
"Jadi itu pelakunya, kenapa kita biarkan dia berada di sini, ayo kita keluar dan tangkap dia lalu bawa dia ke kantor polisi" ajak Bryan yang bersemangat, dia tidak gentar sama sekali walaupun di depan rumah ada seorang penjahat berseragam sekolah.
"Gak usah tangkap dia, biarkan aja dia di sana, kita cuma liatin aja apa yang akan dia lakukan, karena percuma kita keluar dan berusaha buat tangkap dia, dia itu tidak akan bisa kita tangkap dengan mudah, ingat dia itu penjahat, dia pasti membawa senjata tajam, gimana jika nantinya dia akan mencelakai kita, lebih baik kita diem aja dan liatin apa yang akan dia lakukan" larang keras Angkasa.
Jika tak ada teman-temannya di dekatnya mungkin dia bisa saja mendatangi penjahat itu, saat ini Angkasa tidak bisa melakukan tindakan itu karena ia takut penjahat berseragam sekolah tersebut mencelakai kawan-kawannya.
Mereka semua pun diam di tempat, apa yang Angkasa katakan ada benarnya juga, mereka tidak bisa mengambil tindakan itu karena di sini mereka sama-sama pelajar sementara yang menjadi lawan mereka adalah penjahat yang handal.
"Kenapa dia bisa ada di sini, siapa yang sudah membawanya ke sini" Reyhan gelisah, belum apa-apa saja dia sudah gelisah tak karuan.
Berhadapan langsung dengan seorang pembunuh yang handal bukanlah sesuatu yang mudah, ketakutan pasti tersemat di dalam dada mereka semua.
"Angkasa yang sudah bawa dia kemari, dia yang gak hati-hati, mangkanya sampai ada penjahat yang ngikutin dia pulang" jawab Rafael.
"Aku gak tau kalau dia sudah mantau aku beberapa hari ini, aku taunya sekarang, tapi kalian tenang aja, dia gak akan ngapa-ngapain kita, dia cuman ikutin aku aja, dia tidak akan berbuat yang macem-macem" Angkasa menenangkan mereka yang tidak bisa diam.
"Terus apa yang akan kita lakukan saat ini, masa kita diem aja" Bryan rasanya tak bisa diam begitu saja seperti saat ini.
Kekhawatiran terpancar di wajah Bryan, ia sungguh khawatir penjahat itu masuk ke dalam dan membunuh mereka semua.
"Mau bagaimana lagi, kita sementara ini diem aja dulu, dia juga gak ngapa-ngapain kita, selagi dia tidak menunjukkan sesuatu yang membahayakan kita, ya kita diem aja untuk mencari aman" sahut Angkasa.
"Eh liat apa yang akan dia lakukan itu" panik Aryan kala melihat bahwa pria misterius menaiki pagar rumah.
"Sepertinya dia akan berbuat yang tidak-tidak pada kita, cepet panggil satpam, jangan biarkan dia masuk ke sini, dia pasti akan mencelakai kita" heboh Rafael yang tiba-tiba panik saat pembunuh itu menunjukkan sikap yang membahayakan.
Reyhan hendak memanggil satpam yang tengah berada di belakang, mereka lagi makan malam sehingga tidak ada pengawal yang menjaga di depan.
"Tunggu dulu" cegah Angkasa.
"Kenapa lagi sa, kita harus panggil satpam, kita gak bisa diam aja, dia udah bergerak, masa kita diam aja, nanti kalau dia ngapa-ngapain kita gimana" keresahan Reyhan.
"Dia tidak akan bunuh kita kok, kalian tenang aja, liat aja dulu apa yang akan dia lakukan, kalau sekiranya dia melakukan hal yang membahayakan kita baru kita bertindak" jelas Angkasa.
Mereka semua pun menurut, meskipun mereka ketakutan, namun mereka berusaha untuk tetap diam.
Angkasa tampak santai, ia tidak terlihat takut sama sekali, ia tak merasa bahwa penjahat itu akan membahayakan dirinya meskipun saat ini dia nekat masuk dengan memanjat gerbang.
__ADS_1
Penjahat itu mendarat tepat di bawah, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, kemudian berjalan mendekati pintu.
Ding
Dong
Suara bel yang dia bunyikan, mereka makin tercekat, mereka tidak ada yang berani membukakan pintu untuknya, mereka sudah tau bahwa dia bukan orang baik.
"Gimana ini, apa yang harus kita lakukan" panik Aryan.
"Diem aja, nanti dia juga pergi sendiri" ujar Angkasa.
Mereka semua diam, mereka berusaha untuk tak menggubrisnya karena mereka tidak ada yang berani untuk menemuinya.
"Lihat-lihat dia udah pergi" tunjuk Angkasa pada penjahat itu yang pelan-pelan mendekati gerbang dan keluar dari gerbang, setelah itu pergi menjauhi rumahnya.
Mereka semua lega, mereka tadi mengira bahwa dia akan membunuh mereka juga seperti dia membunuh 4 siswi itu.
"Huft untungnya dia udah pergi juga" lega Reyhan saat penjahat itu tak pergi dari rumah ini.
"Tapi apa yang tadi dia bawa, sepertinya dia ngeluarin sesuatu dari tasnya" amat penasaran Bryan.
Angkasa membuka pintu, ia menatap sekelilingnya yang sudah sepi, Angkasa mengambil amplop coklat yang berada di depan pintu dan membawanya masuk ke dalam.
"Apa itu sa" penasaran Bryan.
"Gak tau, ini dari penjahatnya, ayo kita buka" mereka semua setuju, mereka berkumpul di ruang tamu, mereka sangat penasaran isi di dalam amplop coklat tersebut.
"Cepat buka sa" suruh Rafael.
Angkasa dengan hati-hati membuka amplop coklat yang cukup misterius namun mampu membuatnya penasaran.
"Surat, di dalamnya ada surat" ujar Angkasa dengan heboh.
"Coba buka, aku ingin tau apa isi surat itu" perintah Bryan.
Angkasa membuka dan membaca isi surat itu."Jangan ikut campur dalam masalah ini jika kamu tidak mau dalam bahaya"
__ADS_1
Isi surat yang Angkasa baca mampu membuat teman-temannya ternganga.
"I-ini surat peringatan, dia memperingati kamu" terbata-bata Reyhan yang terkesiap dengan pesan singkat yang tertulis dengan rapih di kertas itu.
"Tuh kan apa aku bilang kamu jangan ikut campur dalam masalah ini, liat sekarang dalangnya udah tau, dia juga ngasih peringatan, lebih baik kamu berhenti aja, aku takut nyawa kamu yang melayang" Aryan langsung khawatir dengan nasib Angkasa setelah dalangnya mengirim surat peringatan itu.
"Aku gak bisa berhenti, aku sudah terlanjur, gak cuman aku aja kok yang udah dapat peringatan kayak gini, Clara dan Rev juga sudah dapat surat peringatan dari dalangnya" jawab Angkasa.
"Sa dia ngacem akan bahayain kamu kalau kamu masih ikut campur, lebih baik kamu berhenti aja" titah Reyhan.
"Aku gak bisa berhenti, kalian jangan ikut dalam masalah ini, dia ngasih aku peringatan, aku gak mau kalian juga dalam bahaya karena ikut campur dalam kasus ini, cukup aku aja yang terlibat, jangan kalian" suruh Angkasa.
"Gak, apapun yang terjadi, kami akan ikut, kami tidak akan biarkan kamu sendirian membereskan kasus ini" bantah keras Bryan yang masih kokoh dengan pendiriannya.
Pendirian Bryan tidak gentar sama sekali meskipun dalangnya memberikan peringatan kepada Angkasa.
"Setuju, kita tidak akan berubah pikiran, dari dulu kita selalu bersama, baik suka maupun duka kita juga harus bersama" setuju Rafael yang tidak akan berubah pikiran meski apapun yang terjadi.
Angkasa menghela nafas berat, ia sudah tidak bisa menghalangi teman-temannya untuk tak terjun dalam masalah ini.
"Terserah kalian, aku sudah berusaha buat hentiin kalian, kalau ada apa-apa sama kalian, aku tidak tanggung jawab" penuh penekanan Angkasa biar mereka mikir-mikir dulu untuk terjun bersamanya dalam kasus ini.
"Iya, kita pasti akan tanggung resikonya sendiri kok, kamu jangan khawatir, kami sudah siap dengan segala konsekuensinya" jawab Bryan dengan tegasnya.
"Ya udah sana kalian istirahat gih, besok pagi-pagi sekali kita akan berangkat ke sekolahan" suruh Angkasa.
"Iya" jawab mereka kompak.
Mereka lalu membubarkan diri dari ruang tamu dan masuk ke dalam kamar masing-masing untuk beristirahat.
Angkasa kembali memasuki kamarnya yang ada di lantai 2, ia meletakkan surat itu di atas nakas.
"Mereka tetap gak mau berhenti juga, padahal dalangnya udah ngasih aku peringatan, mengapa mereka tak gentar sama sekali, heran aku" tak habis pikir Angkasa dengan mereka semua yang tidak bisa di ajak kompromi.
"Aku liat aja besok, mungkin aja mereka akan pikir-pikir dulu"
Angkasa merebahkan tubuhnya di kasur, ia memejamkan mata dan langsung masuk ke dalam alam mimpi.
__ADS_1
Bakso yang tadi Angkasa beli tak jadi ia makan karena dirinya yang sudah tidak selera, ia meletakkan bakso itu di dalam kulkas sebelum naik ke lantai 2.