Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Doooooorrrr


__ADS_3

Mobil hitam yang mengikuti mereka semakin melaju dengan kencang, kini mobil Angkasa dengan mobil hitam itu sejajar.


Kepanikan terpancar jelas di wajah para personil band Amanda saat mobil hitam itu terus memepet mobil Angkasa sehingga terjadinya pergerakan di dalam mobil.


"Angkasa cepet panggil polisi, dia berbahaya, kita tidak bisa lawan dia sendiri" perintah Rafael.


Angkasa yang panik merongoh saku celananya dengan tangan yang bergetar, untuk menghubungi polisi entah kenapa membuat tangannya tremor, ia sulit mengendalikan dirinya saat ini.


Mobil hitam itu menyerempet mobil Angkasa sehingga membuat mereka semua menjerit, hp yang ada di tangan Angkasa terjatuh ke bawah.


"Gimana ini den, dia makin keterlaluan, dia gak mau berhenti" panik mang Asep karena mobil hitam itu yang tidak bisa ajak kompromi.


Angkasa tidak mengeluarkan sepatah katapun, apa yang ia takutkan kini terjadi juga.


"Minggir mang, biar aku yang ambil alih" suruh Bryan yang maju ke depan untuk menggantikan mang Asep.


"Aden bisa nyetir?" mang Asep rasanya takut memberikan mobil ini pada Bryan di tengah bahaya yang datang.


"Bisa mang, mamang minggir dulu, biar aku yang ambil alih" mang Asep terpaksa minggir.


Kali ini Bryan yang mengemudikan mobil, ia mengambil alih kekuasaan untuk menyelamatkan dirinya dan juga kawan-kawannya.


Dengan sangat fokus dan tak gentar sama sekali sama tindakan mobil hitam itu Bryan melajukan mobil, ia tidak akan membiarkan mobil hitam itu membuatnya celaka.


Sementara Angkasa, Aryan, Rafael dan Reyhan panas dingin dengan laju mobil yang ugal-ugalan, itu Bryan lakukan agar mobil hitam itu tidak bisa mendekati mobil.


Bryan melirik ke samping kanannya yang terdapat mobil hitam itu.


"Kau ingin bermain-main dengan ku rupanya, kau belum tau aku siapa sebenarnya bukan, aku akan perlihatkan siapa diri ku pada mu, aku tidak akan biarkan kau menyakiti ku dan juga teman-teman ku" batin Bryan menatap sinis ke arah mobil hitam yang kini sejajar dengan mobilnya.


Dengan menancap gas Bryan melajukan mobil, ia tidak melepas gas sama sekali.


Mobil hitam itu kewalahan menghadapi permainan Bryan, ia kesulitan mengejar mobil yang Bryan kemudikan.

__ADS_1


"Rasakan itu, suruh siapa kau mau bermain-main dengan ku, kau tidak akan bisa memperdaya kami" batin Bryan tersenyum penuh ejekan di dalamnya.


Rafael menoleh ke belakang, betapa kagetnya ia kala melihat sesuatu yang berhasil membuat mulutnya ternganga.


"Bryan penjahat itu mengeluarkan senjata api" tutur Rafael dengan panik.


Mereka semua yang mendengar hal itu tercekat.


"Gimana ini, dia ingin mencelakai kita, tamatlah riwayat kita, kita akan mati" ketakutan Aryan kala melihat senjata api yang akan siap menebak mobil ini.


"Telpon polisi, jangan kita hadapi sendiri, dia terlalu berbahaya, dia bukan musuh sembarang, cepat hubungi polisi" titah Reyhan dengan mengigit bibir bawahnya.


Baru kali ini Reyhan merasakan ketakutan yang tiada tanding, walaupun hatersnya banyak, tapi tidak seberbahaya ini, ini terlalu berbahaya baginya.


Angkasa yang ikutan panik mencari ponselnya di bawah, seingatnya ponselnya jatuh, untuk menghubungi polisi ia mengalami kendala.


"Di mana hp itu, tadi dia jatuh di sini" batin Angkasa mencari hpnya dengan keringat-keringat dingin yang bercucuran.


Doooooorrrr!


Sebelum peluru itu di layangkan Bryan berbelok ke sebelah kiri yang terdapat jalanan yang tidak terlalu besar sehingga peluru itu tidak mengenai mobil maupun teman-temannya.


Semua orang yang berada di dalam mobil masih shock, pelakunya benar-benar berbahaya, dia bukan hanya sekedar mengancam namun dia benar-benar tidak main-main dengan ucapannya.


"Dia tidak mengejar kita lagi, kalian bisa tenang sekarang" tutur Bryan dengan melajukan mobil dengan kecepatan normal.


Mereka masih tercekat, suara peluru itu berhasil menghentikan dunia mereka untuk sesaat.


"Benar-benar gila, dia sungguh gila woy, apa yang dia lakukan barusan, dia mau nembak kita, untung aja usahanya gak berhasil" tercekat Rafael jika teringat dengan kejadian yang hampir saja menewaskannya.


Jika Bryan tidak bergerak dengan cepat, sudah pasti semua orang yang berada di dalam mobil itu tewas di tangan penjahat yang sama.


"Sumpah dia benar-benar gila, aku tak habis pikir segitunya dia yang ingin menghentikan usaha kita" ujar Reyhan yang masih tidak menyangka dengan kejadian barusan yang telah terlewati.

__ADS_1


"U-untung aja Bryan cepat bertindak, kalau enggak kita pasti sudah mati" tutur Aryan yang tak bisa membayangkan bagaimana jika peluru itu mengenai dirinya.


"Aku gak akan biarkan kalian kenapa-napa, aku tidak akan biarkan dia menghabisi kita, selagi masih ada aku, kalian tidak perlu khawatir" jawab Bryan yang tetap santai meskipun barusan ia dan kawan-kawannya melewati moments yang benar-benar menakutkan.


Angkasa begitu lega, hampir saja ia mati dalam penyelidikan ini."Dia benar-benar berbahaya, pantesan aja banyak orang yang udah tewas di buatnya"


"Dia memang berbahaya, dia memang sudah ahli dalam masalah ini, kita kudu hati-hati aja, musuh kita bukan orang sembarang, dia bisa aja bunuh kita kapanpun, kita jangan sampai lengah!" peringatan keras Bryan.


"Dia gak ngejar kita lagi kan?" gelisah Reyhan, meskipun peluru itu tidak mengenainya ia masih gelisah.


Aryan melihat ke belakang."Enggak, dia udah gak ngejar kita, dia udah pergi, kita aman sekarang"


Hati merasa lega sekali saat musuh yang bisa mengancam nyawa mereka sudah pergi.


"Huft untungnya hari ini kita masih di beri keselamatan sama Allah, aku gak bisa bayangin gimana hidup kita kalau tadi peluru itu mengenai kita" lega hati Rafael saat penjahat itu sudah tidak mengejar mereka lagi.


"Tenanglah, aku tidak akan biarkan dia melakukan hal yang tidak-tidak pada kita" timpal Bryan dengan mata yang masih lurus ke depan.


Mereka lega, rasa cemas di hati mereka perlahan mulai menghilang, namun rasa deg-degan masih saja terasa.


"Ini kita di mana, tempat apa ini, kok kita malah masuk ke dalam gang" Rafael tidak mengenali tempat yang padat ini.


Tempat yang mereka lewati ini begitu padat, kanan dan kiri adalah rumah-rumah warga, jalanannya tidak terlalu besar, hanya cukup 1 mobil saja.


"Saat ini kita ada di gang, akhir gang ini kita akan bertemu dengan jalanan raya yang besar, tak lama dari itu kita akan sampai ke sekolahan, kalian tenang aja kok, kita pasti akan sampai juga ke sekolahan" jelas Bryan.


"Kok kamu kayak udah hafal tempat ini?" curiga Aryan, ia dan yang lain saja tidak tau seluk beluk tentang tempat ini namun mengapa Bryan seperti sudah tau segalanya.


"Kalian lupa ya, aku ini dulu di besarkan di sini, mama aku asli orang sini, tapi habis tuh aku pindah ke Jakarta dan menetap di sana, mangkanya aku bisa tau tempat ini karena dulunya aku pernah tinggal di gang ini" jelas Bryan.


"Owh pentesan aja kamu hafal tempat ini" ujar Reyhan.


"Cepat bawa kami ke sekolahan, kami ingin segera sampai di sana" suruh Angkasa yang sudah tak sabar berjumpa dengan yang lain.

__ADS_1


"Siap" sahut Bryan.


Bryan melajukan mobil menuju sekolahan yang sudah tak seberapa jauh dari sana, ia begitu mahir mengendarai mobil sehingga mereka tidak akan khawatir lagi.


__ADS_2