
Rombongan SMA kebangsaan itu terhenti di dekat bukit kembar yang terletak di ujung hutan.
"Anak-anak kita istirahat dulu sejenak, kalau kalian mau liat-liat sekitar bukit silahkan, tapi jangan naik ke atas, liat aja dari bawah, mengerti" peringatan pak Sudirman.
"Mengerti pak" jawab mereka kompak.
Anak-anak mencar, mereka ada yang memilih memanfaatkan kesempatan ini untuk istirahat, ada banyak pula yang berkeliaran di dekat bukit.
Bukit yang hijau mereka jadikan sport foto, pemandangan di sekitar bukit begitu membuat mata terpesona akan indahnya alam yang perlu di lestarikan.
Angkasa mengambil duduk di dekat batu, kawan-kawannya sibuk foto-foto di dekat bukit.
Yang Angkasa lakukan adalah melihat foto-foto tangkapan hewan baik tumbuhan yang tadi ia ambil.
"Bagus-bagus ternyata, gak nyangka banyak juga hewan-hewan yang ada di hutan ini"
Mata Angkasa fokus ke kamera, puas menatap gambar ia pun membuka hp lalu masuk ke dalam aplikasi Instagram.
Komen-komen di postingan terbaru Angkasa penuh, mereka bertanya di mana hutan yang Angkasa singgahi, ada yang mencoba menebak dan ada pula tebakannya uang benar. Tapi Angkasa tidak mau klarifikasi, biarkan para penggemarnya heboh sendiri.
"Sa kenapa kamu pake upload foto bunglon segala, kan jadinya ada yang tau kalau kita ada di hutan" ucap Bryan pelan.
Bryan telah melihat postingan Angkasa dan itu malah membuat keberadaannya dan yang lain terancam.
"Lupa, sumpah lupa banget, baru sadar pas selesai upload, tapi kamu tenang aja, gak akan ada yang sadar sama keberadaan kita, aku berani jamin" sahut Angkasa.
Bryan pun tak bisa menyalahkan Angkasa, terkadang manusia itu bisa pelupa, Bryan memaklumi hal itu.
"Kalian kenapa malah duduk di sini, kenapa gak gabung sama yang lain, mereka lagi foto-foto tuh" ujar April melihat dua orang pemuda bernama Angkasa dan Bryan yang memilih berteduh di saat semua teman-temannya sibuk mengabadikan momen.
"Males" jawab mereka kompak.
April memutar mata."Kalian ini memang gak gaul"
Angkasa dan Bryan tak peduli mau katain apa, sifat tidak pedulian mereka sudah amat tinggi.
"Eh pril Angkasa upload foto terbaru, ternyata dia itu ada hutan juga" dengan heboh Shena mengabari berita terbaru tentang orang yang mereka idolakan.
"Yang bener aja, masa Angkasa ada di hutan, dia di hutan sendirian apa berang-berang teman-temannya" ikut penasaran April.
__ADS_1
"Gak tau sih, tapi kemungkinan besar bareng teman-temannya" sahut Shena.
"Sejauh ini Bryan, Aryan, Rafael serta Reyhan belum upload apa-apa, antara mereka pergi bersama atau tidak gak tau, Angkasa juga gak bilang itu hutan di daerah mana" ucap Laras.
Tatapan April jatuh pada Bryan dan Angkasa yang menyimak ucapan mereka.
"Kok aku curiga ya sama mereka, dari namanya mereka berlima itu sama kayak nama personil band Amanda, apa jangan-jangan itu beneran mereka" ujar April.
Bryan dan Angkasa panas dingin, mereka pura-pura tak mendengar dan fokus sendiri sambil menahan diri dari paniknya tuduhan April.
"Liat Bryan bagus kan" tunjuk Angkasa ke atas.
"Iya bagus" sahut Bryan padahal tak ada apapun di atas pohon.
Shena menajamkan pengelihatan, memperhatikan dua yang lagi panik dengan seksama.
"Gak mungkin, bedalah, namanya aja yang sama, gak mungkin mereka sama" timpal Shena.
"Iya sih, nama bisa aja sama" sahut April.
Mendengar itu mereka pun bernafas lega, tiga trio ondel-ondel itu pergi meninggalkan mereka, mereka asik foto-foto dan melupakan kejadian yang hampir mengungkap identitas personil band Amanda.
"Bodoh banget ya kenapa pas kita masuk sekolah gak pake nama palsu biar gak ada yang tau" Angkasa meratapi kebodohannya.
"Udah terlanjur, waktu gak bisa di putar kembali kita hanya perlu waspada aja, jangan sampai ada yang tau sampai kita lulus" sahut Bryan.
Anggukan Angkasa berikan akan ia jadikan kejadian hari ini sebagai pelajaran untuk bisa lebih profesional dan waspada lagi. Karena bisa saja sewaktu-waktu ada yang orang yang menaruh kecurigaan pada mereka.
"Bryan, di panggil Rafael tuh" tutur Aryan mendekati mereka.
"Ngapain?"
"Mana aku tau, sana tanya sendiri" jawab Aryan.
Bryan bergegas menemui Rafael, Aryan duduk di tempat Bryan sambil menegak air sebab tenggorokannya terasa kering.
"Cantik banget" puji Angkasa.
"Apanya yang cantik?" Keheranan Aryan.
__ADS_1
"Liat ada ikat rambut orang yang jatuh, cantik kan" tunjuk Angkasa pada sebuah benda melingkar berwarna pink muda.
"Iya cantik, tapi punya siapa kok tergelak di sini?" Penasaran Bryan.
"Mungkin punya pengunjung yang pernah ke sini sebelum kita, dia gak ngerasa kalau ikat rambutnya jatuh" jawab Angkasa.
Aryan terdiam sejenak."Kalau milik pengunjung kok gak kotor, tadi aku sempat dengar perbincangan penjaga hutan ini sama pak Sudirman yang menyebutkan sebelum kita datang gak ada pengunjung yang piknik di sini dalam kurun waktu 1 bulan yang lalu, artinya hutan gak di pijaki manusia selama 30 hari"
"Kalau ikat rambut itu milik pengunjung yang pernah ke sini beberapa bulan yang lalu mengapa gak kotor, secara ini kan hutan, gak ada atapnya bisa aja kena debu atau hujan gitu" imbuh Aryan.
Ketidakwajaran Aryan rasakan, ikat rambut yang berada di dekat kaki Angkasa dengan jarak 5 senti tak kotor, menurut data sebelum kedatangan SMA kebangsaan tak ada yang mengunjungi hutan Pinus selama 30 hari lamanya.
"Iya ya, kok bisa gak kotor" Angkasa merasakan keanehan yang sama.
Ikat rambut itu melingkar cantik dengan warna pinknya yang menambah ciri ke female.
Tangan Angkasa mencoba mengambil ikat rambut yang bersih walau lama berada di sana.
Steven yang tak sengaja melintas tercekat, ia langsung berteriak."Jangan di pegang!"
Angkasa yang di teriaki pun terkejut, Aryan yang berada di dekat Angkasa tak kalah terkejutnya.
"Bangun kalian, pergi dari sana!" Panik Steven.
Mereka diam mematung, tak paham maksud Steven.
"Salah kita di mana?" Keheranan Aryan melihat wajah panik Steven.
Steven yang greget langsung menarik paksa mereka, tak segan-segan Steven mendorong mereka demi menjauhkan mereka dari benda yang mereka sebut ikat rambut yang melingkar di tanah.
"Apa-apaan kamu stev, aneh banget" Aryan tak habis pikir mengapa Steven sepanik itu sambil mendorongnya agar menjauh dari ikat rambut itu.
"Kamu yang apa-apaan, kenapa malah mau megang ular!" naik pitam Steven kelewat khawatir.
Mereka saling menatap, lalu melempar pertanyaan."ULAR? mana ada ular"
"Liat apa yang mau kalian pegang" tunjuk Steven pada ikut rambut berwarna pink melingkar cantik di tanah.
Benda yang mereka sebut ikat rambut mengeluarkan kepala, ikat rambut bergerak, kepalanya berdiri tegak, lidahnya menjulur ke arah mereka.
__ADS_1