Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Akitivitas di pagi hari


__ADS_3

Matahari terbit, cahayanya yang terang mengusir kegelapan.


Semua murid SMA kebangsaan berkumpul di tempat biasa, di depan mereka telah ada para guru yang ingin menginformasikan sesuatu pada mereka, para OSIS pun mendampingi para guru.


"Selamat pagi anak-anak" sapa pak Sudirman dengan wajah ceria.


Udara sejuk dan asri di hutan Pinus membuat mood menjadi bagus, wajah para guru maupun siswa pun ikutan ceria.


"Pagi pak Bu" sahut para anak-anak yang bersemangat.


"Wah semangat sekali kalian rupanya ya" takjub pak Sudirman.


Pak Sudirman senang melihat wajah anak didiknya yang ceria tak seperti biasanya yang lemas tidak bersemangat.


Inisiatifnya membawa mereka camping ke hutan Pinus ternyata membawa dampak positif.


"Bagus kalau begitu, kegiatan di pagi hari ini adalah menyelusuri hutan, sambil menyusuri hutan kalian harus catat apa aja yang kalian temui di hutan. Nanti catatan itu di kumpulin buat tambahan nilai" suruh pak Sudirman.


Dengan senang hati para murid pun setuju, akan mereka laksanakan tugas yang di perintahkan sekolah.


"Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita jalan-jalan di hutan ini, jangan lupa cacat apa saja yang kalian temui" peringatan Bu Susan khawatir mereka lupa.


"Baik Bu" jawab mereka kompak.


"Ayo kita berangkat, ingat jangan sampai ada yang keluar dari rombongan" perintah pak Sudirman.


Para murid pun berjalan mengikuti pak Sudirman yang memimpin jalan, di ikuti para guru yang mengawasi gerak-gerik siswa, khawatir ada yang tersesat selama di perjalanan.


Udara sejuk dan segar di hirup oleh Clara, udara yang sebagus ini tak ia temui di kota. Selama berada di hutan akan Clara manfaatkan betul-betul, supaya ketika kembali ke kota ia tidak lupa momen-momen apapun yang ia lewati.


Sambil menikmati segarnya udara, para siswa baik siswi mencatat apa yang mereka lihat di sekeliling.


Di antara pohon-pohon Pinus yang menjulang tinggi yang rapih dan berjarak-jarak, ada banyak tanaman-tanaman liar pun Angkasa temui.


Tak hanya dari segi flora ada banyak pula fauna yang Angkasa tak sengaja lihat seperti tupai yang melompat-lompat di atas pohon, tak hanya tupai ada pula kelabang, monyet liar yang tak sengaja di temui.


Selain hewan liar ada banyak hewan unik yang di temukan di hutan oleh Angkasa, salah satunya adalah bunglon, hewan yang bisa berubah-ubah warna tergantung hinggap di mana.


Jika berada di tanah warna tubuh bunglon yang semula hijau berubah menjadi coklat, keunikan hewan itu di abadikan oleh Angkasa yang kebetulan membawa camera.


Potretan demi potret Angkasa tangkap, ada banyak hewan yang Angkasa foto selama di perjalanan.


"Gila unik banget hewan ini bisa berubah-ubah" takjub Angkasa melihat bunglon yang menempal pada pohon.


Angkasa mengambil foto berkali-kali, ia juga ngepost foto bunglon di Ig.

__ADS_1


Ribuan fansnya langsung menyerbu lapak Angkasa, memberikan like dan juga komentar.


Saat asik scroll komen tiba-tiba tangan Angkasa terhenti di salah tau komen seseorang yang heboh ketika melihat kalau ia dan Angkasa sama-sama berada di hutan Pinus, walau dia belum tau apakah lokasi Angkasa sama dengannya atau tidak.


Angkasa panik, ia langsung kembali ke layar beranda, tak ingin memberi keterangan di mana lokasinya berada.


"Goblok kenapa aku upload sekarang, kalau ternyata ada yang sadar kalau aku berada di hutan yang sama dengannya gimana, aku akan kena masalah besar"


Angkasa meratapi kebodohannya, ia memukul jidatnya pelan.


Angkasa belum tau pasti siapa yang telah menulis komentar itu namun ada kemungkinan kalau dia murid di SMA kebangsaan yang saat ini lagi berada di hutan yang sama dengannya.


"Angkasa"


Angkasa melihat ke arah seorang gadis yang berdiri di sebelah barat menatapnya yang berada di sebelah timur sendirian.


"Ayo jalan, kenapa diam aja, nanti ketinggalan rombongan mau" ujar Clara.


Angkasa pun berlari menghampiri Clara, jaraknya dan para murid lumayan jauh, Angkasa yang terlalu sibuk dengan hewan bernama bunglon sampai tak sadar kalau ia akan ketinggalan rombongan, untung Clara menyadarkan Angkasa.


"Kamu ngapain di sana, apa yang kamu temuin?" Penasaran Clara pada apa yang Angkasa temukan sampai-sampai Angkasa memperhatikannya dengan seksama.


"Hewan unik, aku baru pertama kali ini liat hewan itu dengan mata kepala ku sendiri" jelas Angkasa.


Clara melontarkan pertanyaan terkait hewan yang Angkasa maksud."Hewan apa, coba aku lihat, kamu sempat foto kan?"


"Owh bunglon toh, dia memang unik, bisa berganti warna menyesuaikan tempat yang ia singgahi"


"Nah mangkanya itu dia unik banget, gak ada hewan yang kayak dia" tak henti-hentinya Angkasa berdecak kagum.


Anak kota yang selama ini di kelilingi pengawal, bodyguard dan para fans itu menjadikan penemuannya sebagai fenomena langka.


Seumur-umur Angkasa tak pernah ke hutan, ia terus di sibukkan dengan dunia entertainment.


Camping di hutan Pinus ada dampak positif yang Angkasa petik, jika sekolahan tidak mengadakan camping Angkasa tidak akan bertemu dengan hewan-hewan unik dan langka.


"Kok udah banyak aja apa yang kamu temuin, aku masih beberapa loh" kaget Angkasa ketika melihat catatan milik Clara penuh dengan tulisan.


"Mangkanya jangan asik foto-foto doang, perhatikan sekeliling biar kamu nemuin hewan-hewan langka yang mungkin bersembunyi" ucap Clara.


"Iya deh"


Angkasa lebih fokus pada sekitarnya yang ia lintasi, sesekali Angkasa memotret pemandangan yang patut ia abadikan.


Angkasa dan Clara yang berada di posisi paling belakang dapat menikmati setiap tempat yang mereka lewati dengan baik.

__ADS_1


Seiring berjalannya waktu hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan yang Angkasa temui mulai banyak, terdiri dari putri malu, kumis kucing, bunglon, tupai, terakhir monyet.


Angkasa menatap ke atas, lalu tatapannya turun ke bawah. Matanya berbinar melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.


"Clara, Clara, Clara liat ada kepiting tanah" tunjuk Angkasa heboh melihat seekor hewan yang memiliki capit seperti kepiting, warnanya hitam pekat berjalan di dekat akar pohon Pinus.


Clara geleng-geleng kepala."Itu kalajengking, bukan kepiting tanah, ada-ada aja kamu ini!"


Shock Clara saat Angkasa menyebut kalajengking dengan sebutan kepiting tanah.


"Mana aku tau, aku gak pernah tau kalau namanya kalajengking. Aku kira dia satu spesies sama kepiting, karena dia punya capit yang sama kayak kepiting aku ngiranya dia kepiting tanah" 


Clara tak habis pikir, Angkasa begitu polos sampai tak bisa membedakan mana kalajengking mana kepiting.


"Bedalah, mana bisa sama" timpal Clara.


"Clara tunggu, jangan pergi dulu, aku mau foto dia dulu buat tambahan tugas" titah Angkasa.


Hanya dehaman balasan Clara, ia menunggu Angkasa yang mendekati kalajengking yang lagi berada di tengah-tengah akar hutan Pinus yang muncul ke permukaan tanah.


Angkasa begitu girang, dia bersikap layaknya anak TK yang baru mengenal para hewan.


"Haduh, ada-ada aja nih anak" geleng-geleng kepala Clara melihat tingkah Angkasa.


Kalajengking yang Angkasa sebut unik telah mampu membuat senyum yang merekah di bibirnya tak kunjung pudar.


"Lucu banget, mirip kepiting" ucap Angkasa.


Clara menunggu Angkasa selesai memandangi kalajengking dengan sedikit kesal.


"Eeeeh jangan di pegang!"


Angkasa yang di teriaki tersentak kaget, niat hatinya yang hendak menyentuh kalajengking pun terpaksa di urungkan.


Dengan terkejut Angkasa berbalik badan menatap Clara sambil bertanda tanya."Kenapa?"


"Jangan, nanti kamu di sengat, kamu jangan sentuh dia, di ujung ekornya memiliki alat penyengat yang bisa bikin siapa saja yang menyentuhnya terluka, bengkak dan lain sebagainya" jelas Clara.


Angkasa menatap kalajengking dengan tak percaya, hewan sekecil kalajengking dapat membuat orang lain terluka ketika menyentuhnya.


"Masa iya di ekornya ada alat penyengat" Angkasa belum percaya seratus persen.


"Bukannya seharusnya di capitnya yang berbahaya kenapa jadi malah ekornya" imbuhnya.


"Bukanlah, capitnya gak berbahaya, yang berbahaya itu ekornya. Udah kamu jangan banyak tanya lagi, ayo kita jalan, liat noh rombongan udah menjauh. Kita harus kejar mereka sebelum ketinggalan jejak" ajak Clara.

__ADS_1


Angkasa pun bangun, mereka berlari mengejar yang lain yang mulai menjauh dan hampir tak terlihat.


Karena kelamaan menatap kalajengking sekali lagi mereka hampir ketinggalan jejak rombongan.


__ADS_2