Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Meringkuk ketakutan


__ADS_3

Clara, Steven dan Angkasa berlari mencari Rev dan yang lain sembari melangkah menuju gedung IPA, mata mereka menatap ke kanan dan kiri mencari-cari Rev, Aldo, Bryan dan juga Rafael di tengah keramaian.


"Kemana mereka semua, apa mereka udah pada berada di gedung IPA" Clara celingukan mencari keberadaan mereka semua yang tak kunjung ketemu.


"Coba kita langsung ke gedung IPA aja, nanti mereka juga akan nyusul kita, sekarang itu yang terpenting kita itu harus sampai di sana sebelum ada apa-apa sama Gina" timpal Steven.


"Ya udah ayo kita buruan ke sana" ajak Angkasa.


Mereka berlari menuju gedung IPA, mereka dengan secepat mungkin menaiki tangga menuju lantai di mana terdapat Gina di sana.


"Gina" kaget mereka melihat Gina duduk di balkon sepi dengan memeluk tubuhnya sendiri.


"Jangan mendekat!" perintah Gina tegas.


Wajah Gina semakin lama semakin memucat, tubuhnya bergetar karena takut.


"Gina kamu kenapa, kenapa kamu takut sama kita" cemas Clara tak mengerti mengapa Gina berubah draktis seperti ini.


"Kamu jangan takut sama kita Gina, kita gak akan apa-apain kamu kok" sahut Steven.


"Iya Gina, kamu jangan takut, kami datang kemari buat lindung kamu, bukan nyelakain kamu" timpal Angkasa.


Tubuh Gina bergetar ketakutan, entah apa yang membuat Gina seperti ini sehingga dirinya berubah draktis.


"Gina katakan pada kami apa yang udah terjadi sama kamu, apa tadi penjahatnya datang kemari, dia bilang apa sama kamu, tolong beri tau kami" Clara berusaha buat berkomunikasi dengan Gina, kakinya perlahan-lahan melangkah mendekati Gina.


"Berhenti! jangan dekati aku, pergi kalian dari sini, aku gak mau ketemu lagi sama kalian" teriak Gina histeris.


Mereka bertiga mengerutkan alis, mereka tak paham dengan Gina yang begitu sangat tidak menginginkan keberadaan mereka di sana.


"Gina apa salah kami, kenapa kamu ngusir kami, apa kami ada salah sama kamu?" tanya Angkasa.


Kepala Gina hanya menggeleng, bibirnya terus bergetar hebat, wajahnya begitu sangat pucat.


"Gina kami mohon jangan usir kami dari sini, percayalah kalau kami itu ingin lindungi kami, kami tidak memiliki tujuan lain, kami hanya ingin kamu tetap hidup" ujar Steven biar Gina tidak takut lagi.

__ADS_1


"Enggak, apapun alasannya kalian pergi dari sini, aku gak mau ketemu lagi sama kalian, pergi, jangan ganggu aku!" teriak Gina terus menerus mengusir mereka bertiga.


"Gimana ini, Gina gak mau kita dekatin, gimana caranya kita jagain dia kalau kayak gini" bingung Angkasa melihat Gina yang terus memeluk tubuhnya sendiri dengan sangat ketakutan.


"Apa yang udah terjadi sama dia, apa saat kita pergi ada yang datang kemari dan ancam Gina yang bukan-bukan sehingga Gina jadi takut sama kita" feeling Steven.


"Mungkin aja, liat aja Gina ketakutan kayak gitu, pasti ada yang udah terjadi sama dia saat kita pergi, gimana ini, apa yang harus kita lakukan, kita gak bisa biarkan Gina gini terus, itu akan bikin dia dalam bahaya, tanpa pengawasan kita, pelakunya akan dengan mudah bunuh Gina" cemas Clara.


Clara takut kali ini ia tidak bisa melindungi Gina, seperti ia gagal melindungi yang lainnya sehingga mereka harus tewas dengan cara yang sangat-sangat sadis.


"Kamu tenang dulu Clara, semuanya akan baik-baik saja, kita jangan gegabah dulu, kita pikirkan solusi dengan kepala dingin" ujar Angkasa.


Meskipun Angkasa telah berusaha untuk menenangkan Clara, namun rasa cemas dan takut itu masih saja mendominasi dan itu terus terlihat dengan jelas di wajah Clara.


"Clara telpon Rev, minta dia datang kemari, dia harus tau hal ini" suruh Steven.


Clara mengeluarkan hpnya kemudian bergegas menghubungi Rev sepupunya.


"Halo ada Clara, apa ada masalah?" tanya Rev di sebrang telpon.


"Cepat kamu ke gedung IPA, ada masalah di sini, ajak yang lain juga" titah Clara tak ingin basa-basi.


Clara, Steven dan Angkasa menunggu kedatangan mereka semua di sana dengan tidak tenang, rasa panik masih terpancar jelas di wajah mereka.


"Kemana mereka semua, kenapa gak datang-datang, mereka pergi kemana coba" gelisah Clara melihat ke bawah yang terdapat halaman sekolah.


Clara mencari batang hidung mereka di tengah banyaknya anak-anak dari berbagai jurusan yang memenuhi halaman sekolah.


"Clara" panggil seseorang.


Seketika Clara langsung menoleh pada siapa yang memanggilnya."Akhirnya kalian datang juga, kalian kemana aja sih, lama banget!"


"Katakan ada masalah apa, semuanya aman kan, gak ada apa-apa yang terjadi sama Gina kan?" panik Rev ngos-ngosan karena habis berlari.


"Gina baik-baik aja, dia gak luka sama sekali, cuman dia kayak lebih ketakutan gitu, dan dia dari tadi terus ngusir kita, kami bingung kenapa dia kayak gini" jelas Clara.

__ADS_1


Pandangan mereka menatap ke arah Gina yang duduk meringkuk dengan memeluk tubuhnya sendiri.


"Rev jangan!" cegah Clara ketika Rev perlahan-lahan mendekati Gina yang lagi ketakutan.


Rev memberi kode melalui tangan biar tak ada satupun orang yang mencoba untuk menghentikannya.


Mereka tegang kala perlahan-lahan Rev berusaha untuk mendekati Gina, mereka khawatir Gina kembali mengusir mereka dari sini.


Dengan perlahan-lahan Rev mendekati Gina yang terduduk di bawah dengan terus menangis ketakutan.


"Semoga Gina gak ngusir Rev, semoga dia gak minta kami pergi" batin Clara cemas, khawatir Gina mengusir mereka lagi.


Rev berhenti tepat di depan Gina yang lagi menangis dengan memeluk tubuhnya sendiri.


Rev berjongkok, ia dengan lembut mendongakkan kepala Gina yang terus tertunduk.


"Gina!" tercekat Rev kala darah keluar dari hidung Gina.


Tak hanya hidung yang berdarah, baju putih yang Gina kenakan telah berubah menjadi merah, tepatnya di area perut.


Gina yang lemas langsung jatuh pingsan, Rev menangkap Gina sebelum dia jatuh ke bawah.


"Gina, Gina bangun, buka mata kamu" Rev berusaha menyadarkan Gina yang kini tubuhnya berlumuran darah.


Mereka yang melihat Gina terluka separah itu langsung berlari mendekati mereka dengan wajah tegang.


"Gina kenapa Rev?" panik Clara.


"Apa yang udah terjadi sama Gina" tercekat Angkasa.


"Kenapa Gina berdarah-darah kayak gini, tadi dia gak begini" kaget Steven.


"Siapa yang udah ngelakuin ini semua sama Gina" tak habis pikir Bryan.


"Sial, dia udah bergerak lebih dulu di bandingkan kita, liat Gina sekarang di buat terluka separah ini sama dia" kesal Aldo.

__ADS_1


"Cepat kita bawa Gina ke rumah sakit, dia harus segera di tangani, dia butuh pertolongan pertama" titah Rafael panik.


Rev menggendong tubuh Gina ala bridal style, dengan panik dan tegang mereka semua membawa Gina ke rumah sakit.


__ADS_2