
Sesampainya di lokasi di mana ada banyak para murid yang berkumpul menjadi satu.
Tugas-tugas dari setiap orang di suruh di kumpulan menjadi satu. Para OSIS di perintahkan untuk mengambil tugas para murid.
Buku catatan itu semua di pegang oleh wali kelas masing-masing untuk di nilai sesuai dengan apa yang telah mereka temukan sepanjang perjalanan menuju lokasi.
"Anak-anak terima kasih atas partisipasinya, tugas-tugas kalian semua ini akan menjadi tanda kalau di hutan ini ada banyak tumbuhan-tumbuhan dan juga hewan-hewan yang gak ada di kota dan patut di jaga serta di lestarikan agar tidak punah" ucap pak Sudirman.
"Sekarang kita kembali ke tenda lagi, pembelajaran berakhir sampai di sini, nanti malam akan ada kegiatan lain yang pastinya cukup menantang. Kalian di minta untuk siap-siap. Gunakan waktu rehat dengan baik ya"
"Iya pak" sahut para murid.
"Ayo kita pulang ke tenda lagi" ajak pak Sudirman.
Semua murid pun setuju, mereka belum mengisi perut, mereka setuju untuk kembali ke tenda karena mereka ingin membuat makanan agar perut berhenti berbunyi.
Makanan-makanan instan mereka bawa, takut sewaktu-waktu mereka lapar di tengah malam.
Pihak sekolah sudah menyiapkan konsumsi mereka selama mereka tinggal di hutan, konsumsi itu di pesan secara online dari sebuah rumah makan yang terletak di pinggir jalan.
Sebelum mereka masuk ke jalanan menuju hutan yang banyak di tumbuhi pepohonan, di seberang jalan di bangun sebuah rumah makan. Mereka memesan makanan dari sana, selain enak makanan di sana juga terjangkau.
Angkasa terpisah dari rombongannya, ia berjalan di paling belakang, malas untuk berdesak-desakan.
Angkasa ingin menikmati segarnya udara sambil sesekali melihat hutan yang banyak pohon-pohon Pinus yang tumbuh rapih.
Sesekali Angkasa memotret berbagai tempat untuk ia simpan sebagai kenangan-kenangan.
Tiba-tiba tali sepatu Angkasa terlepas, Angkasa jongkok dan menali sepatu.
Rombongan SMA kebangsaan terus berjalan meninggalkan Angkasa yang terpaksa berhenti karena harus membenarkan tali sepatu.
Ketika tali sepatu Angkasa sudah di benarkan, Angkasa mendongak menatap sekeliling.
Wajahnya langsung memucat, Angkasa panik karena rombongannya mendadak menghilang padahal waktunya menali sepatu tak sampai 3 menit.
Anehnya rombongan Angkasa menghilang secepat itu dan kini tersisa dia di tengah lebatnya pepohonan sendirian.
__ADS_1
"Di mana semua orang"
"Kenapa mereka semua pada pergi"
"Clara, Rev"
Teriakan keras Angkasa lakukan, di tinggal sendiri di tempat sepi tiba-tiba Angkasa menjadi ketakutan.
Mata elangnya menatap sekeliling tapi tetap tak ada siapapun, hanya pohon-pohon Pinus yang ia jumpai, tak ada manusia yang berkeliaran.
"Aldo, Steven kalian semua di mana" jerit Angkasa lagi.
Angkasa mengigit jari dengan keras."Kenapa aku bisa ada di sini, di mana semua orang, kenapa mereka ninggalin aku"
Kepanikan memenuhi wajah Angkasa.
"Tolong, siapapun tolong aku"
Tak ada sahutan, tempat itu sepi, hanya suara hewan-hewan kecil yang memecah keheningan.
Angkasa berbalik menghadap ke belakang, jantungnya seakan meloncat kala gadis misterius tiba-tiba berdiri tepat di depan muka dengan tatapan mata seperti akan menerkam Angkasa.
Ludah pahit Angkasa terpaksa telan, kini ia sadar apa yang telah terjadi dan ini ada kaitannya dengan gadis misterius yang lagi sinis-sinisnya.
"Kau, kenapa kau bisa ada di sini?" Terbata-bata Angkasa gugup ketika berhadap-hadapan dengan gadis misterius.
"Tutup mulut mu!" Hardik gadis misterius dengan nada tinggi.
Bibir Angkasa terbungkam, gadis misterius itu tak ingin di ajak basa-basi.
"Kenapa dia marah, apa dia marah karena aku gak langsung tepati janji ku tadi malam" batin Angkasa menerka-nerka.
Gadis misterius itu terlihat marah besar, kemungkinan besar faktor pemicunya karena Angkasa lambat melaksanakan apa yang dia minta.
"Oke aku minta maaf karena aku gak langsung cari kamu, jujur aku bukannya gak mau bantu kamu, tapi tadi aku harus ikut kegiatan pagi yang di laksanakan oleh sekolah, mana mungkin aku gak ikut. Aku yakin kamu pasti ngerti posisi ku" Angkasa mencoba menjelaskam secara lembut.
Berkata keras bukan menyelesaikan masalah malah akan menambah masalah.
__ADS_1
"Aku tidak butuh penjelasan mu, yang ku butuhkan janji mu, sekarang tepati janji mu!" Tagih sosok itu tak sabaran.
Angkasa menghembus nafas, gadis misterius benar-benar tak bisa di ajak kompromi. Di baikin dia bukannya makin baik malah makin ngotot.
"Oke, sekarang aku akan selesaikan masalah mu dengan Ester. Tapi kamu harus tunjukin di mana Ester berada" syarat Angkasa.
Tanpa menjawab gadis bernama Ariana berjalan ke sebelah barat.
Angkasa mengerutkan alis, bingung apa yang ingin gadis misterius lakukan.
"Kenapa dia malah ke sana, aku minta dia nujukin tempat Ester berada, tapi kenapa dia malah pergi ke sana?"
Di tengah kesunyian Angkasa di buat bingung, sikap gadis misterius lagi-lagi tak dapat ia tebak.
"Apa mungkin dia mau nujukin di mana pujaan hatinya berada"
"Kalau begitu aku tinggal ikuti saja dia, aku yakin dia akan bawa aku tempat yang aku mau"
Kaki Angkasa melangkah mengikuti gadis misterius yang terus berjalan lurus ke sebelah barat tanpa tolah-toleh sedikitpun.
Obrolan terhenti, mulut keduanya terkunci rapat, Angkasa punya banyak topik yang bisa ia keluarkan untuk mengusir keheningan. Namun gadis di depannya bukan gadis periang yang langsung menanggapi pertanyaannya.
Sifat cueknya membuat Angkasa mengurungkan niat. Angkasa hanya fokus mengikuti tanpa mengajukan pertanyaan sedikitpun.
Puluhan pohon-pohon Pinus mereka lintasi, Angkasa makin bingung mengapa gadis itu membawanya masuk ke dalam hutan.
Sembari berjalan Angkasa sambil melihat kanan dan kiri, waspada khawatir ada hewan buas yang mengancam nyawa.
Tiba-tiba langkah gadis itu terhenti, terhenti di sebuah tempat, di tempat itu berdiri 2 tenda, berwarna jingga dan merah.
"Apa di sini tempat Ester piknik?" Tanya Angkasa.
Kepala gadis misterius mengangguk, mulutnya seakan terkunci, namun matanya tertuju pada dua orang laki-laki dan perempuan yang tengah membakar ikan yang mereka bawa dari kota sebagai sarapan pagi hari ini. Sesekali kedua couple itu bercanda ria, tertawa lepas tanpa beban.
Ariana yang melihat kedekatan mereka menitihkan air mata, bibirnya tak bergeming tapi dapat di lihat jika hatinya hancur lebur melihat adegan series di depan matanya sendiri. Apalagi yang menjadi pemeran adalah kekasihnya Ester dan juga Katya, orang yang sudah melenyapkannya.
Angkasa melirik Ariana yang sesekali menitihkan air mata, Angkasa terenyuh, walau tak mengalami tapi Angkasa dapat merasakan bertapa hancurnya hati Ariana saat ini.
__ADS_1