
Dengan panik dan tergesa-gesa Cantika membereskan semua benda-benda aneh dan menakutkan dari sana, ia menyimpan benda-benda itu ke dalam almarinya yang paling bawah, ia tidak mau mamanya tau hal itu karena bisa-bisa mamanya akan tau bahwa terjadi sesuatu yang telah menimpanya.
tok
tok
tok
Tubuh Cantika menegang saat mendengar suara ketukan pintu, ia langsung gelisah tak karuan.
"Mama, apa itu mama, kenapa cepet banget, mama bilang 1 jam lagi mama akan sampai di sini, tapi ini baru 5 menit"
Cantika terkejut, barusan mamanya menghubungi, mana mungkin secepat itu ibunya sampai di rumah.
"Bodoh ah, yang penting mama ku pulang"
Cantika yang girang bahwa ibunya akan pulang langsung berlari untuk membukakan pintu. Di tinggal sebentar oleh sang ibu telah menciptakan rindu yang tiada tanding di hati Cantika.
"Mama"
Seketika senyuman yang menghiasi wajah Cantika sirna.
"K-kok kosong, lantas siapa yang tadi ngetuk pintu?"
Kala pintu terbuka tak ada siapapun di luar. Lagi-lagi kesan mistis di rasakan Cantika.
Sejak tadi malam ia selalu di teror dengan ketukan pintu terus menerus, ia mengira bahwa teror itu akan berhenti, namun teror itu masih terjadi meski matahari telah terbit.
"Aku kira yang ngetuk pintu barusan mama" raut wajah Cantika langsung berubah menjadi sedih, terlihat bahwa dirinya merindukan sang ibu.
"Eh apa ini" Cantika tertegun melihat sebuah kotak yang tergeletak di depan kakinya.
Cantika mengambil kotak itu."Kotak apa ini, siapa yang narok kotak ini di sini?"
Cantika menatap kotak itu dengan seksama, ia amat penasaran dengan isi di dalam kotak tersebut.
"Coba deh aku buka"
Cantika yang penasaran membuka kotak itu, ia tak mau di serang ribuan penasaran lagi.
Bungkus kotak itu begitu elegan dan rapih, Cantika penasaran apakah isinya akan sesuai dengan bungkusnya atau tidak.
"Surat? surat apa lagi ini"
Perasaan Cantika kembali tidak tenang saat ada orang misterius yang kembali
mengirimnya kotak dan di dalamnya ada surat yang terbilang misterius.
Cantika membuka dan mulai membacanya, ia ingin memastikan surat apa yang di kirim ke rumahnya.
"Jika dalam 24 jam kau tidak mati, maka kau akan melihat ibu mu yang mati"
Cantika langsung menutup mulut tak percaya, tangisnya langsung pecah, ia kira kotak itu adalah surprise dari seseorang yang ia sayang namun rupanya kotak itu adalah kotak yang di kirim oleh orang yang paling ia benci saat ini meskipun ia tidak tau siapa orang tersebut.
"Enggak, aku gak mau mama meninggal" tangis Cantika dengan menutup mulutnya, ia tidak ingin kalau ada orang yang mendengar tangisannya.
Cantika yang kembali down membawa kotak itu masuk ke dalam rumah, ia semakin kacau, baru saja ia gembira kalau ibunya akan pulang, namun ia kini kembali di buat tidak tenang oleh teror-teror yang semakin menakutkan.
"Dia keterlaluan, kenapa dia ngancam akan mengakhiri hidup ibu ku, apa maksudnya melakukan ini semua, kenapa dia mencari gara-gara pada ku, aku tidak punya salah apapun padanya, namun mengapa dia sejahat ini pada ku"
Cantika menangis memikirkan kesalahan apa yang sudah ia perbuat sehingga ada orang jahat yang datang menerornya dan berkata ingin menghabisinya.
Air mata terus berjatuhan di wajah Cantika, seketika ia cemas memikirkan keadaan ibunya yang on the way kemari.
__ADS_1
Cantika masih heran apa motif penjahat itu mengirimnya teror-teror yang menakutkan.
"Apa tujuannya melakukan ini dan apa yang buat dia benci sekali pada keluarga ku?"
Cantika mencari informasi tentang alasan penjahat itu akan membunuhnya di dalam kotak itu, ia begitu gelisah, ia sungguh khawatir terjadi apa-apa pada ibunya di jalan.
Cantika tidak mau kesalahan yang telah ia perbuat berimbas buruk pada keluarganya yang ia sayangi.
"Gak ada apapun di sini, dia tidak ngirim apa-apa lagi, tapi kenapa dia ingin bunuh aku?"
"Apa salah ku, tidak mungkin dia membunuh ku tanpa adanya sebuah alasan!"
Tiba-tiba sesuatu jatuh ke bawah, manik mata Cantika langsung terarah menatapnya.
"Apa ini?"
Cantika menunduk dan mengambil sebuah kertas yang tak sengaja jatuh tepat di depannya.
Cantika membaca tulisan yang ada di kertas itu, ia ternganga, ia menutup mulut tak percaya. Air mata berjatuhan kala membaca bait-bait kata yang terdapat di secarik kertas tersebut.
Mendadak Cantika langsung menjadi pendiam, tak memberontak seperti tadi, ia sudah mengetahui alasan mengapa penjahatnya ingin membunuhnya.
Namun anehnya Cantika malah diam, ia tidak melakukan apapun, ia hanya memikirkan nasib ibunya, tidak peduli akan ada bahaya apa yang terjadi padanya.
Cantika tak mau kalau ibunya yang meregang nyawa, Cantika tidak akan bisa membayangkan hal itu terjadi.
Cantika diem seribu bahasa, pandangannya lurus ke depan terlihat linglung.
Kejadian di masa lalu yang sudah ia lewati kini berdampak buruk dengan hidupnya di masa sekarang, ia tidak menyangka bahwa masalah itu akan sepanjang dan berakhir sadis seperti ini.
Di saat Cantika diam seribu bahasa tiba-tiba.
tok
tok
tok
Cantika langsung tersentak, ia dengan cepat menyeka air mata yang jatuh, lamunannya langsung buyar kala mendengar suara orang yang ia kenali memanggilnya.
"Cantika buka pintunya nak" titah Sari ibu Cantika sekali lagi.
"Iya sebentar ma"
Cantika tidak langsung berlari ke arah pintu, ia malah sibuk sendiri.
"Aku harus simpan kotak ini di mana, aku gak mau mama tau kalau ada bahaya yang mengancam nyawa ku, aku tidak mau dia yang berkorban"
"Sudah cukup mama terus berkorban sejak dulu, aku tidak mau kali ini dia berkorban lagi"
Cantika panik, ia tidak tau harus meletakkan benda itu di mana.
Cantika menatap sekelilingnya, mencari tempat yang tepat untuk meletakkan kotak itu yang sekiranya tak akan ketahuan oleh ibunya.
Senyum Cantika merekah."Nah di sana"
Cantika berjalan mendekati sebuah tempat yang sesuai untuk meletakkan benda tersebut, ia yakin jika benda itu di letakkan di sana tak akan ada orang yang curiga apalagi tau.
Setelah meletakkan kotak itu Cantika berlari mendekati pintu, sebelum ia membuka pintu ia mengambil nafas, ia akan berpura-pura seperti tidak ada yang terjadi padanya.
Ibu Cantika (Sari) tak boleh tau kalau ada masalah yang menimpa Cantika, maka dari itu Cantika harus berakting sebagus mungkin.
Seulas senyum terukir di wajah Cantika saat melihat sosok ibu yang amat ia rindukan.
__ADS_1
"Mama" Cantika langsung memeluk erat tubuh ibunya, berusaha untuk tidak menangis, namun pertahanannya runtuh.
Cantika tak bisa sekuat itu, alhasil air mata langsung tumpah, ia menumpahkan segala kesedihan, keresahan dan kebimbangannya pada ibunya.
"Cantika kamu kenapa nak, kenapa kamu nangis" Sari langsung khawatir saat pulang-pulang ia mendapati anak gadisnya yang tiba-tiba menangis.
Cantika tidak menjawab, ia hanya memeluk erat tubuh ibunya, ia tak ingin melepaskannya walaupun hanya sesaat.
"Sayang kamu kenapa nak, apa yang sudah terjadi, bilang sama mama, mama akan selesain masalah kamu"
Sari semakin khawatir, perasaannya mengatakan bahwa ada sesuatu yang telah terjadi menimpa putrinya, tak pernah Cantika.
"Cantika jawaban mama nak, bilang sama mama, jangan kamu pendam sendiri, cerita sama mama apa yang sudah terjadi sama kamu" titah Sari dengan menangkup pipi Cantika.
Bulir-bulir bening terus berjatuhan di wajah Cantika, ia tidak kuasa bilang tentang apa yang terjadi.
"Cantika, kenapa kamu diam aja, bilang sama mama nak, kamu jangan takut, mama gak akan marah"
Sari berusaha untuk membuat Cantika berterus terang apa yang sudah terjadi sehingga dirinya menangis histeris seperti ini.
"E-enggak kok ma, gak ada apapun, aku cuma kangen sama mama, aku pengen mama selalu ada di samping aku" jawab Cantika dengan air mata yang sesekali berjatuhan.
Sari langsung memeluk erat tubuh putrinya, sebenarnya ia ingin selalu menjaga anaknya namun ia sudah tidak punya suami, mau tidak mau ia harus menjadi tulang punggung untuk menghidupi keluarganya.
"Maafin mama nak, maaf mama gak bisa selalu ada buat kamu"
Sari merasa bersalah pada anaknya, ia selalu meninggalkan Cantika selama ini dan ia mengakui itu salah.
"Enggak ma, mama gak punya salah sama aku, mama gak salah, mama gak usah minta maaf" larang Cantika yang tidak mau mendengar mamanya bersedih.
Sari memeluk erat Cantika yang begitu ia rindukan, Cantika tak ingin melepaskan pelukannya sama sekali, ia hanya takut tak bisa memeluk ibunya lagi.
"Cantika sudah nak, jangan nangis lagi, mama udah ada di sini, mama akan tinggal di sini bareng kamu seterusnya, mama gak akan keluar kota lagi" Sari menghapus air mata yang berjatuhan di wajah putrinya.
"Yang bener ma" gembira Cantika.
"Iya, mama akan selalu bareng kamu terus di sini, mama gak akan keluar kota lagi, sekarang ayo cepat kita masuk, kamu harus sekolah bukan?" Cantika menganggukkan kepalanya.
"Sekarang kamu siap-siap gih, mama akan buatin kamu sarapan"
"Baik ma" jawab Cantika lalu bergegas mematuhi perintah ibunya.
Cantika mulai bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, setelah selesai bersiap-siap ia menyantap makanan buatan ibunya yang begitu ia rindukan.
"Ma tolong anterin aku ke sekolahan ya, aku pengen hari ini mama yang anterin aku ke sana" titah Cantika setelah selesai makan.
"Iya, ayo capet, ini udah mau siang, nanti kamu telat" Cantika pun bangkit dari duduk ia, ia berjalan keluar dengan menggendong tas di punggungnya.
Cantika masuk ke dalam mobil putih milik almarhum ayahnya yang masih tersisa di saat semua aset di bekukan.
Sari mengantar Cantika hari ini ke sekolahan yang tidak terlalu jauh juga.
Cantika memeluk erat tubuh Ibunya, ia hanya takut tak bisa memeluk ibunya lagi.
Manik mata Cantika menatap sang ibu yang terus fokus mengemudikan mobil.
"Mama, aku gak akan sanggup kehilangan mama, aku gak mau dia bunuh mama, sungguh aku gak rela dia habisin mama" batin Cantika menatap ibunya dengan kesedihan yang mendalam.
"Ma aku sungguh takut ada sesuatu yang terjadi sama mama, aku takut gak bisa peluk mama lagi" batin Cantika khawatir berat.
Tatapan mata Cantika di penuhi kesedihan yang mendalam, namun mulut Cantika tetap bungkam, ia tidak akan bilang apapun pada ibunya agar ibunya tidak khawatir.
Sepanjang perjalanan Cantika hanya memeluk erat sang ibu yang begitu ia sayangi, ia tidak mampu berkata-kata lantaran isi kepalanya di penuhi dengan ragam teror dan ancaman yang dari semalaman mendatanginya.
__ADS_1
Sari tidak merasa curiga sama sekali, ia tidak mikir yang aneh-aneh sama sekali dan terus fokus mengemudikan mobilnya menuju sekolahan Cantika.