Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Misteri gadis misterius yang aneh


__ADS_3

Setibanya Angkasa di lapangan ia langsung mencari keberadaan teman-temannya yang katanya berada di sana.


"Itu mereka, aku harus bawa pergi dari sini" Angkasa dengan langkah santai mendekati mereka yang fokus menonton anak-anak yang bermain basket.


Angkasa berhenti tepat di depan teman-temannya yang matanya masih fokus ke depan.


"Ikut aku" ajak Angkasa lalu berjalan meninggalkan lapangan.


Mereka berempat saling menatap, mereka penasaran apa yang ingin Angkasa lakukan, terpaksa mereka pun mau mengikuti Angkasa yang tidak tau akan membawa mereka kemana.


Angkasa membawa mereka ke depan perpustakaan yang memang sepi.


"Ngapain kamu bawa kami kemari, apa yang ingin kamu katakan" satu alis Rafael terangkat, ia penasaran hal apa yang Angkasa lakukan sehingga mengganggu mereka yang tengah fokus-fokusnya menonton basket.


"Aku cuman mau bilang kalau nanti pulangnya aku gak bisa bareng kalian, aku ada urusan, kalian pulang sendiri aja" ujar Angkasa.


"Kamu ada urusan apa, kok kayaknya penting banget" curiga Bryan.


"Pokoknya ada deh, kalian gak perlu tau, nanti kalau pulang ke rumah hati-hati, pastikan jangan sampai ada orang yang ikutan kalian, ingat sekarang kita udah ketahuan kalau kita semua berada di kota ini, jangan sampai media tau kalau kita sekolah di sini, makin runyam nantinya" peringatan Angkasa.


"Iya kita gak akan lakuin itu, ada lagi yang mau kamu bilang?" penasaran Reyhan.


"Gak ada, kalian bisa bebas sekarang, kalian kalau mau balik ke sana lagi silahkan" jawab Angkasa.


"Kamu gak mau ke sana nonton anak-anak latihan basket" tawar Aryan.


"Gak, aku lagi gak mood, sana kalian kalau mau balik ke sana lagi, jangan pikirin aku, aku pasti akan baik-baik aja" suruh Angkasa.


"Ya udah, ayo geis kita kembali ke sana lagi" ajak Rafael.


Mereka berempat melangkah meninggalkan Angkasa yang berada di depan perpustakaan sendiri.

__ADS_1


Angkasa duduk di kursi panjang yang berada di dekatnya, ia mengambil tasnya dan membuka bekal yang sudah bi Ipah berikan padanya.


Angkasa dengan lahap memakan bekal itu sampai habis, setelah sekian lama akhirnya dia bisa mengisi perutnya yang keroncongan, Angkasa menenggak air yang sudah ia bawa, ia lalu menutup kotak bekal itu yang sudah habis dan kembali memasukkannya ke dalam tas.


Angkasa menoleh ke sebelah timur, matanya terkejut saat menangkap ada seorang gadis yang berjalan lurus dengan langkah yang begitu pelan.


"Kok bisa gini" kaget Angkasa yang masih belum ngeh dengan apa yang telah terjadi.


"Perasaan tadi gak ada satupun orang yang lewat di hadapan ku, terus kenapa ada gadis itu di sana, padahal aku udah mastiin kalau gak ada satupun orang di sini" Angkasa merasa aneh, tidak ada orang yang melintas di dekatnya, ia bingung gadis itu lewat jalan mana sehingga bisa berada di sana.


"Aku coba ikutin dia, aku penasaran mau kemana dia, perasaan di sana gak ada kelas" Angkasa beranjak dari tempat duduk, ia dengan pelan-pelan mengikuti gadis itu dari belakang.


Gadis itu sepertinya tidak sadar kalau Angkasa mengikutinya dari belakang, Angkasa berharap dia tidak menyadari agar dia bisa tau tujuan gadis itu.


Kaki gadis itu terus melangkah ke sebelah timur, Angkasa semakin penasaran dengan wajah gadis itu.


"Mau pergi kemana dia sebenarnya, kenapa dia ke sana, sebenarnya di sana ada apa aja, apa ada ruangan lain lagi selain kelas" batin Angkasa yang semakin penasaran.


"Ngapain kamu ngikutin aku!"


Sontak Angkasa terkejut, ia menggigit bibir bawahnya karena kali ini tindakannya malah di ketahui oleh orangnya langsung.


"Aduh gimana ini, aku harus jawab apa, aku gak punya alasan apapun" batin Angkasa yang tercekik dengan keadaan ini.


Gadis itu membalikkan badan menghadap ke arah Angkasa yang panik dan tegang.


"Katakan apa tujuan mu mengikuti ku?" wajah gadis itu sangat serius, tidak ada kata becanda sama sekali di wajahnya.


Angkasa menelan ludah pahit, ia bingung harus memberikan alasan apa yang sekiranya masuk akal dan di terima dengan baik oleh gadis itu.


"Kau penasaran dengan ku?" dengan ragu-ragu Angkasa mengangguk, lidahnya mendadak terasa keluh untuk bisa berhadapan langsung dengan gadis itu.

__ADS_1


Angkasa mendadak menjadi ketar-ketir saat di tatap dengan tajam oleh gadis itu, ia tidak memiliki cara apapun untuk kembali menenangkan keadaan ini.


"Matilah aku, aku sih pake penasaran segala, sekarang aku kena batunya" batin Angkasa yang dag dig dug.


"Ikutlah dengan ku" gadis itu kembali berjalan setelah mengatakan hal itu, wajahnya begitu dingin, Angkasa merasa dia tidak suka becanda.


Wajah Angkasa terkejut dengan tawaran gadis itu, ia mengira gadis itu akan marah karena dia yang mengikutinya dari belakang namun siapa sangka dia malah mengajaknya.


"Kau beneran mengajak ku?" kaget Angkasa dengan apa yang barusan dia dengar.


"Apa di sini ada orang lain selain mu?" seulas senyum terukir di wajah Angkasa, ia langsung mengikuti gadis itu dari belakang.


"Kau akan membawa ku kemana, kenapa ke arah sana, apa di sana ada ruang kelas lagi, setau ku perpustakaan itu adalah ruangan terakhir di lantai 1, selebihnya hanyalah tembok biasa" penasaran Angkasa.


Gadis itu tidak menjawab, ia malah terus melangkahkan kakinya, sedikitpun gadis itu tidak melirik ke arah Angkasa.


"Misterius sekali gadis ini, kenapa aku tanya dia malah diam aja, apa yang dia pikirkan coba, kenapa susah sekali buat bilang segalanya" batin Angkasa sedikit kesal.


Angkasa tak lagi bertanya apapun pada gadis itu, ia hanya terus berjalan mengikutinya, ia yakin cepat atau lambat ia akan tau maksud gadis itu membawanya kemari.


Langkah gadis itu terhenti di jalanan yang terletak di sebelah Utara, dari posisi mereka berdiri, mereka sudah bisa melihat belakang sekolah yang banyak tanaman-tanaman merambat.


"Owh jadi jalanan ini bisa mempermudah datang ke belakang sekolah" Angkasa terkejut, ia tidak pernah berpikir cara gampang ini untuk datang ke belakang sekolah.


"Periksa itu" tangan gadis itu menunjuk ke salah satu tanaman liar yang mau merambat ke lantai sekolahan.


Angkasa menatap gadis itu dengan terkejut, jelas-jelas apa yang dia tunjukkan adalah tanaman liar namun dia masih meminta Angkasa untuk meriksanya.


"Ada apa di bawahnya, kenapa harus mesti di periksa?" penasaran Angkasa.


"Periksa saja, tidak usah banyak bicara" ketus gadis itu yang benar-benar cuek dan dingin.

__ADS_1


__ADS_2