Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Musuh dalam selimut


__ADS_3

Di antara mereka berempat tampak biasa, mereka tidak ada yang sadar kalau Angkasa lagi mengikuti mereka dari belakang.


Angkasa yang sudah berhasil menemukan mereka mengambil hpnya dan menghubungi salah satu teman-temannya.


"Rev aku sudah berhasil menemukan Miranda, dia lagi bersama teman-temannya" ujar Angkasa dengan nada yang sepelan mungkin.


"Kamu ada di mana sekarang, aku akan nyusul kamu ke sana" tak sabaran Rev.


"Aku lagi ngebuntutin mereka dari belakang, aku ngerasa mereka mau ke kantin, kita ketemu di sana aja" jawab Angkasa.


Rev tak membalas, dia malah langsung mematikan sambungan telepon.


Angkasa menaruh ponselnya kembali ke dalam saku, ia dengan cool mengikuti mereka berempat dari belakang dengan berjaga-jaga karena orang yang ada di depannya bukanlah orang biasa.


Mereka berempat masuk ke dalam kantin sekolah yang padat karena banyak anak-anak yang menempatinya.


Angkasa mencari meja yang tak jauh dari posisi mereka berempat duduk, ia melakukan itu agar bisa mendengar perbincangan mereka.


"Mana Rev dan yang lain, kenapa mereka gak ke sini juga, apa mereka masih sibuk nyari Miranda, aku kan udah bilang kalau aku udah nemuin Miranda" batin Angkasa menunggu kedatangan mereka bertiga dengan tidak tenang.


Mata Angkasa selain tertuju pada Miranda dan kawan-kawannya ia juga sesekali melirik ke arah pintu yang banyak sekali anak-anak yang keluar masuk kantin, namun di antara mereka tidak ada satupun yang ia kenali.


Angkasa berdecak kesal, mereka bertiga tak kunjung datang, ia menjadi gelisah tak karuan di sana.


Hati Angkasa lega saat matanya menangkap orang-orang yang tengah ia tunggu-tunggu sejak tadi, Angkasa mengangkat tangannya agar mereka mendekatinya.

__ADS_1


Mereka yang celingukan mencari keberadaan Angkasa di tengah kerumunan akhirnya ketemu juga, mereka bertiga dengan santai mendekati Angkasa, walaupun mereka sudah tidak sabar menyelidiki Miranda namun mereka harus tetap terlihat tenang seperti tidak ada apapun yang mereka rencanakan.


Mereka bertiga duduk di satu meja yang sama dengan Angkasa.


"Kalian dari mana aja, kenapa lama banget, aku udah nunggu kalian di sini sejak tadi" omel Angkasa dengan volume yang pelan.


"Maaf kami lama nyampe di sini, katakan di mana Miranda, katanya kamu berhasil nemuin dia" Steven ingin memastikan apa benar Angkasa memang menemukan Miranda.


"Dia ada di belakang mu, lihatlah itu yang namanya Miranda bukan?" timpal Angkasa.


Mereka bertiga menoleh ke belakang yang terdapat Miranda dan kawan-kawannya yang sedang makan.


Terlihat bahwa mereka berempat sangat senang, tidak ada raut wajah yang berduka sama sekali padahal Dyera telah di nyatakan meninggal oleh pihak sekolahan dan mirisnya Dyera meninggal dengan cara yang sangat tragis.


"Menurut dari pandangan ku mereka gak ada satupun yang sedih, mereka kayak bahagia banget gitu, padahal teman mereka ada yang meninggal, ini aneh loh" Steven merasakan hal yang sama dengan apa yang Rev rasakan.


"Kalau orang normal pada umunya akan sedih kalau dengar sahabatnya meninggal, tapi tidak dengan mereka, mereka malah senang, setau aku mereka selama ini sangat dekat, bahkan mereka bisa aman karena berteman baik dengan Dyera yang kejam dan merupakan anak kepala sekolah itu" timpal Clara.


"Kita amati dulu, semoga saja mereka membuka alasan mengapa mereka terlihat senang" ujar Rev.


Rev dan yang lain masih diam mengamati geng itu yang tertawa bahagia di kantin, di antara mereka berempat tidak sadar bahwasanya ada ketua OSIS dan kawan-kawannya yang sedang mengintai mereka.


"Akhirnya Dyera yang gak guna itu meninggal juga, udah lama kita berusaha buat nyikirin dia dan hari ini kita dengar kalau dia sudah meninggal dunia karena di bunuh" tampak senang Emilia saat salah satu anggota gengnya menghembuskan nafas.


"Iya, kita gak perlu capek-capek ngeluarin tenaga buat bunuh dia, tapi siapa ya yang udah bunuh Dyera, kok aku jadi kepo sama dia?" timpal Gina.

__ADS_1


"Gak penting siapa dia, yang jelas kita harus berterima kasih sama dia karena dia sudah bunuh Dyera, kita udah lama mau nyingkirin dia, tapi baru sekarang ini orang yang kita benci meninggal dunia" sahut Miranda yang gembira sekali saat mendengar bahwa ketua geng mereka mati.


Clara, Rev, Steven dan Angkasa tercengang dengan pembicaraan mereka, mereka tidak pernah menyangka kalau kawan-kawan Dyera selama ini adalah musuh dalam selimut.


"J-jadi mereka semua pura-pura temanan sama Dyera dan sewaktu-waktu akan berniat menghabisi Dyera" terkejut Clara yang tak pernah berpikir bahwa satu geng itu tidak akur.


"Diam dulu, kita dengarin aja apa yang akan mereka bicarain" perintah Rev yang serius mendengar pembicaraan mereka.


"Habisnya Dyera sok jadi ratu sih, kita kan males jadi babunya terus, dia pikir dirinya siapa, mentang-mentang dia anak kepala sekolah main berkuasa seenaknya" jengkel Cantika dengan perlakukan Dyera selama ini.


"Dia memang kayak gitu, sekarang dia tau rasa, kita sekarang bebas gak akan di suruh-suruh lagi sama Dyera, kita gak akan jadi babunya lagi" ujar Miranda.


Mereka semua tampak gembira, sesekali terdengar tawa yang menandakan hatinya bahagia.


"Eh geis kita ini kok jahat banget ya sama Dyera, selama ini kita aman karena berteman baik dengan dia, tapi pada akhirnya kita yang tusuk dia dari belakang" Emilia menyadari kesalahannya yang telah ia dan kawan-kawannya perbuat.


"Mil kita gak akan kayak gini kalau bukan Dyera dulu yang mulai, kamu masih ingat kan saat Dyera hina-hina keluarga kamu yang waktu itu jatuh miskin, kamu gak lupa kan sama kata-kata pedas yang keluar dari mulut dia" Gina mengingatkan kembali Emilia dengan masa lalu yang terbilang cukup menyakitkan.


Emilia mengangguk."Gak akan aku lupakan kejadian itu, sumpah di situ aku down banget, udah ekonomi hancur, eh mental juga ikutan hancur, jujur nih ye saat itu aku udah putus asa dan mau bunuh diri, tapi Cantika langsung nenangin aku dan menghentikan aku yang akan mengakhiri hidup ku sendiri, kalau dia gak datang di waktu yang tepat, mungkin saat ini aku gak akan liat dunia lagi"


Emilia miris kala teringat dengan kejadian pahit yang pernah menimpanya, di saat keadaannya yang hancur malah di buat lebih hancur oleh Dyera, kata-kata pedas yang keluar dari mulut Dyera benar-benar menyakitkan, jika dia di lukai secara fisik dia tidak akan sehancur itu, tapi kalau menyangkut tentang mental dia tidak akan bisa bertahan.


"Nah mangkanya kamu jangan sok-sokan peduli sama nasib Dyera, ingat kamu pernah di hina dan caci maki sama dia, kamu jangan kasihani dia, dia itu kejam, sudah sepatutnya dia meninggal kayak gitu" sambung Cantika.


Emilia tersenyum getir, jika teringat perlakuan Dyera yang menyakiti hati dan juga mentalnya ia akan tega membunuh Dyera dengan kedua tangannya, sungguh apa yang sudah Dyera lakukan padanya benar-benar keterlaluan.

__ADS_1


__ADS_2