat, tinggal bilang aja kalau Angkasa masuk ke dalam kejadian yang terjadi di masa lalu" tutur Aryan tak mau ribet.


Reyhan menahan tawa, di tengah orang-orang lagi sibuk dan serius, Aryan malah membuat es di kutub Utara mencair.


"Aryan-aryan, kamu gak salah sih, tapi salah" sebut Rafael tak henti-hentinya tertawa.


"Kok bisa ya aku masuk dalam kejadian yang telah terjadi, emang benar sih kalau yang tadi aku alami itu terlihat kayak ada orang yang ngasih aku gambaran, cuman gak di perlihatkan aja kejadian apa saat aku berada di sana" ujar Angkasa.


Angkasa telah memecahkan misteri, meski terbilang aneh dan cukup mustahil. Berkat teman-temannya Angkasa dapat memecahkan problem yang ia hadapi.

__ADS_1


"Sekarang kamu gak perlu mikirin itu lagi, jawabannya udah ketemu, meski memang gak masuk akal, tapi seenggaknya kamu gak akan kepikiran lagi" ucap Reyhan.


"Iya, berkat kalian aku tau keanehan yang tadi terjadi sama aku" timpal Angkasa.


Lega hati Angkasa, pikirin buruknya sedikit menghilang, kabur entah kemana.


"Kok kumpul di sini, pada bahas apa?" Rev datang bersama Aldo dan Steven.


Melihat personil band Amanda berkumpul menjadi 1 merana pun penasaran, kalau kumpul-kumpul seperti ini pasti ada aja yang mereka bahas.


"Enggak bahas apa-apa kok, kita cuman ngumpul biasa doang" jawab Angkasa di sertai senyum sumringah.


"Kalian dari mana aja, kok baru ke sini?" Pertanyaan itu di ajukan Rafael, untuk mengalihkan perhatian mereka Rafael terpaksa melakukan itu.


Rafael sadar jika Angkasa berusaha untuk menutupi apa yang terjadi menimpanya dari mereka.


"Aku tadi habis rapat sama para OSIS" jawab Rev sibuk, makin berada di hutan Rev akan makin di sibukkan dengan ini dan itu.


Kepentingan serta ragam acara akan di laksanakan di hutan Pinus harus Rev urus, Rev kudu merincinya dan memastikan jika semuanya berjalan dengan lancar tanpa hambatan.


"Oh ya Rev malam ini gak ada acara apa gitu?" Penasaran Reyhan.


"Gak ada, untuk malam ini belum ready acaranya, mungkin acaranya di mulai besok" sahut Rev.


Kalimat 'O' meluncur keluar dari bibir Reyhan.


"Kok kalian cuman bertiga mana Clara?" Angkasa mendapati jika ada yang hilang.


"Paling Clara ada di tenda, tadi dia ngeluh capek mau istirahat katanya" jawab Rev.


Angkasa tak lagi melempar pertanyaan. Mereka semua lanjut mengobrol dan bercanda di tengah gelapnya malam, mata mereka belum terasa kantuk, mereka akan habiskan untuk bercanda.

__ADS_1


__ADS_2