
Mereka semua mengikuti dokter yang membawa Gina ke ruangan ICU, mereka menunggu dengan cemas di sana dan yang mereka lakukan hanyalah menatap Gina yang kini berada di ruangan ICU dari kaca.
"Semoga Gina cepat sembuh, semoga dia bisa melewati masa kritisnya" harapan Rafael dengan pandangan yang tak henti-hentinya menatap Gina.
"Amiiiin" sahut mereka semua berdoa untuk kesembuhan Gina.
Pikiran mereka masih kacau, mereka tak ada yang mengeluarkan suara dan hanya terus menatapi Gina yang terbaring lemah di brankar.
"Siapa ya kira-kira yang udah tega bikin Gina dan orang-orang berikutnya tewas dengan cara yang benar-benar sadis" tampak geram Steven dengan sosok penjahat misterius yang tak kunjung berhasil untuk mereka tangkap.
"Entahlah, siapa dia, yang jelas dia benar-benar tega" sahut Rafael.
"Aku gak habis pikir banget sama dia, kenapa dia tega banget, di mana hati nuraninya, apa dia udah gak memiliki hati nurani sehingga tega sekali membunuh orang-orang selama ini" tak habis pikir Aldo mulai geram akan sosok penjahat misterius.
"Ku rasa dia udah bukan manusia lagi deh, dia berhati iblis sehingga tak memiliki hati nurani sama sekali" sahut Bryan.
"Kalau sampai nanti aku ketemu sama dia, akan aku acak-acak mukanya, enak aja dia main bunuh orang sembarangan, aku gak terima Jia meninggal gara-gara dia, sampai kapanpun aku gak terima" kecam Clara penuh dendam pada sosok penjahat misterius.
"Aku yakin suatu saat nanti dia pasti akan di tangkap, jeritan hati orang-orang yang kehilangan buah hati mereka karenanya pasti terkabul juga, tidak mungkin semesta membiarkan orang jahat seperti dia hidup tenang, semesta pasti akan menghukumnya, karma itu berlaku, aku yakin itu" ujar Angkasa dengan terus menatapi Gina yang terbaring dengan mata tertutup rapat.
"Di mana Gina?" tanya Rev baru kembali dari bagian administrasi.
"Itu, Gina ada di dalam, dia lagi di tangani sama dokter" jawab Rafael menunjuk Gina yang lagi bertarung dengan kematian.
Rev menatap Gina dengan wajah sedih."Andai tadi kita gak tinggalin dia, dia gak mungkin terluka sampai separah ini"
Rasa bersalah menyerang diri Rev dan itu kini sudah menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Rev, semuanya udah terjadi dan yang bisa kita lakukan hanya menyesali, kita harus belajar dari apa yang terjadi hari ini bahwa kita harus lebih hati-hati lagi, musuh bergerak dengan halus, di antara kita masih belum ada yang tau siapa musuh itu, kita jangan menganggap segalanya itu dengan enteng, biar kita tidak menyesal seperti saat ini" timpal Angkasa dengan pandangan yang masih menatap Gina.
Rev menghembusakan nafas berat."Kita doakan semoga Gina baik-baik aja, semoga dia bisa selamat, semoga dokter masih bisa menyelamatkan nyawa Gina"
"Kita pasti akan lakuin itu kok" jawab Steven.
"Oh ya gimana dengan keluarga Gina, kita masih belum ngasih tau keluarganya kalau Gina masuk rumah sakit" Bryan teringat dengan keluarga Gina yang mereka lupakan.
"Ya ampun kenapa kita malah gak kepikiran ke sana, kita seharusnya ngasih tau kedua orang tua Gina, dia harus tau kalau Gina masuk rumah sakit" Rev meratapi kebodohannya.
__ADS_1
"Di antara kalian gak ada yang punya nomor telepon papa atau mamanya Gina gak?" tanya Angkasa.
"Gak ada" jawab mereka dengan menggelengkan kepala.
"Terus gimana ini dong, kalau kalian gak ada yang punya apalagi aku" ujar Angkasa.
"Kita cari aja nomornya dari hp Gina, pasti Gina nyimpan nomor keluarganya" timpal Clara memperlihatkan hp Gina yang tadi jatuh di mobil Rev lalu ia simpan agar tidak hilang.
"Coba cepat cari dan minta keluarganya datang kemari secepatnya" suruh Rev.
Clara mencari nomor telpon salah satu family Gina, kebetulan hp Gina tidak di beri sandi sehingga mudah untuk mengotak-atiknya.
Clara menemukan nomor ibu Gina, ia langsung bergegas menghubunginya.
tutt
tutt
tutt
tutt
tutt
tutt
"Gak di angkat" ujar Clara.
"Coba hubungi lagi, mungkin habis ini akan di angkat sama mamanya Gina" suruh Rev kembali.
Clara kembali menghubungi orang tua Gina, namun hasil nihil.
"Tetap gak di angkat juga, kayaknya orang tua Gina sibuk deh" tutur Clara dengan wajah sedihnya.
"Gimana ini, keluarganya harus tau keadaan Gina, kita gak bisa sembunyiin masalah ini dari keluarga Gina" ikutan gelisah Steven.
"Mungkin aja mamanya Gina lagi kerja, nanti kita hubungi lagi aja, kalau perlu nanti aku akan tanya sama teman-teman sekelasnya biar aku datangin aja ke rumahnya" ujar Rev.
__ADS_1
Mereka pun mengangguk dan kembali melihat Gina yang berada di dalam ruangan ICU.
Krieet
Pintu ruangan ICU terbuka dengan lebar, mereka menghampiri dokter yang baru keluar dari ruangan ICU.
"Gimana keadaan Gina dok, apa dia udah lebih baikan?" tanya Aldo.
"Kondisi pasien koma" jawab dokter.
Sontak mereka semua pun terbungkam, Gina yang tadi mereka ajak bicara kini di nyatakan koma pasca di tusuk dengan pisau tajam oleh penjahat misterius.
"KOMA DOK?" terkejut Rev.
"Benar, pasien koma, kami akan terus memantau perkembangan pasien, kami akan berusaha untuk memberikan perawatan terbaik untuk pasien" jawab dokter.
Guncangan dahsyat masih terasa di diri mereka semua yang lagi berdiam di depan ruangan ICU.
"Sekiranya kapan pasien bisa sadar lagi dok?" tanya Clara.
"Saya juga tidak bisa memastikan secara pasti, kita doakan saja semoga pasien kembali sadar seperti semula" jawab dokter kemudian meninggalkan mereka di sana.
Mereka semua menatap kembali ke arah Gina yang terbaring tak sadarkan diri itu.
"Semoga Gina bisa sadar lagi, semoga dia gak lama komanya" harapan Bryan.
"Aamiin" jawab mereka.
"Gimana ini, Gina koma keluarganya gak ada yang tau, dia harus tau kalau Gina di rawat di rumah sakit" ujar Steven mulai bimbang karena pihak keluarga terkait tidak ada di lokasi.
"Kalian tunggu sini dulu, aku akan datangin ke rumah Gina langsung, aku akan cari tau alamatnya dari teman-teman sekelasnya, biar orang tuanya langsung ke sini" titah Rev yang akan bertindak, ia tak bisa diam lagi.
"Kamu jangan lama-lama Rev, kamu langsung balik ke sini" suruh Clara.
"Iya aku gak lama, kalian tunggu aja di sini, aku akan datangin rumah Gina dulu" mereka semua mengangguk kompak, mereka pun diam menunggu kedatangan keluarga Gina.
Rev meninggalkan mereka semua yang lagi berada di rumah sakit untuk sementara.
__ADS_1