
April dan kawan-kawannya mendekati polisi yang berjejer di lapangan.
"Pak polisi kenapa Jia bisa meninggal?" tak segan-segan April langsung bertanya pada pak polisi itu.
"Iya pak kenapa Jia bisa meninggal, apa yang sudah terjadi sama dia?" tambah Shena yang sudah tak sabaran.
"Kami menduga korban bunuh diri, kami menemukan luka sayat di pergelangan tangan korban" jelas pak polisi.
Sontak mereka yang mendengar penuturan polisi itu ternganga.
"Bunuh diri? Jia bunuh diri kenapa" kaget April.
"Pasti ada masalah sama Jia, gak mungkin Jia bunuh diri tanpa alasan" jawab Shena.
Clara terkesiap ketika tau teman yang selama ini selalu bersamanya di duga bunuh diri, ia yang mulai lemas menarik Angkasa untuk menjauh dari keramaian.
"Kenapa kamu bawa aku ke sini?" Angkasa menatap aneh ketika Clara membawanya ke tempat yang jauh dari kerumunan dan terbilang sepi.
"Sa aku gak yakin kalau Jia meninggal bunuh diri, dia gak seperti itu, dia itu anak yang baik, dia tidak mungkin lakuin hal itu, aku yakin itu!" Clara terus kepikiran dengan ucapan pak polisi yang menyebutkan kalau Jia meninggal bunuh diri.
"Aku juga yakin kalau Jia gak mungkin meninggal karena bunuh diri, tapi kalau dia gak meninggal bunuh diri, mengapa dia bisa meninggal, gak mungkin kan dia meninggal dengan sendirinya?"
"Jangan-jangan Jia meninggal karena ada orang yang sudah bunuh dia!" feeling kuat Clara.
__ADS_1
"Kemungkinan besar memang iya, kalau Jia bunuh diri aku juga masih gak yakin, aku ngerasa pasti ada orang jahat yang sudah lenyapin dia, tapi siapa, siapa sekiranya orang jahat yang sudah tega bikin dia meninggal?" Angkasa berpikir keras, di benaknya tak ada satupun orang yang ia curigai, ia masih baru di sekolahan ini, ia masih belum tau seluk beluk tentang sekolah SMA kebangsaan.
"Perasaan selama ini gak ada tuh orang yang jahat sama Jia, dia anaknya selalu menyendiri, dia gak suka keramaian, biasanya kalau jam istirahat dia berdiam diri di perpustakaan, gak mungkin ada orang yang tega bunuh dia, dia aja gak pernah cari gara-gara sama orang, bahkan dia jarang sekali ngobrol sama orang, aku sendiri yang sudah berstatus sebagai temannya jarang ngobrol sama dia, kita cuman lakuin apa yang kita inginkan saja, aku shock banget dengar kalau dia meninggal dunia!"
Angkasa langsung terdiam, masalah ini cukup serius."Di antara teman-teman di kelas Jia siapa yang kamu curigai, masa kamu gak curiga sama satu orangpun di antara mereka semua, kamu kan temannya, masa kamu gak punya rasa curiga sama sekali?"
Clara menggeleng cepat."Aku gak curiga sama siapapun sa, Jia itu anak pendiam, dia gak punya teman di kelasnya, mana mungkin aku curiga sama salah satu teman sekelas Jia"
Angkasa menghela nafas, Clara benar-benar tidak tau menahu tentang Jia.
"Kalau kamu gak tau apapun prihal Jia, kita akan sulit cari tau siapa pelakunya, kita mau nanya sama siapa lagi, di sekolahan ini hanya kamu teman satu-satunya yang Jia miliki, aku harus nanya sama siapa lagi kalau kamu gak tau apapun tentang Jia" Angkasa ikutan bingung prihal berita yang tengah menggemparkan warga sekolah.
"Aku gak mau tau sa, aku ingin masalah ini di usut tuntas, aku yakin ada apa-apa yang terjadi sama Jia sebelum dia meregang nyawa!" Clara masih yakin ada masalah besar yang di hadapi oleh Jia namun Jia tidak mau bertukar cerita dengannya.
Clara tanpa aba-aba berlari mendekati Jia, ia penasaran sekali dengan insiden apa yang sudah menimpa sahabatnya.
"Jia, Jia kamu kenapa bisa kayak gini, apa yang sudah terjadi sama kamu, bilang sama aku masalah apa yang kamu hadapi, mengapa kamu bisa meregang nyawa, apa benar kamu bunuh diri, tapi kenapa kamu lakuin itu, apa yang terjadi sama kamu" Clara mengeluarkan semua unek-uneknya yang sedari tadi mengganggu pikirannya.
"Clara aku gak bunuh diri, itu semua bohong, aku gak bunuh diri, aku tidak segila itu" ungkap Jia dengan menahan air mata.
"Terus kalau kamu gak bunuh diri kenapa kamu bisa meninggal?" dengan wajah shock Clara menatap wajah Jia yang pucat pasi, terdapat memar-memar di bagian leher Jia.
"A-aku di bunuh, ada orang jahat yang sudah bunuh aku" jelas Jia dengan terbata-bata.
__ADS_1
"S-siapa yang sudah bunuh kamu!" tercekat Clara mendengar penuturan Jia.
Jia langsung menundukkan wajahnya, terasa sangat berat bagi Jia untuk mengatakan siapa yang sudah tega membuatnya meregang nyawa.
"Jia bilang sama aku siapa yang sudah bunuh kamu, aku akan seret dia ke dalam penjara, tidak akan aku biarkan dia berkeliaran bebas setelah berhasil bikin kamu kayak gini!" greget Clara saat Jia tak kunjung menyebutkan pelaku yang sudah membuatnya seperti ini.
Jia mengangkat wajahnya yang masam, ia memutar kepalanya dan menunjuk ke arah kamera kecil yang biasa di sebut cctv.
"Kamu akan tau hanya dengan itu" tangan Jia terus menunjuk ke arah cctv, secara tiba-tiba Jia menghilang dari sana.
"Loh loh loh kemana dia, kenapa dia pergi gitu aja, aku masih belum selesai nanya" panik Clara setelah Jia tak lagi dia lihat.
"Jia, Jia kamu di mana Jia" panik Clara mencari-cari keberadaan Jia di dekatnya.
"Clara-clara Jia udah pergi, dia udah gak ada di sini, kamu jangan nyari dia lagi, percuma!" cegah Angkasa yang melihat Clara panik dengan terus mencari-cari keberadaan Jia.
"Sa temuin Jia, aku mau nanya banyak hal sama dia, aku belum selesai nanya sama dia, aku ingin tau siapa orang jahat yang sudah bunuh dia!" titah Clara yang sudah tak dapat menahan tangisnya, ia ingin segera tau siapa orang jahat yang sudah tega membunuh temannya.
"Iya, kita pasti akan temukan dia, kita akan tangkap dia, sekarang kamu tenangin diri dulu, jangan gegabah, gegabah itu gak baik" Angkasa menangkup pipi Clara, ia menghapus air mata yang berjatuhan tanpa aba-aba.
Clara mengangguk, wajahnya terpancar kecemasan yang luar biasa.
"Aku gak mau tau, orang yang sudah bunuh Jia harus di tangkap, enak aja dia bisa hidup dengan tenang sementara Jia dia bikin meninggal, sampai mati aku gak terima, aku gak terima!" pertegas Clara, sebagai teman dia tidak terima temannya di bunuh dengan sadis.
__ADS_1