Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Identitas mayat yang bersimbah darah


__ADS_3

Angkasa menggeleng cepat."Enggak, aku gak kenal sama dia, aku gak tau siapa dia!"


"Terus gimana ini, apa yang harus kita lakukan, masa kita biarkan dia gitu aja" gelisah Bryan.


"Sebentar aku akan panggil teman-teman ku" Angkasa dengan cepat merongoh saku celananya dan mengeluarkan handphonenya, kemudian menghubungi salah satu di antara mereka.


Drrt


Drrt


Drrt


Hp Clara bergetar, ia mengerutkan alis saat nama Angkasa yang muncul.


"Ngapain Angkasa nelpon aku, apa dia udah dapat informasi tentang Kayla, mungkin aja, aku harus tanya langsung sama dia" Clara dengan terburu-buru mengangkat panggilan tersebut.


"Ada apa sa, apa yang kamu temukan, apa kamu udah dapat informasi tentang Kayla?" ragam pertanyaan di lontarkan oleh Clara.


"Clara aku nemuin mayat!" tutur Angkasa dengan wajah paniknya.


"M-MAYAT, di mana kamu nemu mayat" terkejut Clara sampai-sampai matanya melotot dengan sempurna.


"Di gudang, aku nemuin mayat di dalam gudang terbengkalai itu, kamu cepat ke sini, kamu tolong bantu aku" titah Angkasa.


"Siap aku akan ke sana, kamu tunggu aku di sana" Angkasa membalas dengan anggukan, kemudian ia mematikan sambungan telpon.


"Gimana, dia mau datang ke sini kan?" amat penasaran Rafael.


"Iya, dia akan kemari, sekarang cepat kalian sembunyi dulu, kita jangan terlihat bersama, orang-orang pasti akan curiga sama kita, tunggu aba-aba dari aku!" suruh Angkasa yang bertambah panik.


"Kita akan sembunyi di mana sa, di sini gak ada tempat yang aman, semuanya angker" panik Reyhan yang takut ada orang lain yang memergoki mereka bersama.


"Pokoknya kalian cari tempat sembunyi dulu, yang penting gak boleh ada orang yang lihat kalian di dekat aku" perintah Angkasa.


tap


tap


tap

__ADS_1


Suara langkah kaki seseorang terdengar di telinga mereka.


"Gawat" wajah mereka semua berubah menjadi panik.


"Cepat kalian sembunyi, sebelum ada orang yang liat kalian" perintah Angkasa yang panik.


Dengan panik mereka berlari ke samping gudang, mereka bersembunyi di sana, kebetulan di sana ada semak-semak yang bisa mereka jadikan tempat persembunyian.


Hati Angkasa dag dig dug, ia sulit berkompromi dengan situasi ini.


"Tenang sa tenang" batin Angkasa yang panik, kekhawatiran terpancar dengan jelas di wajahnya, namun ia berusaha untuk tetap terlihat tenang seperti tidak ada sesuatu yang terjadi padanya.


"Sa" teriak Clara berlari mendekati Angkasa yang berdiri di ambang pintu gudang.


"Sini cepetan" titah Angkasa lega karena pada akhirnya orang yang ia tunggu-tunggu datang juga.


"Mana mayatnya, di mana kamu nemuin mayat itu" Clara ingin memastikan kebenaran dari penuturan Angkasa.


"Itu, itu mayatnya" tunjuk Angkasa ke arah mayat siswi yang bersimbah darah.


Mulut Clara ternganga, tak pernah ia sangka kalau di dalam gudang terdapat mayat seorang wanita yang bersimbah darah.


"S-siapa yang meninggal itu" penasaran Clara, ia menatap ke arah Angkasa yang berdiri di sampingnya.


"Sebentar aku akan telpon Rev dulu, biar dia kemari" Angkasa mengangguk, ia berharap dengan kedatangan Rev mereka bisa mengetahui identitas mayat itu.


Dengan cepat Clara menghubungi sepupunya, dia harus tau hal ini.


"Rev tolong datang ke gudang terbengkalai sekarang!" suruh Clara dengan wajah paniknya.


"Kenapa ke sana lagi, ada apa di sana, perasaan tadi di sana gak ada apa-apa deh" heran Rev, padahal baru saja ia dan teman-temannya berada di sana.


"Udah kamu ke sini aja, ada sesuatu di sini, cepat kamu ke sini, jangan lupa kabarin Steven sama Aldo biar mereka ke sini juga" suruh Clara.


"Iya, aku akan kabarin mereka" Clara mengangguk, ia mematikan sambungan telpon dan menunggu kedatangan mereka bertiga.


"Gimana, mereka mau datang ke sini kan!" Clara mengangguk cepat.


"Iya mereka akan segera kemari, sebentar lagi mereka pasti akan datang ke sini" Angkasa pun lega, ia sudah tidak tenang berada di sini lagi, ia ingin mayat itu segera di evakuasi.

__ADS_1


Mereka menunggu dengan was-was di depan gudang, mereka tidak bisa diam sama sekali.


"Clara" teriak Rev, Steven dan juga Aldo.


"Cepat ke sini!" mereka bertiga berlari dengan kencang mendekati Clara.


"Ada apa, kenapa kamu nyuruh kita ke sini lagi?" perasaan Rev tidak tenang saat tiba-tiba Clara memintanya datang kemari lagi.


"Lihat, ada mayat, di dalam gudang itu ada mayat" tunjuk Angkasa.


Tatapan mereka tertuju pada mayat yang terbujur kaku dalam keadaan tubuh yang bersimbah darah, mulut mereka terbuka dengan lebar, mereka terkejut dengan penemuan mayat misterius.


"M-mayat, k-kenapa di sini ada mayat" terbata-bata Steven, matanya sampai tak berkedip saking terkejutnya saat Clara bilang kalau di dalam gudang itu terdapat mayat.


"Mayat siapa itu?" rasa penasaran menghantui Aldo, ia menatap dengan seksama mayat seorang wanita namun sayangnya wajahnya di tutupi rambut dan ada sedikit darah yang telah mengering yang memenuhi pipinya.


Rev menatapnya dengan tanpa berkedip, kakinya melangkah mendekati mayat yang tak bergerak itu.


"Rev hati-hati" peringatan Clara namun Rev tak menggubrisnya, ia terus melangkah mendekati mayat itu.


Rev menghentikan langkah tepat di dekat mayat itu, tanpa rasa takut sedikitpun Rev menyingkirkan rambut yang menutupi wajah mayat tersebut.


Mulut Rev ternganga, matanya melotot dengan sempurna.


"KAYLA!" sebut Rev dengan sangat terkejut, bagaimana tidak, orang yang mereka cari-cari telah tewas dalam keadaan tubuh yang bersimbah darah.


Mendengar nama Kayla yang keluar dari mulut Rev, mereka berempat masuk dan mendekati Rev.


"I-ini Kayla, yang meninggal ini Kayla" ujar Rev yang shock berat, sekali lagi seorang siswi meninggal dunia dengan tragis di sekolahan ini.


Clara menutup mulut tak percaya bahwa Kayla telah tewas sama seperti sahabatnya, Clara menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Tidak mungkin Kayla meninggal, ini pasti orang lain, gak mungkin dia, dia pelakunya, dia gak boleh mati!" Clara masih yakin bahwa Kayla yang telah membunuh sahabatnya, ia tidak percaya bahwa mayat yang terbujur kaku di depannya adalah Kayla.


"Ini Kayla Clara, ini beneran Kayla, dia sudah meninggal!" ujar Aldo.


"Gak, gak mungkin dia Kayla, dia dalangnya, gak mungkin dia mati, ini pasti orang lain" bantah keras Clara.


"Ini beneran Kayla Clara, dia jelas-jelas Kayla, dia bukan dalangnya, mana mungkin dalangnya meninggal, kita salah sangka padanya" pertegas Aldo.

__ADS_1


Kaki Clara lemas, ia terduduk di bawah menatap tak percaya dengan mayat Kayla yang bersimbah darah, darahnya memang sudah mengering, tapi bau amis itu masih saja tercium dengan jelas, selain bau amis bau busuk ikut keluar dari jenazah Kayla.


"Kalau dia bukan pelakunya siapa lagi, siapa lagi orang yang sudah tega bunuh Jia kalau bukan dia!" teriak Clara menetaskan air mata, ia sangat tidak terima sahabatnya di bunuh dengan sangat sadis.


__ADS_2