Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Berdebat dengan dewan guru


__ADS_3

"Kenapa kalian sepertinya sudah tau jelas kronologi masalah ini" Bu Suzan merasa curiga pada mereka.


Tatapan maut Bu Suzan terus terarah kepada mereka semua.


"Iya, kenapa kalian semua seakan tau bahwa Cantika di teror, siapa yang sudah memberitahukan kalian" timpal kepala sekolah yang juga curiga pada mereka semua.


"Cantika sendiri yang bilang sama kami, dia menjelaskan segalanya sesaat sebelum dia meninggal dunia" jawab Angkasa dengan tegas dan tidak gugup agar mereka tidak di jadikan tersangka dalam kasus ini.


"Jawaban kalian tidak dapat kami terima, kami yakin bahwa kalian semua terlibat dalam kasus ini, tidak mungkin seorang Cantika mengatakan segalanya pada kalian, dia merupakan salah satu murid yang sangat tertutup, dia gak akan mungkin cerita apa yang sudah terjadi pada kalian" ujar Bu Suzan membantah segala penjelasan mereka dan menganggap hal itu salah.


Mereka semua panik saat salah satu guru tidak mempercayai apa yang sedari tadi mereka jelaskan.


"Bu pak, kami mengatakan yang sebenarnya, saya ini adalah teman sekaligus tetangga Cantika, sedari kecil kami selalu bersama, sesaat sebelum Cantika menjatuhkan tubuhnya dari balkon, dia cerita segala apa yang sudah dia pendam, dia terlihat ketakutan, dia sangat takut dalang itu membunuh ibunya, saya sebagai teman hanya bisa berusaha untuk meyakinkan Cantika bahwa ibunya akan baik-baik saja, kami sungguh gak pernah berpikir bahwa Cantika akan menjatuhkan tubuhnya dari lantai 3 tepat di hadapan kami, apa yang Cantika lakukan di luar dugaan kami, jadi stop beranggapan bahwa kami yang terlibat dalam kasus ini!" pertegas Aldo tak main-main.


Aldo heran saat salah satu guru malah memutar balikkan fakta.


Seluruh guru pun tiba-tiba terbungkam, mereka tidak tau bahwa di antara mereka ada teman baik Cantika selain geng monster itu.


"Gimana sekarang keadaan Cantika" kepala sekolah mengalihkan pembicara agar situasi tidak terlalu tegang.

__ADS_1


"Cantika sudah menghembuskan nafas terakhirnya saat di larikan ke rumah sakit, nyawanya sudah gak tertolong, dia tewas" jawab Steven.


Mereka semua terkejut, namun mereka tidak bisa berkata-kata apapun lagi.


"Baik kalau seperti itu kalian bisa pergi, tapi ingat jangan beri tau siapapun bahwa ada tragedi seperti ini di sini" perintah kepala sekolah.


"Kenapa pak, kenapa kita gak boleh kasih tau semua orang kalau ada banyak kematian misterius di sekolahan ini?" Aldo yang sudah greget lantaran sekolahan tidak mau tau tentang apa yang sudah terjadi pada murid-murid selama ini mengeluarkan unek-uneknya.


Mereka semua terkejut dengan Aldo yang berani menentang kepala sekolah.


"Kalau mereka tau wewenang sekolahan ini akan di cabut, saya tidak mau wewenang sekolahan ini di cabut gara-gara insiden ini" jawab kepala sekolah.


"Lantas bagaimana nasib anak-anak yang sudah tewas di sini, kenapa seakan-akan pihak sekolahan sangat-sangat tidak mau untuk membawa kasus ini ke jalur hukum!" bantah Aldo heran dengan tanggapan pihak sekolahan selama ini yang malah diam saja.


"Nyawa mereka memang tidak akan kembali, tapi seenggaknya pihak sekolahan mau bertanggung jawab atas siswa baik siswi yang meninggal di sekolahan ini" Steven yang geram menimpali ucapan kepala sekolah yang terus mencari aman.


"Percuma kita membawa kasus ini ke jalur hukum karena hal itu tidak akan bisa mengembalikan mereka, kalian jangan sibuk mikirin mereka yang udah mati, mungkin udah saatnya mereka mati" sahut kepala sekolah.


"Kematian memang gak ada yang tau, satu pun orang gak ada yang tau, tapi setidaknya pihak sekolah mau menangkap orang yang sudah membunuh murid-muridnya, mereka semua itu masih berada di naungan sekolahan ini, tapi mengapa seakan-akan kalian tidak mau tau apa yang sudah terjadi sama mereka" ujar Clara ikutan geram dengan tanggapan kepala sekolah.

__ADS_1


"Kami bukannya tidak mau tau, kami hanya tidak mau wewenang sekolahan ini di cabut" jawab Bu Suzan yang membantu kepala sekolah untuk membantah mereka semua.


"Apakah hanya karena takut wewenang sekolahan ini di cabut kalian malah membiarkan kasus kematian ini begitu saja?" tak percaya Clara.


"Paaaak, anak bapak yang bernama Dyera Erly juga tewas dalam kasus ini, gimana perasaan bapak sebagai orang tua kala tau bahwa anak bapak satu-satunya tewas oleh orang jahat, apa bapak gak marah, apa bapak tidak mau orang yang sudah bunuh anak bapak di hukum?" Clara tak menyangka bahwa pihak sekolahan segitunya hanya karena tidak mau membawa kasus ini ke jalur hukum.


"Sebagai seorang ayah anda pasti tau bagaimana rasanya kehilangan anak anda satu-satunya di dunia, dan itu yang di rasakan oleh orang tua yang berada di luaran sana saat mengetahui anak tercinta mereka tewas dengan cara yang sadis, anda sebagai orang tua seharusnya mengetahui mengetahui perasaan mereka, tapi nyatanya anda tidak bisa mengerti artinya kehilangan anak yang sudah di besarkan penuh kasih sayang selama ini" tambah Bryan membantu teman-temannya untuk menang walaupun lawannya adalah guru.


"Apa anda memang sudah tidak memiliki hati nurani sehingga anda tega membiarkan para orang tua menjerit keras saat anaknya meninggal?" Rafael menatap mereka dengan tak percaya.


"Seharusnya anda bawa kasus ini ke jalur hukum biar masalah ini cepat selesai dan penjahat itu tidak semakin membahayakan orang lain" tambah Aryan.


"Orang tua macam apa kalian ini yang tidak peduli sama sekali dengan nasib para siswa dan siswi yang berada di naungan sekolahan ini" timpal Aldo dengan geram menatapnya dengan sorot mata tajamnya.


"Cukup!"


"Sudah cukup, kalian jangan bicara lagi!" perintah kepala sekolah yang muak mendengar ocehan mereka yang terus menerus menyudutkannya.


"Pak kami hanya ingin keadilan, kami hanya mau orang yang sudah bunuh mereka di tangkap, hanya itu yang kami inginkan namun mengapa pihak sekolah tidak mau menuruti kami!" Steven tidak akan diam, walaupun kepala sekolah meminta mereka untuk diam.

__ADS_1


"Kalian tidak usah mencari keadilan di sini, kalian tidak perlu melakukan apapun, biarkan saja masalah ini, nanti juga akan selesai sendiri" jawab kepala sekolah dengan enteng.


"Selesai sendiri? sampai mati pun kasus ini tidak akan selesai, makin di biarkan makin banyak orang yang akan meninggal, apa bapak mau satu persatu murid-murid yang sekolah di sini mati!" dengan sorot mata tajam Clara menatap para dewan guru.


__ADS_2