Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Tertabrak


__ADS_3

"Di mana Emilia" Clara mencari-cari keberadaan Emilia.


Tiba-tiba mata Clara berbinar saat melihat seseorang yang menyeberang jalan hendak mendekati sebuah mobil hitam yang menunggunya di seberang.


"Emilia, sa itu Emilia" tunjuk Clara pada gadis yang menyebarang jalan.


Angkasa langsung menatap gadis itu yang menyebrang jalan dengan santai.


"Ayo kita kejar dia" ajak Clara yang senang karena pada akhirnya mereka menemukan Emilia yang mereka cari-cari.


Angkasa melirik ke sebelah timur, wajah Angkasa langsung panik.


"Emilia awaaasss!" teriak keras Angkasa.


Bruukkkk!


Mobil hitam yang melesat dengan cepat menabrak tubuh Emilia dan membuatnya terguling-guling di jalanan.


"Emiliaaaaa" teriak Clara tertegun saat mobil hitam itu menabrak tubuh Emilia tepat di hadapannya.


Clara yang melihat dengan jelas bagaimana mobil hitam itu menabrak Emilia langsung terduduk di bawah dengan lemas, ia yang sedari tadi berusaha mencari Emilia dan akan berniat untuk melindungi, sekarang apa yang dia lakukan gagal total.


Kepala Emilia menghantam trotoar, darah langsung memenuhi wajahnya.


Anak-anak yang berada di lokasi berteriak histeris saat melihat dengan jelas bagaimana mobil hitam itu menabrak tubuh Emilia sampai Emilia terluka separah itu.


Angkasa langsung berlari mendekati tubuh Emilia yang berada di seberang jalan dengan kondisi tubuh yang bersimbah darah.


"Emil, mil bangun mil, buka mata kamu mil" Angkasa berusaha membangunkan Emilia yang baru saja di tabrak oleh mobil hitam misterius.


Tak ada pergerakan sama sekali Emilia, Emilia tidak bergerak sama sekali.


Angkasa membalikkan tubuh Emilia, saat di balik kondisi wajah Emilia penuh dengan darah, darah terus keluar dari hidung, telinga bahkan mulut.


Anak-anak yang berada di dekat Angkasa mengalihkan pandangan, mereka begitu takut, baru kali ini bagi mereka melihat korban kecelakaan yang terluka cukup parah.


"Mil, buka mata kamu mil" Angkasa terus berusaha buat membangunkan Emilia yang memejamkan mata.


Angkasa di kepung oleh anak-anak yang sama-sama penasaran dengan keadaan Emilia yang kecelakaan di depan sekolahan.

__ADS_1


Rev yang mengetahui bahwa Emilia tertabrak di depan sekolah langsung berlari menerobos kerumunan.


"Minggir, minggir dulu" titah Rev dengan panik.


Anak-anak menyingkir, mereka memberi Rev jalan untuk masuk ke dalam kerumunan.


"Gimana sa, gimana dengan Emilia?" Rev panik kala melihat wajah Emilia yang penuh dengan darah.


"Dia gak bergerak Rev, dia gak merespon" jawab Angkasa panik.


Rev memeriksa denyut nadi Emilia, seketika ekspresi wajahnya berubah total.


"Gimana Rev keadaan Emilia, dia baik-baik saja bukan?" Steven yang mendengar bahwa Emilia tertabrak di depan sekolah langsung masuk ke dalam kerumunan, ia juga melihat Rev masuk ke dalam kerumunan.


"Emilia sudah meninggal dunia" jawab Rev.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun" mereka semua yang berada di lokasi menyebut kalimat istirja'.


Mereka shok berat, tadi pagi Cantika yang tewas, sekarang giliran Emilia yang tewas dengan mengenaskan.


Angkasa membawa Emilia yang ada di pangkuannya dengan tatapan penuh kegagalan, sedari tadi ia berusaha untuk bisa menyelamatkan Emilia, tapi pada akhirnya ia mengalami kegagalan.


Salah satu siswa yang berada di sana menelpon ambulance agar jenazah Emilia di evakuasi.


Supir Emilia menghubungi kedua orang tua Emilia terkait peristiwa kecelakaan yang menimpa Emilia saat ini.


Rev tak sanggup berada di dalam kerumunan, dadanya terasa sesak saat di kempung seperti itu, ia memilih keluar dari saja.


Pandangan Rev jatuh pada Clara yang masih tertunduk lemah di depan gerbang, lantas ia kemudian mendekati Clara.


"Rev gimana keadaan Emilia?" dengan air mata yang sesekali mengalir Clara menatap Rev yang berdiri di sampingnya.


Rev menghembusakan nafas berat."Emilia tewas di tempat, dia sudah gak ada, dia sudah meninggal dunia"


Tangis Clara kembali pecah, jarak antara kematian Cantika dan Emilia sangat-sangat dekat, Clara shock berat dengan kematian siswi yang terus saja terjadi di SMA kebangsaan ini.


"Rev kita gagal, dia keburu meninggal" tangis Clara yang menyesal bahwa dia tidak bisa menyelamatkan Emilia.


"Clara kita udah berusaha, kita sudah berusaha dengan sekeras mungkin, namun jika takdir berkata lain apa yang bisa kita lakukan, kita ini juga sama-sama manusia, prihal takdir semuanya hanya yang di atas yang ngatur" Rev menenangkan Clara yang menangis di sana.

__ADS_1


Clara masih terpukul, ia menangis karena tak bisa menyelamatkan nyawa Emilia.


"Ayo bangun, kamu jangan nangis di sini, kamu harus kuat, jangan mudah rapuh kayak gini, perjalanan kita masih panjang, kamu jangan lemah, kamu harus kuat" Rev mengulurkan tangannya pada sepupunya yang memang cengeng dan egois, namun aslinya hatinya lembut.


Clara menerima uluran tangan Rev, Rev menghapus air mata yang mengalir di wajah Clara.


"Udah jangan nangis lagi, kamu harus tegar, kamu jangan cengeng" tutur Rev.


Clara hanya mengangguk, pikirannya berkecamuk, selain sahabat terbaiknya yang meninggal, kini pembunuh itu satu persatu membunuh orang-orang yang tak berdosa yang semakin membuatnya tambah kacau.


"Ayo kita dekatin mereka, kita harus bantu mereka, mereka lagi sibuk di sana" ajak Rev.


Clara tanpa bicara mengikuti Rev dari belakang, Rev menyebrang jalan dengan meminta para mobil-mobil dan motor-motor yang akan melintas berhenti ia memberi kode dengan tangannya sehingga kendaraan-kendaraan itu berhenti.


Rev tidak akan membiarkan dirinya dan juga sepupunya bernasib sama dengan insiden naas yang menimpa Emilia.


Clara dan Rev mendekati kerumunan yang semakin lama semakin banyak saja anak-anak yang menonton Emilia yang kini sudah tewas.


Aldo dan personil band Amanda memblokir jalan, mereka tidak akan membiarkan kendaran ada yang melintasi jalanan di mana Emilia menghembuskan nafas, itu mereka lakukan agar tidak ada korban lagi yang tewas di sana.


"Mana ambulance, kenapa belum sampai juga!" Steven yang panik tak bisa tinggal diam lagi, jenazah Emilia harus segera di evakuasi.


"Itu dia ambulancenya" salah satu siswi menunjuk ke arah ambulance yang mendatangi mereka.


"Ambulancenya udah datang sa" ujar Steven.


Angkasa yang mendengar hal itu langsung menggendong tubuh Emilia ala bridal style, ia menggendong tubuh Emilia menuju ambulance.


"Tolong pak, tolong teman saya" titah Angkasa.


Para petugas langsung mengambil alih, mereka membawa jenazah Emilia masuk ke dalam ambulance.


"Ayo cepat kita ikuti ambulance itu" ajak Rev.


Mereka semua berlari menuju mobil Rev yang berada di parkiran, mereka tidak mau kehilangan jejak ambulance yang di dalamnya terdapat Emilia.


Angkasa, Steven, Clara dan Aldo masuk ke dalam mobil Rev, Rev dengan secepat kilat langsung mengikuti mobil ambulance dari belakang, ia tidak mau kehilangan jejak ambulance.


"Kejar dia Rev, jangan biarkan dia pergi, kita jangan sampai kehilangan jejak ambulance itu" suruh Aldo.

__ADS_1


Rev tak menjawab, ia menancap gas mengikuti ambulance yang jaraknya lumayan jauh.


__ADS_2