
"Kita mau cari tau di mana, kita gak tau siapa dalangnya, siapa yang harus kita tanyain?" bingung Steven.
"Kita bisa tanya sama orang-orang yang namanya terdaftar di buku ini" Angkasa menunjukkan buku misterius itu pada mereka.
"Ide bagus, kita bisa tanyain orang-orang yang terdaftar di sana, aku yakin mereka pasti tau, mereka juga pasti tau siapa yang sudah bunuh Jia dan Kayla" setuju Aldo dengan ucapan Angkasa.
"Cepat lihat nama siapa selanjutnya yang akan kita selidiki, kita harus datangi dia sekarang juga, biar pelakunya bisa segera di tangkap" suruh Clara yang tak sabaran.
Angkasa dengan cepat membuka buku misterius itu, ia melihat nama orang setelah Kayla.
"Nama selajutnya setelah Kayla adalah Dyera Erly" sebut Angkasa.
Tiba-tiba mereka diam, mereka tidak mengeluarkan sepatah katapun, Angkasa merasa aneh mengapa mereka semua diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
"Kenapa kalian semua diam, ada apa dengan Dyera Erly, apa kalian gak kenal sama dia?"
"Kami kenal sama dia, cuman gak akrab aja" jawab Steven.
Angkasa mengerutkan alis."Lalu mengapa kalian semua diam setelah dengar nama dia?"
"K-karena dia anak dari kepala sekolah" ujar Aldo terbata-bata.
"Kalau begitu ayo kita temui dia, kita tanyain sama dia, barang kali dia tau alasan kenapa dalang utamanya membunuh Jia dan juga Kayla" ajak Angkasa berharap bisa menemukan titik terang dari permasalah ini.
Mereka semua diam tak bergerak, tak seperti tadi yang semangat dan tak sabaran menyelidiki orang setelah Kayla.
"Kenapa kalian semua diam?" Angkasa menatap mereka yang diam tak bergeming.
"Apa yang kalian pikirkan!" Angkasa merasa aneh, tadi mereka tampak semangat namun mengapa sekarang mereka malah kehilangan semangatnya.
__ADS_1
"Masalahnya Dyera itu kejam, dia terkenal suka bully anak-anak, khususnya yang cewek, kita gak berani berurusan sama dia, karena backingannya kuat, apalagi bapaknya adalah kepala sekolah di sini, makin gak berkutik kita di buatnya" jelas Aldo.
"Masa kalian takut sama dia, walaupun dia anak dari kepala sekolah, kita gak boleh takut, kita harus junjung tinggi keadilan, kita harus usut tuntas masalah ini meskipun berhadapan langsung sama dia" Angkasa tak merasa takut sedikitpun meskipun lawannya adalah seorang anak kepala sekolah.
"Sa Dyera itu kejam, aku gak mau berurusan sama dia, anak-anak di sekolahan ini takut sama dia, selama ini dia semena-mena dalam memperlakukan orang, dia gak bisa di hentikan karena bapaknya kapsek di sini, kalau kita berani macem-macem sama dia, siap-siap kita akan di keluarkan dari sekolahan ini" ujar Clara.
Angkasa pun diam, ternyata musuhnya lumayan berat juga."Terus ini gimana, masa hanya karena lawan kita seorang anak kepala sekolah kita berhenti di tengah jalan kayak gini!"
Tak ada satupun yang berani menyahuti, mereka semua diam, untuk mengambil keputusan mereka harus mikir-mikir dulu.
"Ada apa ini, apa yang kalian bahas" seketika semua mata beralih menatap Rev yang baru datang.
"Ini kita lagi bahas tentang nama-nama orang yang tercantum di buku misterius itu" jawab Steven.
"Terus mengapa kalian semua pada tegang?" heran Rev.
"Bagaimana kami gak tenang karena nama selanjutnya yang kita jadikan target adalah Dyera Erly si anak kepala sekolah" timpal Aldo.
"Kita harus selidiki dia, kita harus pastikan kalau dia terlibat atau enggaknya masalah ini, dengar-dengar dia orangnya kejam dan suka bully anak-anak, bisa jadi dia yang udah bunuh Jia dan Kayla" feeling Angkasa.
"Walaupun memang dia yang sudah bunuh keduanya kita gak akan bisa tangkap dia, backingannya kuat, kita kalau main-main sama dia, nyawa kita yang akan melayang" sambung Aldo.
"Kenapa begitu?" Angkasa semakin tidak mengerti mengapa mereka semua takut berlebihan pada seorang Dyera Erly itu.
"Karena dulu pernah ada seorang murid yang berani macem-macem sama dia, dan gak lama murid itu dia di temukan tewas di rumahnya dalam keadaan kepala yang terpisah dari tubuhnya" jelas Steven.
Angkasa langsung bungkam, ternyata lawannya memang seberat ini."Siapa yang sudah melakukan itu, apa itu Dyera?"
"Jelas itu, Dyera yang sudah membunuhnya, dia menyuruh bodyguardnya untuk bunuh Vidhia" jawab Aldo.
__ADS_1
"Kenapa orang tua Vidhia gak laporin Dyera ke pihak berwajib, itu kan tindakan kriminal, dia harus mendekam di penjara" tak habis pikir Angkasa.
"Gak ada yang berani melakukan itu, kasus kematian Vidhia memang sempat ramai di perbincangkan namun dalam sekejap pihak sekolah menutup kasus itu, dan gak ada satupun yang mengungkitnya lagi, kami cuman cerita masalah ini ke kamu, kamu jangan bilang-bilang sama siapa atau bicarin masalah ini di area sekolahan, karena kalau ada orang yang dengar, nyawa mu yang akan melayang" peringatan Rev.
Angkasa menelan ludah pahit, ia masih sayang dengan nyawanya, ia tidak mau nyawanya melayang hanya gara-gara menyelidiki Dyera.
"Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya, apa iya kita berhenti sampai di sini dan membiarkan kasus ini begitu saja?" Angkasa meminta pendapat mereka.
"Kita akan terus selidiki kasus ini, tapi kita jangan coba-coba mencari tau tentang Dyera, itu sangat berbahaya, untuk sementara ini kita selidiki secara detail tentang Kayla" jawab Rev.
"Rev gimana tanggapan dewan guru tentang penemuan mayat Kayla, gimana reaksi mereka?" penasaran Clara.
"Mereka terkejut, mereka menetapkan kalau pelakunya adalah orang yang sama yang sudah bunuh Jia, pihak kepolisian menduga kalau Kayla sudah meninggal 3 hari yang lalu" jelas Rev.
"Terus gimana dengan perkembangan kasus Jia, apakah pihak kepolisian sudah tau siapa yang bunuh Jia?" Clara ingin tau perkembangan kasus sahabatnya yang masih menjadi misteri.
Rev celingukan menatap ke kanan dan kiri, raut wajahnya tampak serius.
"Ada apa Rev, apa yang kamu cari?" Steven merasa aneh dengan reaksi Rev yang terlihat berjaga-jaga.
"Sstt jangan keras-keras, aku gak mau ada orang yang tau masalah ini" titah Rev menurunkan volume suaranya.
Mereka semua pun diam, mereka penasaran apa yang akan Rev beri tau.
"Bagaimana perkembangan kasus Jia, kamu udah tau kan?" dengan pelan-pelan Clara mengulangi pertanyaannya.
"Kalian tau gak sebenarnya kasus Jia tidak di proses" tutur Rev.
Sontak mereka semua pun terkejut, mereka berpikir bahwa kasus kematian Jia akan di usut tuntas oleh pihak berwajib.
__ADS_1
"Kok bisa gitu!" refleks Clara menaikkan volume suaranya saking terkejutnya.
Dengan cepat Rev membungkam mulut Clara, ia langsung melihat ke kanan dan kirinya takut ada orang yang mendengarnya.